Rabu, Januari 21

Asuhan Pada Wanita/Ibu Dengan Kelainan, Komplikasi Dan Penyulit Dalam Masa Nifas



PENDAHULUAN

Masa nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari, 2002). Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003). Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F. Gary Cunningham, Mac Donald, 1995).
Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. (Ibrahim C, 1998).
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis, melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi, memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari, memberikan pelayanan keluarga berencana serta mendapatkan kesehatan emosi.
Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
  1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
  2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
  3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
  4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.
 Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan terjadi selama empat jam pertama setelah kelahiran bayi. Karena alasan ini sangatlah penting untuk memantau ibu secara ketat segera setelah persalinan. Jika tanda-tanda vital dan kontraksi uterus masih dalam batas normal selama dua jam pertama pasca persalinan, mungkin ibu tidak akan mengalami perdarahan persalinan. Penting untuk berada di samping ibu dan bayinya selama dua jam pertama pasca persalinan.

INFEKSI NIFAS
1.      Definisi
Infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman kedalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam dalam nifas sering disebabkan infeksi nifas, ditandai dengan suhu 38 ºC yang terjadi selama 2 hari berturut-turut. Kuman penyebab infeksi dapat berasal dari eksogen atau endogen (seperti streptococcus, bacil coli, staphylococcus).
2.      Faktor Predisposisi
a.       Semua keadaan yang menurunkan imun, Keadaan Umum dan kelelahan seperti : Perdarahan, Diabetes Melitus, preeklampsi, malnutrisi, anemia, pneumonia, penyakit jantung
b.      Tindakan obstetrik operatif (pervaginam dan perabdominam)
c.       Proses persalinan bermasalah seperti partus lama atau macet dengan
ketuban pecah lama, korioamnionitis, persalinan traumatik, kurang baiknya proses pencegahan infeksi dan manipulasi yang berlebihan
d.      Episiotomi atau laserasi
e.       Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah dalam rahim
3.      Mekanisme terjadinya penyakit
a.       Manipulasi penolong
b.      Infeksi yang didapat di RS
c.       Hubungan seks menjelang persalinan
d.      Sudah terdapat infeksi intrapartum
4.      Bentuk Infeksi Nifas
a.       Infeksi lokal à luka episiotomi, infeksi vagina dan serviks
Dengan gambaran klinis : Pembengkakan luka episiotomi, terjadi pernanahan, perubahan warna lokal, pengeluaran lokia bercampur nanah, mobilisasi terbatas karena nyeri, temperatur badan meningkat

b.      Infeksi general à parametritis, peritonitis, septikemia dan piema
Dengan gambaran klinis : Tampak sakit dan lemah, suhu meningkat > 39 0C, Tekanan Darah menurun, Nadi meningkat dan Respiasi menurun hingga sesak, kesadaran gelisah hingga koma, terjadi gangguan involusi uterus dan lokia : berbau, bernanah serta kotor
c.       Penyebaran infeksi general à berkelanjutan atau perkotinuitatum, melalui pembuluh darah dan limfa, bekas implantasi plasenta
5.      Patologi
Patologi infeksi nifas sama dengan infeksi luka. Infeksi itu dapat:
a.      Terbatas pada lukanya (infeksi luka perineum, vagina, serviks atau endometrium)
b.      Infeksi itu menjalar dari luka ke jaringan sekitarnya (thrombophlebitis, parametritis, salpingitis, peritonitis)
6.      Pencegahan infeksi nifas
a.       Masa kehamilan
1)      Mencegah / mengurangi faktor predisposisi
2)      Pemeriksaan dilakukan bila ada indikasi
3)      Koitus pada hamil tua dikurangi atau dilakukan dengan hati-hati
b.    Selama persalinan
1)      Hindari partus lama dan KPD
2)      Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin
3)      Perlukaan karena tindakan dibersihkan dan dijahit sebaik mungkin
4)      Mencegah terjadinya perdarahan banyak
5)      Petugas memakai APD
6)      Alat harus steril
c.     Selama nifas
1)      Perawatan luka dengan baik
2)      Penderita dengan infeksi diisolasi
3)      Pengunjung dibatasi
7.      Pengobatan
a.     Berikan terapi sesuai indikasi
b.    Perawatan luka
c.     Lakukan pemeriksaan penunjang (lab à kultur)

8.      Macam-macam infeksi nifas :
a.      ENDOMETRITIS
Merupakan jenis infeksi yang paling sering, kuman-kuman memasuki endometrium biasanya pada luka bekas insersio plasenta dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada batas antara daerah yang meradang dan daerah sehat terdapat lapisan terdiri atas leukosit. Leukosit akan membuat pagar pertahanan dan disamping itu akan keluar serum yang mengandung zat anti.
Gambaran klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, dan derajat trauma pada jalan lahir. Kadang-kadang lokea tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokeaometra. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan suhu.
Pada endometritis yang tidak meluas, penderita pada hari pertama merasa kurang sehat dan perut nyeri, milai hari ke-3 suhunya meningkat, nadi cepat, namun dalam kurun waktu 1 mingguu keadaan akan menjadi normal.
b.      PERITONITIS
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh limfe di dalam uterus langsung mencapai peritonium shg menyebabkan peritonitis. Peritonitis yang hanya terbatas pada daerah pelvis, gejalanya tidak seberat pada peritonitis umum.
 Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Sedangkan pada peritonitis umum suhu meningkat mjd tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri. Muka mejadi pucat, mata cekung dan kulit muka dingin.
Penanganan yang diberikan : Lakukan nasogastric suction, berikan infus (NaCl atau RL), berikan antibiotika sehingga bebas panas selama 24 jam (Ampisilin 2 gr IV, kemudian 1 gr setiap 6 jam, ditambah gentamicin 5 mg/kgBB IV dosis tunggal/hari dan metronidazol 500mg IV setiap 8 jam), Laparotomi diperlukan untuk pembersihan perut (peritoneal lavage).
c.       BENDUNGAN ASI
Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada puting susu (Mochtar, 1996).
Menurut Huliana (2003) payudara bengkak terjadi karena hambatan aliran darah vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Kejadian ini timbul karena produksi yang berlebihan, sementara kebutuhan bayi pada hari pertama lahir masih sedikit.
Faktor predisposisi terjadinya bendungan ASI antara lain : Faktor hormon, hisapan bayi, pengosongan payudara, cara menyusui, faktor gizi dan kelainan pada puting susu. Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak kemerahan.
Patofisiologi terjadinya bendungan ASI biasanya ASI mengalir tidak lancar, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam (Mochtar, 1998).
Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :
1)      Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan
2)      Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand
3)      Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi
4)      Perawatan payudara pasca persalinan
Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :
1)      Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek
2)      Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi.
3)      Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
4)      Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin
5)      Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004).


d.      INFEKSI PAYUDARA / MASTITIS
Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mammae terutama pada primipara. Tanda-tanda adanya infeksi adalah rasa panas dingin disertai dengan kenaikan suhu, penderita merasa lesu dan tidak ada nafsu makan. Penyebab infeksi adalah staphilococcus aureus. Mamae membesar dan nyeri dan pada suatu tempat, kulit merah, membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak ada pengobatan bisa terjadi abses. Berdasarkan tempatnya infeksi dibedakan menjadi :
1)      Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola mamae.
2)      Mastitis ditengah-tengah mammae yang menyebabkan abses ditempat itu.
3)      Mastitis pada jaringan dibawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot dibawahnya.
Untuk pencegahan sebaiknya dilakukan perawatan puting susu pada laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan puting susu dengan minyak baby oil sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu juga memberi pertolongan kepada ibu menyusui bayinya harus bebas infeksi dengan stafilococus. Bila ada luka atau retak pada puting sebaiknya bayi jangan menyusu pada mammae yang bersangkutan, dan air susu dapat dikeluarkan dengan pijitan.
Untuk pengobatan yaitu segera setelah mastitis ditemukan pemberian susu pada bayi dihentikan dan diberikan pengobatan sebagai berikut : Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari., sangga payudara, kompres dingin, bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam. Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan, bila ada abses atau nanah perlu dikeluarkan dengan sayatan sedikit mungkin pada abses, dan nanah dikeluarkan sesudah itu dipasang pipa ketengah abses, agar nanah bisa keluar. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus.
Jika terdapat masa padat, mengeras dibawah kulit yang kemerahan : Berikan antibiotik kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari. Untuk dariain abses : Anestesi umum dianjurkan, lakukan insisi radial dari batas puting ke lateral untuk menghindari cidera atau duktus, gunakan sarung tangan steril, Tampon longgar dengan kasa, lepaskan tampon 24 jam ganti dengan tampon kecil. Jika masih banyak pus tetap berikan tampon dalam lubang dan buka tepinya, yakinkan ibu tetap menggunakan kutang, berikan paracetamol 500 mg bila perlu dan evaluasi 3 hari.
e.       THROMBOPHLEBITIS
Penjalaran infeksi melalui vena. Sering terjadi dan menyebabkan kematian. Dua golongan vena yang memegang peranan yaitu : Vena-vena dinding rahim ligamen Latum (vena ovarica, vena uterina, dan vena hipogastrika) atau disebut tromboplebitis pelvic dan Vena-vena tungkai (vena femoralis, poplitea, dan saphena) atau disebut tromboplebitis femoralis.
1)      Tromboplebitis pelvic
Yang paling sering meradang adalah vena ovarica, karena pada vena ini mengalirkan darah dari luka bekas plasenta. Penjalarannya yaitu dari vena ovarica kiri ke vena renalis, vena ovarica kanan ke cava inferior
2)      Tromboplebitis femoralis
Dari trombophelebitis vena saphena magna atau peradangan vena femoralis sendiri. Penjalaran thrombophebitis vena terin.  Akibat parametritis : thrombophlebitis pada vena femoralis mungkin terjadi karena aliran darah lambat didaerah lipat paha karena vena tertekan ligameninguinale.
Thrombophlebitis femoralis terjadi oedem tungkai yang mulai pada jari kaki dan naik ke kaki, betis, dan paha. Biasanya hanya 1 kaki yang bengkak tapi kadang keduanya. Penyakit ini dikenal dengann nama phlegmasia alba dolens (radang yang putih dan nyeri)
f.       LUKA PERINIUM
Luka akan menjadi nyeri, merah dan bengkak akhirnya luka terbuka dan mengeluarkan getah bernanah.

PERDARAHAN POST PARTUM DAN PENANGANNYA
Perdarahan post partum adalah perdarahan lebih dari 350 atau 500-600 ml selama 24 jam setelah bayi lahir. Sedangkan menurut Williams (1998) yang dinamakan Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah > 500 ml dalam 24 jam pertama setelah kelahiran bayi.


Tahap perdarahan Post Partum
1.      Early post partum (primer), terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir
2.      Late post partum (sekunder), terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir
3 Hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi perdarahan Post Partum :
1.      Menghentikan perdarahan
2.      Mencegah timbulnya syok
3.      Mengganti darah yang hilang
Hal-hal yang menyebabkan perdarahan Post Partum
1.      Atonia uteri
a.       Definisi
Gagalnya uterus berkontraksi dengann baik setelah persalinan
b.      Penyebab
1)      Umur yang terlalu muda/terlalu tua
2)      Paritas (multipara dan grandemulti)
3)      Partus lama
4)      Uterus terlalu regang atau besar (pada gemelli,bayi besar)
5)      Kelainan uterus
6)      Faktor sosial ekonomi
c.       Penanganan
1)      Segera lakukan massage uterus dan suntikan ergometrin secara IV.
2)      Jika tindakan ini tidak berhasil lakukan kompresi bimanual pada uterus.
2.      Retensio plasenta
a.       Definisi :
Keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu lebih dari 30 menit setelah bayi lahir
b.      Penyebab :
Plasenta belum lepas dari dinding uterus, menurut perlekatannya dibagi mejadi : Plasenta normal, Plasenta adhesiva, Plasenta inkreta, Plasenta akreta, Plasenta prekreta dan Plasenta sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan
c.       Penanganan :
1)      Manual plasenta
2)      Perasat Crede
3)      Perasat Brant
3.      Inversio Uteri
a.       Definisi :
Keadaan dmn keadaan fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya ke dalam kavum uteri.
b.      Inversio Uteri di bagi menjadi :
1)      Inversio uteri ringan : Fundus uteri terbalik menonjol dalam kavum uteri, namun belum keluar dari ruangan rongga rahim
2)      Inversio uteri sedang : fundus uteri terbalik dan sudah masuk dalam vagina
3)      Inversio uteri berat : uterus dan vagina smuanya terbalik dan sebagian udh keluar vagina
c.       Penyebab :
1)      Uterus lembek, lemah, tipis dindingnya
2)      Grandemultipara
3)      Kelemahan alat kandungan (tonus otot rahim yang lemah)
4)      Tekanan intra abdominal yang tinggi (ex. Mengejan / batuk)
d.      Penanganan :
1)      Perbaiki KU ibu
2)      Berikan Oksigen
3)      Infus IV cairan elektrolit dan transfusi darah
4)      Setelah itu lakukan reposisi dengan anestesi umum
4.      Robekan jalan lahir
Robekan jalan lahir merupakan penyebab ke2 tersering dari perdarahan Post Partum.
Gejala : perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelahh bayi lahir, kontraksi uterus baik, plasenta baik, kadang ibu terlihat pucat, lemah, menggigil.
Robekan perinium di bagi 4 :
a.       Tingkat 1 :
Robekan hanya pada selaput lendir vagina atau tanpa mengenai, kulit perineum


b.      Tingkat 2 :
Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinea transversalis tapi tidak mengenai springter ani.
c.       Tingkat 3 :
Robekan mengenai seluruh perinium dan otot springter ani
d.      Tingkat 4 :
Robekan sampai mukosa rectum
5.      Sebagian plasenta yang tertinggal (plasenta restan)

GANGGUAN PSIKOLOGIS MASA NIFAS
1.        Post Partum Blues
Post partum blues merupakan gangguan psikologis ringan yang sering terjadi pada minggu pertama. Post partum blues merupakan kesedihan atau kemurungan yang terjadi setelah melahirkan, biasanya muncul sementara waktu yatu pada hari kedua setelah kelahiran bayi hingga 2 minggu post partum.
Gejala yang sering timbul adalah :
a.       Tidak sabar
b.      Tidak percaya diri
c.       Menangis tanpa sebab
d.      Cemas tanpa sebab
e.       Sensitif
f.       Merasa kurang menyayangi bayinya
g.      Mudah tersinggung
Disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Biasanya muncul sekitar 2 hari smp 2 minggu sejak kelahiran bayi. Sebetulnya ini hal yang normal dan akan hilang dengan sndarinya sekitarnya 10-14 hari setelahh melahirkan.
Etiologi :
a.       Perubahan Hormon
b.      Stress
c.       Ketidaknyamanan fisik
d.      ASI tidak keluar
e.       Kelelahan pasca kelahiran
f.       Suami yang tidak mau membantu
g.      Problem dengan orang tua dan mertua
h.      Takut kehilangan bayi atau rasa memiliki bayi yang terlalu dalam
i.        Bayi sakit
j.        Rasa bosan si ibu dan problem sibling rivalry
Adakalanya ibu merasakan kesedihan karena kebebasan, otonomi, interaksi sosial, kemandiriannya berkurang hal ini menyebabkan depresi post partum
Cara mengatasi post partum blues yaitu :
a.       Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik
b.      Dengan cara peningkatan support mental atau dukungan keluarga
2.    Depresi Post Partum
Definisi menurut Hadi (2004) dikatan depresi post partum adalah perasaan tidak ada harapan lagi dan pengalaman yang menyakitkan. Sedangkan pengertian lain dari depresi post partum adalah gangguan alam perasaan (emosi, fisik dan spiritual) yang terjadi dalam bulan-bulan pertama .
Prediktor :
a.       Depresi pranatal
b.      Stres mengasuh anak & hidup
c.       Kurangnya dukungan sosial
d.      Kecemasan pranatal
e.       Kepuasan perkawinan
f.       Riwayat depresi sebelumnya
g.      Status sosek & Tempramen bayi
Gejala :
a.       Merasa bosan dan sedih atau menangis sesudah melahirkan.
b.      Mudah marah, tersinggung dan perasaan lebih sensitif kala melihat bayi menangis, sering muntah, tanpa sadar kadang suka memarahi sang bayi.
c.       Merasa tersinggiung, bersalah, dan malu selama di RS.
d.      Nafsu makan hilang, dan takut menyentuh bayi
e.       Tidak ada perhatian untuk penampilan pribadi
f.       Gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas atau berdebar-debar.
Penanganan :
a.       Pelajari diri sendiri
b.      Tidur dan makan yang cukup
c.       Olah raga
d.      Hindari perubahan hidup sbelum dan sudah melahirkan
e.       Beritahukan perasaan anda
f.       Dukungan keluarga dan orang lain
g.      Persiapan diri dengan baik
h.      Lakukan pekerjaan rumah tangga
i.        Dukungan emosional
3.    Post Partum Psikosa
a.       Definisi
Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.
b.      Penyebab
Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa.
c.       Gejala
Gejala yang sering terjadi adalah:
1)      Delusi
2)      Halusinasi
3)      Gangguan saat tidur
4)      Obsesi mengenai bayi
d.      Gambaran Klinik
1)      Terkena perubahan mood secara dariastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu singkat.
2)      Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dada, jantung berdebar-berdebar serta nafas terasa cepat.
e.       Pencegahan
Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondisi dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.
Saran kepada penderita untuk:
1)      Beristirahat cukup
2)      Mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang
3)      Bergabung dengan orang-orang yang baru
4)      Bersikap fleksible
5)      Berbagi cerita dengan orang terdekat
6)      Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis
f.       Penanganan
1)      Farmakologis
Penanganan dalam tingkat dini terdiri atas psikoanalisis dan obat-obat sedatif dalam dosis tinggi (konsultasi dengann Dokter, Psikolog, Psikiater)
2)      Tenaga kesehatan
a)      Yakinkan calon ibu bahwa kehamilan dan persalinan merupakan hal yang normal dan wajar sejak kunjungan awal ANC.
b)      Ajarkan dan berikan latihan-latihan relaksasi otot dan pernafasan
c)      Hindari kata-kata yang mematahkan semangat klien
d)     Tetap jaga wibawa, bila pasien mencoba melucu (tidak ikut tertawa saat pasien mencoba menarik kita untuk tertawa)
e)      Perhatikan adanya kelainan-kelainan fisik
f)       Tinjau keluarga untuk menlihat toleransi dan penerimaan/pengertian terhadap kondisi pasien serta untuk terapi dan pengawasan selanjutnya.
g.      Perjalanan penyakit dan pengobatan
1)      Perjalanan penyakit bervariasi dan bergantung pada penyebab penyakit
2)      Keparahan psikosis post partum mengharuskan diberikannya terapi farmakologis dan pada sebagian besar kasus dilakukan rawat inap.
h.      Terapi Gangguan Jiwa
Saat ini tersedia sejumlah besar obat psikotropika untuk mengatasi gangguan jiwa. Sebagian wanita hamil yang memerlukan farmakoterapi telah menderita penyakit jiwa berat, misalnya gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, skizofrenia atau depresi mayor berulang. Wanita lain yang memerlukan terapi adalah mereka yang mengalami gangguan emosi yang berkembang selama kehamilan.
1)      Antidepresan
a)      Depresi berat memerlukan terapi dan pada sebagian besar kasus, manfaat terapi melabihi risikonya.
b)      Antidepresan trisiklik seperti amitriptilin, doksepin, imipramin, dan nortriptilin sering digunakan untuk gangguan-gangguan depresif.
c)      Efek samping pada ibu adalah hipotensi ortostatik dan konstipasi. Sedasi juga sering terjadi, sehingga obat golongan ini sangat bermanfaat bagi masalah tidur yang berkaitan dengan depresi
d)     Inhibitor monoamin oksidase (MAOI) adalah antidepresan yang sangat efektif yang semakin jarang digunakan karena menyebabkan hipotensi ortostatik. Pengalaman dengan inibitor selektif ambilan ulang serotonin (selective serotonin reuptake inhibitors, SSRI), termasuk fluoksetin dan sertralin, menyebabkan obat golongan ini menjadi terapi primer bagi sebagian besar penyakit depresi. Obat-obat ini tidak menimbulkan hipotensi ortostatik atau sedasi sehingga lebih disukai daripada antidepresan lain.
2)      Antipsikotik
a)      Wanita dengan sindariom-sindariom kejiwaan yang berat seperti skizofrenia, gangguan skizoafektif, atau gangguan bipolar sangat mungkin memerlukan terapi antipsikotik selama kehamilan.
b)      Antipsikotik tipikal adalah golongan antagonis dopamine.
c)      Klozapin adalah satu-satunya antipsikotik atipikal yang tersedia, dan obat ini memiliki kerja yang berbeda tetapi tidak diketahui.
d)     Potensi dan efek samping berbagai antipsikotik berbeda-beda. Obat-obat yang berpotensi lebih rendah, klorpromazin dan tioridazin, memiliki efek antikolinergik yang lebih besar serta bersifat sedatif.

3)      Litium
Keamanan litium selama kehamilan masih diperbebatkan. Selain kekhawatiran tantang teratogenesitas, juga perlu dipertimbangkan indeks terapetiknya yang sempit. Pernah dilaporkan toksisitas litium pada neonatus yang mendapat ASI.
4)      Benzidiazepin
Obat golongan ini mungkin diperlukan selama kehamilan bagi wanita dengan gangguan cemas yang parah atau untuk pasien psikotik yang agitatif atau mengamuk.
Diazepam mungkin menyebabkan depresi neurologis berkepanjangan pada neonatus apabila pemberian dilakukan dekat dengan kelahiran.
5)      Terapi Kejut Listrik (Elektroconvulsive Therapy / ECT)
Terapi dengan kejutan listrik untuk depresi selama kehamilan kadang-kadang diperlukan pada pasien dengan gangguan mood mayor yang parah dan tidak berespon terhadap terapi farmakologis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar