Rabu, Januari 21

ALAT-ALAT KESEHATAN / KEBIDANAN DI KAMAR BERSALIN ATAU KAMAR KURET


ALAT-ALAT KESEHATAN / KEBIDANAN DI KAMAR BERSALIN ATAU KAMAR KURET (PART 2)


D.    PERSALINAN DENGAN BALON KATETER


Persalinan dengan menggunakan balon kateter foley merupakan alternatif lain di samping pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks dan induksi persalinan.
Cara kerja : dengan adanya cairan yang membentuk balon membuat penekanan pada serviks sehingga merangsang terjadinya kontraksi.
Tidak boleh dikerjakan pada kasus perdarahan antepartum, ketuban pecah dini atau infeksi, pertumbuhan janin terhambat.
Tehnik:
1.       Pasang spekulum pada vagina
2.       Masukkan kateter Foley pelan-pelan melalui servik dengan menggunakan cunam tampon.
3.       Pastikan ujung kateter telah melewati osttium uter internum
4.       Gelembungkan balon kateter dengan memasukkan 10 ml air
5.       Gulung sisa kateter dan letakkan dalam vagina
6.       Diamkan kateter dalam vagina sampai timbul kontraksi uterus atau maksimal 12 jam
7.       Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkannya dan kemudian lanjutkan dengan infus oksitosin.
 
 E.     PEMBERIAN OBAT MELALUI VAGINA DENGAN CAIRAN IRIGASI
1.      Pengertian
Irigasi vagina merupakan suatu prosedur membersihkan vagina dengan aliran air yang pelan.
Pemberian obat melalui vagina dengan cairan irigasi merupakan cara pemberian obat dengan membersihkan vagina dengan aliran air atau cairan obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks.
2.      Indikasi
a.       Pasien dengan vagina yang kotor
b.      Pasien dengan radang vagina
c.       Persiapan tindakan pembedahan jalan lahir
d.      Post partum dengan lochea yang berbau
3.      Kontra indikasi
a.       Menstruasi
b.      Khusus pada pasien partus, antara lain :
1)      Perdarahan
2)      Plasenta previa
3)      Ketuban pecah dini
4)      Persalinan preterm

4.      Alat-Alat Yang Digunakan
a.       Irigator dengan selangnya.
b.      Kanula vagina steril dalam tempatnya.
c.       Sarung tangan.
d.      Standar infus, bila perlu.
e.       Obat cairan yang diperlukan, dalam tempatnya.
f.       Bengkok (nierbekken).
g.      Pispot.
h.      Alat bokong.
i.        Selimut.
j.        Kapas sublimat
k.      Klem
l.        Sampiran (schrem) 
5.      Persiapan pasien
a.       Identifikasi klien dengan tepat dan tanyakan nama
b.      Jaga privasi dan mintalah klien untuk berkemih terlebih dahulu
c.       Atur posisi klien berbaring supinasi dengan kaki fleksi dan pinggul supinasi eksternal
d.      Tutup dengan selimut mandi dan ekspose hanya pada area perinea saja


F.     ASUHAN IBU DENGAN ABORTUS
1.      Pengertian
a.       Abortus inkompletus
Abortus inkompletus adalah keguguran tidak lengkap dengan sebagian hasil konsepsi masih tersisa di dalam rahim, usia kehamilan 20 minggu, berat janin <500 gram.
Abortus Inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kondisi servikalis (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, hal : 148).
Abortus Inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal di dalam uterus (Ilmu Kebidanan, hal : 307).
b.      Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu. Penyebab anormali kromosom parenteral, gangguan trombofilik pada ibu hamil dan kelainan struktural uterus.
c.       Missed Abortion
Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.
Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormon progesterone. Pemakaian Hormon progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed abortion.
2.      Tanda dan Gejala Abortus
a.      Abortus Inkompletus
1)      Nyeri perut hebat dan mulas-mulas
2)      Perdarahan yang bisa sedikit atau banyak dan biasanya berupa stosel (darah beku)
3)      Pembesaran uterus sesuai dengan masa kehamilan
4)      Sudah ada keluar fetus / jaringan
5)      Pada pemeriksaan VT didapatkan hasil : kanalis servikalis terbuka, dapat diraba jaringan dalam rahim atau di kanalis servikalis, perdarahan berlangsung terus menerus
b.      Abortus Habitualis
1)      Amenorea
2)      Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat
3)      Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
4)      Rasa nyeri atau kram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus
5)      Pada pemeriksaan VT didapatkan hasil : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum Douglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.
c.       Missed Abortion
1)      Tanpa ada rasa nyeri perut hebat dan mulas-mulas
2)      Amenorea dan pPerdarahan yang bisa ada juga bisa tidak
3)      Payudara terasa mengecil
4)      Hilang tanda-tanda kehamilan
5)      Berat badan ibu menurun
6)      Besar uterus lebih kecil dari masa kehamilan
7)      Pada pemeriksaan VT didapatkan hasil serviks tertutup dan ada darah sedikit
3.      Penatalaksanaan
a.      Abortus Inkompletus
1)      Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler atau misoprostol 400 mg per oral.
2)      Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan :
a)      Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia.
b)      Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu).
3)      Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:
a)      Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan kecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi
b)      Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mg)
c)      Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.
4)      Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.
b.      Abortus Habitualis
1)      Memperbaiki keadaan umum
2)      Pemberian makanan yang sempurna
3)      Anjuran istirahat cukup banyak
4)      Larangan koitus dan olah raga.
5)      Terapi dengan hormon progesteron, vitamin, hormon tiroid, dan lainnya mungkin hanya mempunyai pengaruh psikologis.
6)      Bila dijumpai serviks inkompeten pada kehamilan maka dilakukan tindakan operasi untuk menguatkan ostium uteri internum (usia kehamilan 12 minggu)
Tindakan untuk mengatasi inkompetensi serviks yaitu dengan penjahitan mulut rahim yang dikenal dengan teknik Shirodkar Suture atau dikenal juga dengan cervical cerclage atau pengikatan mulut lahir
c.       Missed Abortion
1)      Karena sering plasenta melekat maka penanganan harus di rumah sakit
2)      Periksa kadar fibrinogen atau test perdarahan dan pembekuan darah sebelum tindakan kuretase.
a)      Bila normal jaringan konsepsi dapat segera dikeluarkan, tetapi bila kadarnya rendah (7gr/dl (anemia) atau dicurigai adanya infeksi
b)      Tubektomi Segera Sesuai untuk pasangan yang ingin menghentikan fertilitas, jika dicurigai adanya infeksi, tunda sampai keadaan jelas. Jika Hb kurang dari 7g/dl, tunggu sampai anemia telah diperbaiki. Sediakan metode alternatif seperti kondom.
4.      Alat-Alat Yang Digunakan


G.    ASUHAN IBU DENGAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU
1.      Pengertian
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi terjadi di luar rongga uterus.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar kavum uteri.
Sering disebut juga kehamilan ekstrauterin. Penyebutan ini kurang tepat, karena kehamilan pada cornu uteri atau serviks uteri (intrauterin) juga masih termasuk sebagai kehamilan ektopik.
Menurut Taber (1994), kehamilan ektopik adalah gestasi diluar kavum uteri. Kehamilan ektopik merupakan istilah yang lebih luas daripada kehamilan ekstrauterin, karena istilah ini mencakup gestasi pada pars interstisialis tuba, kehamila kornu (gestasi pada kornu uteri yang rudimenter), dan kehamilan servikalis (gestasi dalam kanalis servikalis) dan juga kehamilan abdominal, kehamilan ovarial dan kehamilan tuba.
Menurut Mansjoer (1999), kehamilan ektopik adalah implanttasi dan pertumbuhan hasil konsepsi diluar endometrium kavum uteri.
Menurut Manuaba (1998), terdapat dua pengertian yang perlu mendapat perhatian, yaitu kehamilan ektopik adalah kehamilan yan berimplantasi diluar endometrium normal dan kehamilan ekstrauterin adalah kehamilan yang berimplantasi diluar uterus. Dengan pengertian ini maka kehamilan pada pars interstitial tuba dan kehamilan pada servikal termasuk kehamilan ekstrauterin, tetapi mempunyai sifat kehamilan ektopik yang sangat berbahaya.
Menurut Winkjosastro (2002), kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
Menurut Saifuddin (2000), kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri. Sedangkan kehamilan ektopik tergangguialah kehamilan ektopik yang mengalami abortus atau rupture apabila masa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi (misalnya : Tuba).
2.      Etiologi
Menurut Manjoer (1999), etiologi kehamilan ektopik antara lain :
a.       Faktor Tuba
1)      Salpingitis karena perlekatan tuba
2)      Kelainan kongenital tuba
3)      Pembedahan sebelumnya
4)      Endometriosis
5)      Tumor yang mengubah bentuk tuba
6)      Kehamilan ektopik sebelumnya
b.      Kelainan Zigot
1)      Kelainan kromosom
2)      Malformasi
c.       Faktor Ovarium
1)      Migrasi luar ovum (perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya)
2)      Pembesaran ovarium
3)      Unextruded ovarium
4)      Penggunaan hormon eksogen (estrogen) seperti pada kontrasepsi oral
 d.      Faktor lain
1)      Aborsi tuba
2)      Pemakaian IUD
3.      Macam-macam
Menurut Taber (1994), macam-macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya antara lain :


a.       Kehamilan Abdominal
Kehamilan/gestasi yang terjadi dalam kavum peritoneum (sinonim : kehamilan intraperitoneal)
b.      Kehamilan Ampula
Kehamilan ektopik pada pars ampularis tuba fallopii. Umumnya berakhir sebagai abortus tuba.
c.       Kehamilan Servikal
Gestasi yang berkembang bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dalam kanalis servikalis uteri.
d.      Kehamilan Heterotopik Kombinasi
Kehamilan bersamaan intrauterine dan ekstrauterin.
e.       Kehamilan Kornu
Gestasi yang berkembang dalam kornu uteri.
f.       Kehamilan Interstisial
Kehamilan pada pars interstisialis tuba fallopii.
g.      Kehamilan Intraligamenter
Pertumbuhan janin dan plasenta diantara lipatan ligamentum latum, setelah rupturnya kehamilan tuba melalui dasar dari tuba fallopii.
h.      Kehamilan Ismik
Gestasi pada pars ismikus tuba fallopii.
i.        Kehamilan Ovarial
Bentuk yang jarang dari kehamilan ektopik dimana blastolisis berimplantasi pada permukaan ovarium.
j.        Kehamilan Tuba
Kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba fallopii.

4.      Patogenesis
Menurut Manuaba (1998), dengan terjadinya implantasi di dalam lumen tuba dapat terjadi beberapa kemungkinan, antara lain :
a.       Hasil konsepsi mati dini.
1)      Tempatnya tidak mungakin memberikan kesempatan tumbuh kembang hasil konsepsi mati secara dini.
2)      Karena kecilnya kemungkinan di resorbsi.
b.      Terjadi Abortus.
1)      Kesempatan berkembang yang sangat kecil menyebabkan hasil konsepsi mati dan lepas dalam lumen.
2)      Lepasnya hasil kondepsi menimbulkan perdarahan dalam lumen tuba atau keluar lumen serta bentuk timbunan darah.
3)      Tuba tampak berwarna biru pada saat dilakukan operasi.
c.       Tuba fallopii pecah.
a)       Karena tidak dapat berkembang dengan baik maka tuba dapat pecah.
b)       Jonjot Villi menembus tuba, sehingga terjadi rupture yang menimbulkan timbunan darah ke dalam ruangan abdomen.
c)       Rupture tuba menyebabkan hasil konsepsi terlempar keluar dan kemungkinan untuk melakukan implantasi menjadi kehamilan sekunder.
d)      Kehamilan abdominal dapat mencapai cukup besar.
5.      Penanganan
a.       Histerktomi
b.      Laparoskopi
c.       Kuret
d.      Tindakan Bidan
Menurut Manuaba (1998), kehamilan ektopik terganggu merupakan masalah klinis yang memerlukan penanganan spesialis, sehingga rujukan merupakan langkah yang sangat penting. Dengan gambaran klinis kehamilan ektopik terganggu, kiranya bidan dapat menegakkan diagnosis kemungkinan, sehingga sikap yang diambil adalah segera merujuk penderita ke Puskesmas, Dokter atau langsung ke Rumah Sakit.

H.    ASUHAN IBU DENGAN EKLAMPSIA
1.      Pengertian
Eklamsia kelainan akut pada ibu hamil, saat persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre eklamsia (Hipertensi, oedema, proteinuria).
Eklamsia adalah suatu komplikasi kehamilan yg ditandai dengan peningkatan TD  (S > 180 mmHg, D > 110 mmHg), proteinuria, oedema, kejang dan/atau penurunan kesadaran.
Eklampsia adalah akut dengan kejang coma pada wanita hamil dan wanita dalam nifas disertai dengan hipertensi, edema, dan proteinuria. (Obsetri Patologi ; UNPAD).
Eklampsia adalah suatu keadaan dimana didiagnosis ketika pre eklampsia memburuk menjadi kejang (Helen Varney ; 2007).
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan yaitu eklampsia adalah suatu keadaan dimana pre eklampsia tidak dapat diatasi sehingga mengalami gangguan yang lebih lanjut yaitu hipertensi, edema, dan proteinuria serta kejang.
2.      Etiologi / Penyebab
Menurut Manuaba, IBG, 2001 penyebab secara pasti belum diketahui, tetapi banyak teori yang menerangkan tentang sebab akibat dari penyakit ini, antara lain: 
a.       Genetik
b.      Imunologik
c.       Iskhemia regio utero placenta
d.      Radikal bebas
e.       Kerusakan endotel
f.       Trombosit
g.      Diit ibu hamil
3.      Gejala

Eklampsia terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih, yaitu: kejang-kejang atau koma. Kejang dalam eklampsia ada 4 tingkat, meliputi :
a.       Tingkat awal atau aura (invasi)
Berlangsung 30-35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat (pandangan kosong), kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar ke kanan dan ke kiri.
b.      Stadium kejang tonik
Seluruh otot badan menjadi kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki membengkok ke dalam, pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit, berlangsung kira-kira 20-30 detik.
c.       Stadium kejang klonik
Semua otot berkontraksi dan berulang-ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa, dan lidah dapat tergigit. Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlangsung 1-2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik  nafas seperti mendengkur.
d.      Stadium koma
Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam keadaan koma (Muchtar Rustam, 1998: 275).
4.      Klasifikasi
Berdasarkan waktu terjadinya, eklampsia dapt dibagi:
a.       Eklampsia gravidarum
1)        Kejadian 50% sampai 60%
2)        Serangan terjadi dalam keadaan hamil
b.      Eklampsia parturientum
1)      Kejadian sekitar 30% sampai 35%
2)      Batas dengan eklampsia gravidarum sukar ditentukan terutama saat mulai inpartu
c.       Eklampsia puerperium
1)      Kejadian jarang yaitu 10%
2)      Terjadi serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir
5.      Komplikasi
Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin. Usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita eklampsia. Komplikasi di bawah ini biasanya terjadi pada eklampsia :
a.       Solusio plasenta.
Komplikasi ini biasanya terjadi pada ibu yang  menderita hipertensi akut dan lebih sering terjadi pada pre-eklampsia. Di rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo 15,5% solusio plasenta disertai pre-eklampsia.
b.      Hipofibrinogenemia
Pada eklampsia, ditemukan 23% hipofibrinogenemia. Maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar fibrinogen secara berkala.
c.       Hemolisis
Penderita dengan eklampsia berat kadang-kadang menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus. Belum diketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sela hati atau destruksi sel darah merah. Nekrosis periportal hati yang sering ditemukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut.
 d.      Perdarahan otak
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia.
e.       Kelainan mata
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu, dapat terjadi. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina, hal ini merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri.
f.       Edema paru-paru
Zuspan (1978) menemukan hanya satu penderita dari 69 kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena payah jantung.
g.      Nekrosis hati
Nekrosis periportal hati pada eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia, tapi ternyata juga ditemukan pada penyakit lain. Kerusakan sel-sel hati juga dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnyz.
h.      Sindroma HEELP
Yaitu Haemolysis, Elevated Liver Enzymes, dan Low Platelet.
i.        Kegagalan Ginjal
Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotelialtubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
j.        Komplikasi lain
Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat kejang-kejang, pneumonia aspirasi, dan DIC (Dessiminated Intravaskuler Coogulation)
k.      Prematuritas, dismaturitas, dan kematian intra-uterin.
6.      Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
Pada umumnya diagnosa pre eklamsia didasarkan atas adanya 2 dari trias gejala utama. Uji diagnostik yang dilakukan pada pre eklamsia menurut Prawirohardjo, S, 1999  adalah :
Uji Diagnostik Dasar diukur melalui : Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urine, pemeriksaan oedem, pengukuran tinggi fundus uteri dan pemeriksaan funduskopi.
7.      Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan eklampsia adalah menghentikan berulangnya serangan kejang dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah keadaan ibu mengizinkan.
Pengawasan dan perawatan yang intensif sangat penting bagi penanganan penderita eklampsia, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Pada pengangkutan ke rumah sakit diperlukan obat penenang yang cukup untuk menghindarkan timbulnya kejangan ; penderita dalam hal ini dapat diberi diazepam 20 mg IM. Selain itu, penderita harus disertai seseorang yang dapat mencegah terjadinya trauma apabila terjadi serangan kejangan.
Tujuan pertama pengobatan eklampsia ialah menghentikan kejangan mengurangi vasospasmus, dan meningkatkan dieresis. Dalam pada itu, pertolongan yang perlu diberikan jika timbul kejangan ialah mempertahankan jalan pernapasan bebas, menghindarkan tergigitnya lidah, pemberian oksigen, dan menjaga agar penderita tidak mengalami trauma. Untuk menjaga jangan sampai terjadi kejangan lagi yang selanjutnya mempengaruhi gejala-gejala lain, dapat diberikan beberapa obat, misalnya:
a.       Sodium pentotbal sangat berguna untuk menghentikan kejang dengan segera bila diberikan secara intravena. Akan tetapi, obat ini mengandung bahaya yang tidak kecil. Mengingat hal ini, obat itu hanya dapat diberikan di rumah sakit dengan pengawasan yang sempurna dan tersedianya kemungkinan untuk intubasi dan resustitasi. Dosisi inisial dapat diberikan sebanyak 0,2 – 0,3 g dan disuntikkan perlahan-lahan.
b.      Sulfas magnesicus yang mengurangi kepekatan saraf pusat pada hubungan neuromuscular tanpa mempengaruhi bagian lain dari susunan saraf. Obat ini menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah, meningkatkan dieresis, dan menambah aliran darah ke uterus. Dosis inisial yang diberikan ialah 8g dalam larutan 40% secara intramuscular; selanjutnya tiap 6 jam 4g, dengan syarat bahwa refleks patella masih positif, pernapasan 16 atau lebih per menit, dieresis harus melebihi 600ml per hari; selain intramuskulus, sulfas magnesikus dapat diberikan secara intravena; dosis inisial yang diberikan adalah 4g 40% MgSO4 dalam larutan 10ml intravena secara perlahan-lahan, diikuti 8g IM dan selalu disediakan kalsium gluakonas 1g dalam 10 ml sebagai antidotum.
c.       Lytic cocktail yang terdiri atas petidin 100 mg, klorpromazin 100 mg, dan prometazin 50 mg dilarutkan dalam glukosa 5% 500 ml dan diberikan secara infus intravena. Jumlah tetesan disesuaikan dengan keadaan dan tensi penderita. Maka dari itu, tensi dan nadi diukur tiap 5 menit dalam waktu setengah jam pertama dan bila keadaan sudah stabil, pengukuran dapat dijarangkan menurut keadaan penderita. 
Sebelum diberikan obat penenang yang cukup, maka penderita eklampsia harus dihindarkan dari semua rangsang yang dapat menimbulkan kejangan, seperti keributan, injeksi, atau pemeriksaan dalam.

I.       ASUHAN IBU DENGAN PERDARAHAN PASCA PERSALINAN
1.      Pengertian
Perdarahan pasca persalinan atau perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir.
Kehilangan darah pasca persalinan seringkali diperhitungkan secara lebih rendah dengan perbedaan 30-50%. Kehilangan darah setelah persalinan per vaginam rata-rata 500 ml, dengan 5% ibu mengalami perdarahan > 1000 ml. Sedangkan kehilangan darah pasca persalinan dengan bedah sesar rata-rata 1000 ml.
Perkembangan terkini, perdarahan pasca persalinan didefinisikan sebagai 10% penurunan hematokrit sejak masuk atau perdarahan yang memerlukan transfusi darah.
2.      Klasifikasi
a.       Perdarahan post partum dini (early postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi setelah bayi lahir dalam 24 jam pertama persalinan.
b.      Perdarahan post partum sekunder (late postpartum hemorrhage) adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam persalinan, kurang dari 6 minggu pasca persalinan.
3.      Penyebab / Etiologi
Perdarahan post partum dapat disebabkan oleh atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, inversio uteri dan kelainan pembekuan darah.
4.      Gejala Klinik
Lemah, limbung, keringat dingin, menggigil, hiperpnea, sistolik < 90 mmHG, nadi > 100x/m, Hb < 8 g%.

5.      Diagnosis
a.      Atonia uteri
Faktor resiko: over distensi uterus oleh karena polihidramnion, hamil kembar, makrosomia janin; multi paritas, persalinan cepat atau lama, infeksi, riwayat atonia uteri, pemakaian obat relaksasi uterus.
Gejala: uterus tidak berkontraksi dan lembek, perdarahan segera setelah anak lahir.
Penyulit: syok, bekuan darah pada serviks atau posisi terlentang akan menghambat aliran darah keluar.
b.      Robekan jalan lahir
Faktor resiko: persalinan per vaginam dengan tindakan, makrosomia janin, tindakan episiotomi.
Gejala: darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus berkontraksi keras dan plasenta lengkap.
Penyulit: pucat, lemah dan menggigil.
c.       Retensio plasenta
Gejala : plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera, uterus berkontraksi dan keras.
Penyulit: tali pusat putus akibat traksi berlebihan, inversio uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.
d.      Retensio sisa plasenta atau ketuban
Gejala: plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah) tidak lengkap, perdarahan segera.
Penyulit: uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus tidak kurang.
e.       Inversio uteri
Insidensi : 1 dari 2500 kelahiran
Faktor resiko: atonia uteri, traksi tali pusat berlebihan, manual plasenta, plasentasi abnormal, kelainan uterus dan plasentasi pada fundus.
Gejala: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat, nyeri perut akut dan syok (30%).
Penyulit: neurogenik syok, pucat dan limbung.

f.       Ruptur uteri

Insidensi: 1 dari 2000 kelahiran.
Faktor resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, persalinan terhambat, pemakaian oksitosin berlebihan, posisi janin abnormal, manipulasi uterus dalam persalinan.

g.      Plasentasi abnormal

Paling sering adalah plasenta akreta.
Faktor resiko: riwayat pembedahan uterus sebelumnya, plasenta previa, kebiasaan merokok, multi grande para.

h.      Koagulopati

Koagulopati kongenital dapat menjadi komplikasi pada 1-2 per 10.000 kehamilan.
Penyebab: terapi antikoagulan dan koagulan konsumtif yang disebabkan oleh komplikasi obstetrik.

i.        Endometritis atau sisa fragmen plasenta

Gejala: sub involusi uterus, nyeri tekan perut bawah dan pada uterus, perdarahan, lokia mukopurulen dan berbau bila disertai infeksi.
Penyulit: anemia dan demam.

6.      Penanganan Umum Perdarahan Post Partum

a.       Selalu siap dengan tindakan gawat darurat.
b.      Penatalaksanaan manajemen aktif kala III persalinan.
c.       Meminta bantuan/pertolongan kepada petugas kesehatan lain.
d.      Melakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi kesadaran nadi, tekanan darah, pernafasan dan suhu.
e.       Penanganan syok apabila terjadi.
f.       Pemeriksaan kandung kemih, apabila penuh segera kosongkan.
g.      Mencari penyebab perdarahan dan melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab perdarahan.

J.      PERSIAPAN OPERASI CYTO / SEGERA
1.      Pengertian
Berasal dari Bahasa Latin yang memiliki arti segera. Operasi cito adalah operasi yang ditujukan untuk tindakan-tindakan yang membutuhkan penanganan cepat dan tidak bisa ditunda.
Operasi cito merupakan operasi segera atau mendadak (emergency) dimana pasien dioperasi segera dengan alasan medik. Operasi cito merupakan tindakan bedah tanpa adanya persiapan pra operasi, seperti :
a.       Waktu puasa
Lebih pendek < 4 jam
b.      Tidak dilakukan pencukuran rambut daerah operasi
c.       Tidak mandi dengan antiseptik, dll
2.      Indikasi
a.       Operasi Sectio Caesarea (SC) dengan perdarahan otak
b.      Plasenta previa
c.       Fraktur terbuka dengan perdarahan hebat
d.      Appendik akut atau appendik perforasi
e.       Hernia, dll.

K.    EPISIOTOMI
1.      Pengertian
Episiotomi merupakan insisi dari perinium untuk memudahkan persalinan dan mencegah ruptur perinii totalis (Bagian Obsgyn, UNPAD). Sedangkan menurut Harry Oxorn (1996), Episiotomi adalah insisi perinium untuk memperlebar ruang pada lubang keluar jalan lahir sehingga memudahkan kelahiran bayi.
Episiotomi adalah pemisahan jaringan perineum yang bertujuan mencegah kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak akibat daya regang yang melebihi kapasitas elastisitas jaringan tersebut.(Manternal Neonatal 2000 : 455)
Episiotomi adalah insisi bedah pada  perineum untuk melebarkan mur vulva. (Ruth Johnson dan Wendy Taylor 2004:218).
Episiotomi adalah insisi pada perineum yg menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin himen, jaringan seputum rektovaginal. Melebarkan jalan lahir sehingga mempermudah kelahiran (Mansjoer Arif, dkk. 2001 : 338)
2.      Tujuan
a.       Mempercepat persalinan dgn melebarkan jalan lahir lunak/mempersingkat kala II
b.      Mempercepat tekanan pada kpl anak
c.       Mengendalikan robekan perineum u/ memudahkn menjahit
d.      Menghidari robekan perineum spontan
e.       Mempercepat kemungkinan ruptura perineum totalis
3.      Indikasi
a.       Terjadi gawat janin dan persalinan mungkin harus diselesaikan dengan bantuan alat (ekstraksi cunam atau vakum)
b.      Adanya penyulit (distosia bahu, persalinan sungsang)
c.       Adanya perut yang menghambat proses pengeluaran bayi
d.      Penyulit kelahiran pervaginam (sungsang,, ekstraksi, forceps, vakum)
e.       Jaringan parut pd perineum/ vagina yg memperlambat kemajuan persalinan (APN. 2004 : 3-12)
f.       Perineum kaku
g.      Janin prematur (Mansjoer Arif, dkk. 2001 : 388)
4.      Fungsi
a.       Episiotomi membuat luka yang lurus dengan pinggir yang tajam, sedangkan ruptura perinii yang spontan bersifat luka koyak dengan dinding luka bergerigi.
b.      Luka lurus dan tajam lebih mudah dijahit.
c.       Mengurangi tekanan kepala bayi.
d.      Mempersingkat kala II.
e.       Mengurangi kemungkinan terjadinya ruptura perinium totalis.
5.      Jenis
a.       Episiotomi Medialis adalah yang dibuat di garis tengah.
Otot yang terpotong meliputi :
1)      M. Transversa perinei
2)      M. Bulbocavernosi
3)      M. Bulbococcygeal
4)      M. Iliococcygei
Keuntungan :
1)      Secara dratomis lebih alamiah
2)      Menghindari pembuluh darah dan saraf
3)      Lebih mudah dijahit
Komplikasi :
Jika meluas bisa memanjang melalui sfingter ani
b.      Episiotomi Mediolateralis dari garis tengah ke samping menjauhi anus.
Pemotongan meliputi garis tengah fossa vestibula vagina ke posterior ditengah antara spina ischiadica dan anus. Dilakukan pada ibu yang memiliki perineum pendek,  pernah ruptur grade 3.
Manfaat : perluasan laserasi akan lebih kecil kemungkinannya menuju spingter ani
Komplikasi :
1)      Penyembuhan terasa lebih sakit dan lama
2)      Mungkin kehilangan  darah lebih banyak
3)      Jika dibandingkan dengan medialis (yang tidak sampai spincter ani) lebih sulit dijahit
4)      Bekas luka parut kurang baik
5)      Pelebaran introitus vagina
6)      Kadangkala diikuti dispareunia (nyeri saat berhubungan)
c.       Episiotomi Lateralis 1-2 cm diatas commisuro posterior ke samping.
Tidak dianjurkan lagi karena hanya dapat menimbulkan sedikit relaksasi introitus, pendarahan lebih banyak dan sukar direparasi.


6.      Manfaat
a.       Secara anatomis lebih alamiah
b.      Menghindari pembuluh-pembuluh darah dan syaraf, jadi penyembuhan tidak terlalu sakit
c.       Lebih mudah dijahit karena anatomis jaringan lebih mudah
d.      Nyeri saat berhubungan (dispareunia) jarang terjadi
e.       Kehilangan darah lebih sedikit
f.       Jarang terjadi kesalahan penyembuhan
7.      Komplikasi
Jika meluas bisa memanjang sampai ke spincter ani à ruptur totalis yang mengakibatkan kehilangan darah lebih banyak, lebih sulit dijahit dan jika sampai spincter ani bukan kewenangn bidan à harus dirujuk
8.      Prosedur
a.      Persiapan
1)      Pertimbangkan indikasi untuk melakukan episiotomi dan pastikan bahwa episitomi tersebut penting untuk keselamatan dan kenyaman ibu dan bayi
2)      Pastikan bahwa semua perlengkapan dan bahan-bahan yang diperlukan sudah tersedia dan dalam keadaan disinfeksi tingkat tinggi atau steril
3)      Gunakan teknik aseptic atau antiseptic setiap saat, cuci tangan dan pakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril
4)      Jelaskan pada ibu menapa ia memerlukan episiotomi dan diskusikan prosedur denagn ibu. Berikan alasan rasional pada ibu.(APN, Revisi 2007)

b.      Pemberian Anastesi
Berikan anestesi local secara dini agar obat tersebut memiliki cukup waktu untuk memberikan efek sebelum episiotomi dilakukan. Episiotomi adalah tindakan yang menimbulkan rasa sakit dan menggunakan anestesi local adalah bagian dari asuhan sayang ibu.

1)      Jelaskan pada ibu apa yang akan dilakukan dan bantu klien untuk merasa rileks
2)      Hisap 10ml larutan lidokain 1% tanpa epinefrin ke dalam tabung suntik steril ukuran 10ml (tabung suntik lebih besar boleh digunakan jika diperlukan). Jika lidokain 1% tidak tersedia, larutkan 1 bagian lidokain 2% dengan 1 bagian cairan garam fisologis atau air distilasi steril, sebagai contoh larutan 5ml lidokain dalam 5ml cairan garam fisiologis atau air steril
3)      Pastikan bahwa tabung suntik memiliki jarum ukuran 22 dan panjang 4cm (jarum yang lebih panjang boleh digunakan jika diperlukan)
4)      Letakkan dua jari kedalam vagina diantara kepala bayi dan perineum
5)      Masukkan jarum ditengah fourchette dan arahkan jarum sepanjang tempat yang akan diepisiotomi
6)      Aspirasi (tarik batang penghisap) untuk memastikan bahwa jarum tidak berada di dalam pembuluh darah.jika darah masuk kedalam tabung suntik jangan suntikkan lidokain, tarik jarum tersebut keluar. Ubah posisi jarum dan tusukkan kembali. Alasan:ibu bisa mengalami kejang dan bisa terjadi kematian, jika lidokain disuntikan kedalam pembuluh darah
7)      Tarik jarum perlahan sambil menyuntikan maksimal 10ml lidokain
8)      Tarik jarum bila sudah kembali ketitik asal jarum suntik ditusukkan kulit melembung karena anestesi bisa terlihat dan dipalpasi pada perineum disepanjang garis yang akan dilakukan episiotomi.(APN, Revisi 2007)
c.       Prosedur Episiotomi

1)      Tunda tindakan episiotomi sampai perineum menipis dan pucat dan 3-4 cm kepala bayi sudah terlihat pada saat kontraksi.alasannya: melakukan episiotomi akan menyebabkan perdarahan , jangan melakukannya terlalu dini
2)      Masukkan dua jari kedalam vagina diantara kepala bayi dan perineum, kedua jari agak diregangkan dan diberikan sedikit tekanan lembut kearah luar pada perineum.Alasannya: hal ini akan melindungi kepala bayi dari gunting dan meratakan perineum sehingga membuatnya lebih mudah diepisiotomi
3)      Gunakan gunting tajam disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Tempatkan gunting di tengah-tengah fourchette posterior dan gunting mengarah kesudut yang diinginkan untuk melakukan episiotomi mediolateral (jika bukan kidal, episiotomi mediolateral yang dilakukan disisi kiri lebih mudah dijahit). Pastikan untuk melakukan palpasi atau mengidentifikasi sfinter ani eksterna dan mengarahkan gunting cukup jauh kearah samping untuk menghindari sfingter
4)      Gunting perineum sekitar 3-4 cm dengan arah mediolateral menggunakan satu atau dua guntingan yang mantap. Hindari mengunting jaringan sedikit-sedikit karena akan menimbulkan tepi yang tidak rata sehingga menyulitkan penjahitan dan waktu penyembuhan lebih lama.
5)      Gunakan gunting untuk memotong sekitar 2-3 cm kedalam vagina
6)      Jika kepala bayi belum juga lahir, lakukan tekanan pada luka episiotomi dengan dilapisi kain atau kasa steril diantara kontraksi untuk membantu mengurangi pendarahan
7)      Kendalikan kepala, bahu dan bahan bayi untuk mencegah perluasan episiotomi
8)      Setelah bayi dan plasenta lahir, periksa dengan hati-hati apakah episiotomi, perineum dan vagina mengalami perluasan atau laserasi, lakukan penjahitan jika terjadi perluasan episiotomi atau laserasi tambahan

L.     PEMBERIAN OBAT MELALUI VAGINA
1.      Pengertian
Pemberian obat dengan cara memasukkan obat melalui vagina
2.      Tujuan
Mendapatkan efek terapi obat (mengurangi rasa nyeri, terbakar, ketidaknyamanan) dan mengobati saluran vagina atau serviks (infeksi dan peradangan)
3.      Macam Sediaan Obat
Cream, jelly, foam, supositoria
4.      Indikasi
Pasien dengan vagina kotor, radang, infeksi dan persiapan tindakan bedah jalan lahir (diberikan pada pasien dengan hymen yang sudah tidak utuh dan tidak kontak seksual selama pengobatan)
5.      Kontra Indikasi
Menstruasi, perdarahan, KPD, plasenta previa partus aterem
6.      Peralatan
a.       Obat dalam tempatnya
b.      Bak instrumen
c.       Sarung tangan
d.      Kain kasa
e.       Kapas sublimat
f.       Vaselin / jelly
g.      Kertas tisyu
h.      Kapas sublimat dalam tempatnya
i.        Bengkok
j.        Pengalas
k.      Lampu sorot/ lampu leher angsa (gcoseneck)
7.      Persiapan
a.       Mengindentifikasikan klien dengan tepat (klien, obat, waktu, dosis, cara)
b.      Menjelaskan kepada klien tujuan tindakan yang akan dilakukan
c.       Meminta klien untuk berkemih terlebih dahulu
d.      Menjaga privasi: menutup jendela, korden, dan memasang sampiran atau sketsel apabila diperlukan
e.       Menganjurkan orang yang tidak berkepentingan untuk keluar ruangan
f.       Mengatur posisi klien berbaring, posisi dorsal recumbent

g.      Menutup dengan selimut mandi dan ekpose hanya pada area perineal saja
8.      Prosedur
a.       Cuci tangan
b.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
c.       Gunakan sarung tangan
d.      Siapkan obat yang akan digunakan: buka pembungkus obat
e.       Bersihkan sekitar alat kelamin dengan kapas sublimat
f.       Inspeksi kondisi genetalia eksterna dan saluran vagina
g.      Apabila jenis obat suppositoria maka berikan pelumas pada obat
h.      Regangkan labia minora dengan tangan kiri dan masukkan obat sepanjang dinding kanal vaginal posterior sampai 7,5-10 cm
i.        Setelah obat masuk, bersihkan daerah sekitar orifisium dan labia dengan tisu
j.        Anjurkan untuk tetap dalam posisi kurang lebih 10 menit agar obat bereaksi.
k.      Lepaskan sarung tangan
l.        Cuci tangan
m.    Kaji respon klien
n.      Dokumentasi: catat identitas, waktu, obat, dosisi/jumlah, dan cara pemberian
o.      Catatan: apabila obat jenis krim, isi aplikator krim atau ikuti petunjuk penggunaan krim yang ada di kemasan, masukkan aplikator, dan lanjutkan sesuai langkah 8 s.d. 11.

M.   PENJAHITAN ROBEKAN JALAN LAHIR
1.      Pengertian
Jalan lahir terdiri atas jalan lahir bagian tulang dan jalan lahir bagian lunak.
Jalan lahir bagian tulang terdiri atas tulang-tulang panggul dan sendi-sendinya
dan jalan lahir bagian lunak terdiri atas uterus, serviks dan vagina sentra otot-otot
maupun ligamen-ligamen
2.      Etiologi
Bila dalam persalinan setelah bayi lahir mengalami perdarahan, maka
kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh retensio placenta, Atonia uteri atau
plasenta yang lahir tidak lengkap. Tetapi apabila plasenta lahir lengkap dan uterus
berkontraksi dengan baik dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari
perlukaan / robekan jalan lahir.
Sebab – sebab terjadinya perlukaan jalan lahir antara lain :
a.       Kesalahan sewaktu memimpin persalinan
b.      Persalinan operatif melalui vagina seperti ekstraksi vacuum atau trauma
akibat alat- alat yang dipakai
c.       Perlukaan jalan lahir yang terjadi karena disengaja, seperti episiotomi
3.      Klasifikasi
Adapun perlukaan jalan lahir dapat terjadi pada :
a.       Robekan perineum spontan maupun episiotomi
1)      Etiologi
a)      Kepala janin terlalu cepat lahir
b)      Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya
c)      Sebelumnya pada perinemum terdapat banyak jaringan parut
d)     Pada keadaan dengan distosia bahu
2)      Tingkatan lacerasi berdasarkan luasnya robekan :
a)      Derajat 1
Mukosa vagina, forchette posterior, kulit perineum
b)      Derajat 2
Mukosa vagina, forchette posterior, kulit perineum, otot perinemum
 c)      Derajat 3
Mukosa vagina, forchette posterior, kulit perineum, otot perinemum, otot spingter ani eksternal
d)     Derajat 3
Mukosa vagina, forchette posterior, kulit perineum, otot perinemum, otot spingter ani eksternal
e)      Derajat 4
Mukosa vagina, forchette posterior, kulit perineum, otot perinemum, otot spingter ani eksternal, dinding rectum  anterior.



Keterangan untuk derajat 3 dan 4 segera dirujuk, karena memerlukan teknik dan prosedur khusus.
3)      Penatalaksanaan
a)      Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasikan laserasi dan sumber
perdarahan
b)      Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptic
c)      Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan, kemudian ikat dengan
benang yang dapat diserap.
d)     Lakukan penyatuan luka mulai dari bagian yang paling distal terhadap
operator
b.      Perlukaan Vulva
1)      Robekan vulva
Jika diperiksa sering terlihat robekan-robekan kecil pada labium mius,
vestibulun atau belakang vulva. Jika robekan tidak menimbulkan perdarahan
banyak, tidak perlu dilakukan tindakan-tindakan apa-apa tetapi jika luka
robekanagak besar dan banyak berdarah, perlu dilakukan penghentian
perdarahan dan penjahitan luka robekan
 2)      Hematona vulva
a)      Etiologi
Robeknya pembuluh darah, terutama vena yang terletak di bawah kulit alat kelamin luar dan selaput vagina Pecahnya varises yang terdapat dinding vagina dan vulva
b)      Diagnosis
Daerah hematona akan terlihat bagian yang lembek, membengkak dan
perubahan warna kulit di daerah hematona disertai nyeri tekan
c)      Penanganan
Pada hematona yang kecil, cukup dilakukan pengompresan Jika hematona makin membesar dan disertai tanda – tanda anemia, presyok, maka perlu segera dilakukan pengosongan dan hematona tersebut.
c.       Robekan Dinding Vagina
1)      Etiologi
a)      Persalinan dengan luram
b)      Ekstrasi batang
c)      Ekstrasi Vakum
d)     Reposisi presentasi kepala janin
2)      Komplikasi
Perdarahan dan infeksi
3)      Penanganan
a)      Pada luka robek yang kecil, tidak perlu penanganan khusus.
b)      Pada luka robek yang lebar dan dalam, perlu dilakukan penjahitan.
d.      Robekan Serviks
1)      Etiologi
a)      Partus presipitatus
b)      Trauma karena pemakaian alat – alat operasi
c)      Melahirkan kepala janin pada tetsu secara paksa padahal pembuatan serrvik belum lengkap
d)     Partus lama
2)      Komplikasi
a)      Perdarahan
b)      Syok, bahkan kematian dan inkompetensi serviks
3)      Penanganan
a)      Jepit klein ovum ada ke-2 biji sisi partio yang robek, sehingga perdarahan dapat segera dihentikan
b)      Jika setelah eksplorasi lanjutan tidak dijumpai robekan lain, lakukan penjahitan dimulai dari ujung atas robekan kearah luar sehingga semua robekan dapat dijahit
c)      Setelah tindakan, periksa TTV, CU, TFC dan perdarahan
d)     Beri antibiotik profilaksi, kecuali bila jelas ditemui tanda – tanda infeksi.
e.       Ruptur Uteri
1)      Faktor Predisposisi
a)      Multi paritas
b)      Pemakaian oksitosin untuk indikasi persalinan yang tidak tepat
c)      Kelainan letak dan implantasi plasenta
d)     Kelainan bentuk uterus
e)      Hidramnion
2)      Jenis
a)      Ruptura Uteri Spontan Adalah dapat terjadi pada keadaan dimana terdapat rintangan pada waktu persalinan, misalnya : kelainan letak dan presentasi janin, panggul sempit
b)      Ruptura Uteri Traumatik Terjadi karena adanya ruda paksa pada uterus, misalnya : versi ekstraksi plasenta manual
c)      Ruptura Uteri Jaringan Parut Terjadi karena adanya locus mnoris pada dinding uterus sebagai, akibat bekas sebelumnya, Misal : parut bekas secar
3)      Gejala
a)      Biasanya didahului oleh his yang kuat dan uterus menerus rasa nyeri yang hebat di perut bagian bawah, nyeri waktu ditekan, nadi dan pernafasan cepat
b)      Setelah terjadi rupture uteri dijumpai gejala-gejala seperti syok, perdarahan, pucat, nadi cepat, tekanan darah turun
c)      Jika kejadian rupture uteri telah lama, akan timbul gejala-gejala mekanisme.
4)      Penanganan
a)      Laparatomi
b)      Histerektomi
4.      Peralatan


N.    PLASENTA MANUAL
1.      Pengertian
Manual plasenta adalah prosedur pelepasan plasenta dari tempat implantasinya pada dinding uterus dan mengeluarkannya dari kavum uteri secara manual yaitu dengan melakukan tindakan invasi dan manipulasi tangan penolong persalinan yang dimasukkan langsung kedalam kavum uteri. Pada umumnya ditunggu sampai 30 menit dalam lahirnya plasenta secara spontan atau dgn tekanan ringan pada fundus uteri yang berkontraksi. Bila setelah 30 mnenit plasenta belum lepas sehingga belum dapat dilahirkan atau jika dalam waktu menunggu terjadi perdarahan yang banyak, pasenta sebaiknya dikeluarkan dengan segera.
Manual plasenta merupakan tindakan operasi kebidanan untuk  melahirkan retensio plasenta. Teknik operasi plasenta manual tidaklah sukar, tetapi harus diperkirakan bagaimana persiapkan agar tindakan tersebut dapat menyelamatkan jiwa penderita.
2.      Etiologi
Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat dihentikan dengan uterotonika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat putus.
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau melebihi waktu 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oeh gangguan kontraksi uterus.
3.      Tujuan
a.       Untuk mengeluarkan plasenta dan kotiledon dalam uterus
b.      Untuk mengurangi perdarahan berlanjut
4.      Indikasi
Manual plasenta dilakukan karena indikasi retensio plasenta yang berkaitan dengan :
a.       Plasenta belum lepas dari dinding uterus dikarenakan:
1)      Plasenta adhesive yaitu kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta
2)      Plasenta akreta yaitu implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium
3)      Plasenta inkreta, yaitu implantasi jonjot korion placenta hingga mencapai/memasuki miometrium
4)      Plasenta perkreta, yaitu implantasi jonjot korion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus.
5)      Plasenta inkarserata, yaitu tertahannya plasenta didalam kavum uteri yang disebabkan oleh konstriksi ostium uteri.
b.      Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan dan dapat terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya
c.       Mengganggu kontraksi otot rahim dan menimbulkan perdarahan.
d.      Retensio plasenta tanpa perdarahan dapat diperkirakan
1)      Darah penderita terlalu banyak hilang,
2)      Keseimbangan baru berbentuk bekuan darah, sehingga perdarahan tidak terjadi,
3)      Kemungkinan implantasi plasenta terlalu dalam.
5.      Patofisiologi
Manual plasenta dapat segera dilakukan apabila :
a.       Terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang.
b.      Terjadi perdarahan postpartum melebihi 400 cc.
c.       Pada pertolongan persalinan dengan narkosa.
d.      Plasenta belum lahir setelah menunggu selama setengah jam.
Manual plasenta dalam keadaan darurat dengan indikasi perdarahan di atas 400 cc dan teriadi retensio plasenta (setelah menunggu ½ jam). Seandainya masih terdapat kesempatan penderita retensio plasenta dapat dikirim ke puskesmas atau rumah sakit sehingga mendapat pertolongan yang adekuat.
Dalam melakukan rujukan penderita dilakukan persiapan dengan memasang infuse dan memberikan cairan dan dalam persalinan diikuti oleh tenaga yang dapat memberikan pertolongan darurat.
6.      Tanda dan Gejala Manual Plasenta
a.       Anamnesis, meliputi pertanyaan tentang periode prenatal, meminta informasi mengenai episode perdarahan postpartum sebelumnya, paritas, serta riwayat multipel fetus dan polihidramnion. Serta riwayat pospartum sekarang dimana plasenta tidak lepas secara spontan atau timbul perdarahan aktif setelah bayi dilahirkan.
b.      Pada pemeriksaan pervaginam, plasenta tidak ditemukan di dalam kanalis servikalis tetapi secara parsial atau lengkap menempel di dalam uterus.
c.       Perdarahan yang lama > 400 cc setelah bayi lahir.
d.      Plasenta tidak segera lahir > 30 menit.
Untuk mengeluarkan plasenta yang belum lepas jika masih ada waktu dapat mencoba teknik menurut Crede yaitu uterus dimasase perlahan sehingga berkontraksi baik, dan dengan meletakkan 4 jari dibelakang uterus dan ibu jari didepannya, uterus dipencet di antara jari-jari tersebut dengan maksud untuk melepaskan plasenta dari dinding uterus dan menekannya keluar. Tindakan ini tidaklah selalu berhasil dan tidak boleh dilakukan secara kasar.
7.      Peralatan (Kebijakan)
a.       Sarung tangan panjang dan steril
b.      Cairan infus RL/NaCl,  blood set, abbocath
c.       Obat uterotonika, spuit, bengkok, klem
d.      Obat antibiotik, diazepam, tensi meter,termometer
8.      Langkah-Langkah Manual Plasenta
Langkah – langkah manual plasenta adalah sebagai berikut :
a.       Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Menyususn alat dan bahan secara berurutan sesuai dengan penggunaan (lternati), dan memeriksa kelengkapan serta meletakkan pada tempat yang mudah dijangkau.
b.      Memberikan penjelasan pada ibu akan tindakan yang akan dilakukan. Dan mengatur posisi pasien dengan posisi litotomi. Memperhatikan privacy dan kenyamanan ibu.
c.       Mencuci tangan hingga siku, dengan air mengalir, dan sbun, kemudian keringkan.
d.      Memakai sarung tangan pada kedua tangan dan mengenakan sarung tangan panjang sampai siku pada tangan kanan.
e.       Membersihkan daerah perineum dan vulva dengan kapas aseptic dan antiseptic, dan melakukan kateterisasi bila perlu.
f.       Menegangkan tali pusat dengan menggunakan klem, tegangkan secara perlahan, sejajar lantai.
g.      Memasukkan tangan kanan ke dalam vagina secara obstetric dengan menyatukan jari tangan ketika masuk ke dalam vagina, sementara tangan kiri memegang tali pusat, tangan kanan mneyusur tali pusat hingga lokasi plasenta berada.
h.      Melepaskan pegangan tali pusat, dan memindahkan tangan kiri untuk memegang fundus uteri dari luar untuk membantu uterus berkontraksi.
i.        Dengan bagian lateral jari – jari tangan kanan, mencari insersi pinggir plasenta, membuka tangan obstetric menjadi seperti memberi salam, jari – jari dirapatkan secara perlahan, gerakan tangan menyisir dengan gerakan ke kanan dan kekiri yang sangat lembut sampai seluruh plasenta terpisah dari dinding rahim, curigai adanya plasenta akreta. Jika plasenta sulit dilepaskan, siapkan tindakan bedah, kemudian lakukan masase dari luar dengan tangan kiri bila plasenta telah lepas seluruhnya.
j.        Menarik plasenta secara hati – hati dengan tangan kanan pada waktu uterus berkontraksi. Dan harus diingat, sebelum mengeluarkan tangan kanan dari jalan lahir, yakinkan tidak ada sisa plasenta yang tersisa pada cavum uteri / melakukan eksplorasi ulangan untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih tertinggal.
k.      Memindahkan tangan kiri ke supra simfisis untuk menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkan.
l.        Memeriksa plasenta setelah dilahirkan, lengkap / tidak. Kontraksi uterus.
m.    Memberikan 0,2 mg ergometrin IM untuk membantu kontraksi uterus.
n.      Memeriksa ibu dan mmelakukan penjahitan bila ada robekan cerviks atau vagina juga episiotomi.
o.      Melepaskan semua peralatan dan bahan yang terkontaminasi pada kom yang berisi klorin 0,5%
p.      Melepaskan sarung tangan secara terbalik dan rendam dalam wadah larutan klorin 0,5%.
q.      Mencuci tangan kembali sampai bersih dibawah air mengalir.


9.      Komplikasi
Kompikasi dalam pengeluaran plasenta secara manual selain infeksi / komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah yang dilakukan, perforasi, multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perfusi organ dan sepsis, ialah apabila ditemukan plasenta akreta. Dalam hal ini villi korialis menembus desidua dan memasuki miometrium dan tergantung dari dalamnya tembusan itu dibedakan antara plasenta inakreta dan plasenta perkreta. Plasenta dalam hal ini tidak mudah untuk dilepaskan melainkan sepotong demi sepotong dan disertai dengan perdarahan. Jika disadari adanya plasenta akreta sebaiknya usaha untuk mengeluarkan plasenta dengan tangan dihentikan dan segera dilakukan histerektomi dan mengangkat pula sisa-sisa dalam uterus.

O.    PEMASANGAN LAMINARIA STIFF
1.      Pengertian
Laminaria berasal dari batang Laminaria Japonica dan Laminaria digitate. Laminaria adalah rumput laut yang banyak tumbuh dan dibudidayakan di Korea, Cina, dan Jepang. Hal ini sudah tercatat dalam literatur Cina kuno sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu. Selama 100 tahun terakhir Laminaria telah digunakan di Amerika Serikat. Panjangnya lebih kurang 6-7 cm dan diamternya 2 - 3 mm. Laminaria dikemas dan disterilkan menggunakan radiasi gamma.
2.      Kegunaan
Laminaria digunakan untuk membuka leher rahim guna evakuasi kehamilan misalnya pada Blighted Ovum atau janin mati. Laminaria bekerja secara hidroskopik yaitu menyerap air dari leher rahim, lalu mengembang secara perlahan-lahan membuka leher rahim. Laminaria juga merangsang pembentukan dan pelepasan prostaglandin yang menyebabkan perubahan lokal di leher rahim berupa pematangan leher rahim (lunak dan melebar) sehingga lebih mudah didilatasi dengan alat (dilatator) agar evakuasi isi rahim lebih mudah.
3.      Cara Kerja
Laminaria dimasukkan ke dalam leher rahim, bisa 1 saja atau bahkan sampai 6 batang pada kehamilan awal trimester 2.
Laminaria dibiarkan selama 3-24 jam. Semakin besar usia kehamilan, maka semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk proses pematangan leher rahim. Pasien bisa tetap bekerja di kantor tiga sampai empat jam sebelum dilakukan prosedur evakuasi isi rahim. Atau boleh pulang baru datang pada keesokan harinya untuk dilakukan evakuasi isi rahim.

 4.      Komplikasi
Komplikasi pemasangan laminaria yang dapat terjadi berupa sulit melepaskan, masuk kedalam rahim, impactment (terjebak di dalam) di leher rahim, putus dari ujung ke ujung. Komplikasi2 ini jarang terjadi jika Laminaria dipasang secara benar dan hati-hati ditempatkan langsung di dalam leher rahim. Komplikasi lain termasuk kram pada saat pemasangan. Ada beberapa kasus yang dilaporkan terjadi reaksi alergi terhadap laminaria (anafilaksis) dan infeksi.

 Keterangan Gambar 1:
A.    Pemasangan laminaria didalam kanalis servikalis
B.     Laminaria mengembang
C.     Ujung laminaria melebihi ostium uteri internum (pemasangan yang salah)
D.    Ujung laminaria tidak melewati ostium uteri internum (pemasangan yang salah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar