Rabu, Januari 21

KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


KEBUTUHAN DASAR UNTUK MEMANDIRIKAN KLIEN (PART III)

3.      KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTRONIT
Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut).
a.      Cairan
Tubuh manusia terdiri dari cairan antara 50%-60% dari berat badan. Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan tubuh terbagi atas 2 kompartemen yaitu:
1)      Cairan intraseluler.
Cairan intraseluler terdiri dari 40% dari berat badan orang dewasa atau 70% total dari cairan tubuh.
2)      Cairan ekstraseluler.
Cairan ekstraseluler terdiri dari 20% dari berat badan orang dewasa atau 30% dari total dari cairan tubuh (Metheny, 1992 dari C.Taylor, C. Lillis dan P. LeMone, 1998). Cairan ekstraseluler terdiri dari cairan intravascular dan interstisial. Cairan intravascular atau plasma merupakan cairan dari komponen darah. Cairan interstisial adalah cairan yang terdapat pada jaringan sel dan limpa. Cairan Total Tubuh (Total Body Water) atau TBW/TBF adalah jumlah total cairan yang dikeluarkan prosentase dari berat badan.
Pergerakan Cairan Tubuh.
Mekanisme pergerakan melalui tiga proses:
1)      Difusi adalah proses dimana partikel yang terdapat dalam cairan bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan.
2)      Osmosis adalah bergeraknya pelarut bersih seperti air melalui membran semipermeabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke konsentrasi yang tinggi yang sifatnya menarik.
3)      Transport Aktif adalah bahan bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi karena daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.
Sumber Cairan
Tubuh mendapatkan cairan dari beberapa sumber:
1)      Cairan Ingestif.
2)      Cairan dalam makanan.
3)      Cairan dari oksidasi metabolik.
Pengeluaran Cairan
Cairan tubuh hilang melalui ginjal dalam bentuk urin, saluran intestinal dalam bentuk feses, dan melalui keringat. Insensible Water Loss (IWL) adalah kehilangan cairan yang tidak dapat di persepsikan, sekitar 15-20 ml/24 jam. Pengeluaran cairan melalui organ-organ.
 1)      Ginjal.
a)      Pengatur keseimbangan cairan yang menerima 170 liter darah untuk disaring setiap hari.
b)      Produksi urin untuk semua usia 1 ml/kg/jam.
c)      Pada orang dewasa produksi urin sekitar 1,5 lt/hari.
d)     Jumlah urin yang diproduksi oleh ginjal dipengaruhi oleh ADH dan aldosteron.
2)      Kulit.
a)      Diatur oleh saraf simpatis.
b)      Rangsangan kelenjar dapat dihasilkan dari aktivitas otot, suhu lingkungan dan demam.
3)      Paru-paru.
a)      Menghasilkan IWL sekitar 400 ml/hari
b)      Cairan yang hilang sebagai respon terhadap perubahan kecepatan dan kedalaman napas akibat pergerakan atau demam
4)      Gastrointestinal
a)      Pada kondisi normal cairan yang hilang sekitar 100-200/ hari.
b)      IWL sekitar 10-15 cc/kg BB/24 jam dengan kenaikan 10% dari IWL pada setiap kenaikan suhu 1°C.
Masalah Keseimbangan Cairan.
1)      Hipovolemik adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler.
2)      Hipervolemik adalah penambahan/ kelebihan cairan volume cairan ekstraseluler
b.      Elektrolit.
Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan Elektrolit adalah substansi ion-ion yang bermuatan listrik yang terdapat pada cairan. Ion-ion positif disebut kation dan ion-ion negatif disebut anion. Satuan pengukuran elektrolit menggunakan istilah milliequivalent (mEq). Satu milliequivalent adalah aktivitas secara kimia dari 1 mg dari hidrogen. Cairan elektrolit adalah cairan Saline atau cairan yang memiliki sifat bertegangan tetap. Cairan saline terdiri atas cairan: isotonik, hipotonik, dan hipertonik.
1)      Pengaturan Elektrolit
a)      Sodium (Natrium/ Na+) Adalah elektrolit paling banyak terdapat pada cairan ekstraseluler.
b)      Natrium
Berfungsi mempertahankan keseimbangan air, pengatur utama volume cairan ekstraseluler, mempengaruhi volume cairan intraseluler, sebagai hantaran impuls saraf dan kontraksi otot, sebagai dasar elektrolit pada pompa Natrium – Kalium. Natrium diatur oleh intake garam, aldosteron dan pengeluaran urin. Nilai normal sekitar 135-145 mEq/ L (mmol/L).
c)      Potassium (Kalium)
Adalah kation yang paling banyak pada intraseluler. Kalium berfungsi sebagai pengatur aktivitas enzim sel dan komponen dari cairan sel. Berperan vital pada proses transmisi dari impuls listrik dan kontraksi syaraf, jantung, otot, intestinal, dan jaringan paru; metabolisme protein dan karbohidrat. Membantu pada pengaturan keseimbangan asam basa karena ion K dapat diubah menjadi ion hydrogen. Pengaturan ion K oleh pompa Natrium, sekresi aldosteron merangsang ekskresi K dalam urin. Nilai normal Kalium sekitar 3,5 – 5 mEq/L.
d)     Calsium (Kalsium).
Berfungsi untuk transmisi impuls syaraf dan pembekuan darah, katalisatos kontraksi otot dan kekuatan kontraksi otot. Dibutuhkan untuk absorpsi vitamin B12 dan kekuatan tulang dan gigi. Kalsium dalam cairan ekstrasel diatur oleh kelenjar paratiroid dan tiroid. Hormon paratiroid mengabsorpsi kalsium melalui gastrointestinal, sekresi melalui ginjal. Hormon thyrokalsitonin menghambat penyerapan Kalsium tulang. Nilai normal 1,3 – 2, 1 mEq/L atau 1/3 dari jumlah plasma protein .
e)      Magnesium
Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel. Berfungsi pada aktivitas enzim, metabolisme karbohidrat dan protein. Magnesium di absorpsi oleh intestinal dan diekskresi oleh ginjal. Nilai normal 1,3 – 2, 1 mEq/L atau 1/3 dari jumlah plasma protein.
f)       Chlorida (Klorida)
Merupakan cairan anion ekstraseluler ditemukan di darah, cairan intestinal, dan limpa. Berfungsi mempertahankan tekanan osmotik darah. Nilai normal klorida sekitar 95 – 105 mEq/L (mmol/L).
g)      Bikarbonat
Bikarbonat merupakan molekul anion. Berfungsi pada keseimbangan asam basa. Di atur oleh ginjal. Nilai normal sekitar 25 – 29 mEq/ L (mmol/L).
h)      Fosfat
Ion fosfat merupakan anion dalam sel tubuh. Berfungsi sebagai keseimbangan asam basa. Penting pada pembelahan sel dan transmisi dari herediter. Fosfat diatur oleh PTH (Parathyroid hormon) dan diaktifkan oleh vitamin D. Nilai normal sekitar 2,5 – 4,5 mEq/L (mmol/L)


2)      Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
a)      Usia.
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
b)      Suhu lingkungan
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktivitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
c)      Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elektrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
d)     Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah dan pemecahan glykogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
e)      Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh; misalkan :
-          Trauma seperti luka bakar akan meningkat kehilangan air melalui IWL.
-          Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
-          Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.

4.      ELIMINASI
Eliminasi merupakan proses pembuangan. Pemenuhan kebutuhan eliminasi terdiri dari kebutuhan kebutuhan eliminasi uri (berkemih) dan eliminasi alvi (defekasi)
a.      Eliminasi Uri (Berkemih)
1)      Sistem urinaria
a)      Ginjal
Ginjal merupakan organ retroperitoneal yang terdiri atas dua bagian yaitu kanan dan kiri tulang belakang. Fungsi ginjal yaitu sebagai pengatur komposisi dan volume cairan dalam tubuh serta menyaring bagian dari darah untuk dibuang dalam bentuk urine.
b)      Kandung kemih (bladder, buli-buli)
Merupakan sebuah kantong yang terdiri dari otot halus yang berfungsi sebagai penampung urine.
c)      Uretra
Merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar. Pada pria dan wanita fungsinya berbeda yaitu pada pria sebagai tempat pengaliran urine dan sekaligus sebagai sistem reproduksi tetapi pada wanita hanya menyalurkan urine kebagian luar tubuh.
2)      Fakor – faktor yang mempengaruhi eliminasi urin
a)      Pertumbuhan dan perkembangan
Misal pada anak-anak masih kesulitan untuk mengontrol buang air kecil tetapi setelah bertambahnya usia (dewasa) kemampuan dalam mengontrol buang air kecil meningkat.
b)      Social cultural
Adanya masyarakat tertentu yang melarang buang air kecil di tempat tertentu.
c)      Psikologis
Meningkatnya sensitivitas untuk berkemih dan jumlah urine yang diproduksi disebabkan stress (psikologis).
d)     Kebiasaan sesorang (gaya hidup)
Misalnya seserang yang sudah terbiasa berkemih ditoilet akan mengalami kesulitan jika berkemih dengan urineal atau pot urine.
e)      Tonus otot dan tingkat aktivitas
Tonus otot kandung kemih, otot abdomen dan pelvis jika mengalami gangguan akan mempengaruhi pengeluaran urine. Tingkat aktivitas dapat memperbaiki tonus otot.
f)       Intake cairan dan makanan
Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi jumlah urine. Misalnya protein, natrium, kopi.
g)      Kondisi penyakit
Misalnya pada pasien diabetes melitus.
h)      Pembedahan
Efek pembedahan dapat menurunkan filtrasi glomerulus mempengaruhi produksi urine (turun) karena pemberian obat anestesi.
i)        Pengobatan
Pemberian diuretik dapat meningkatkan jumlah urine, sebaliknya pemberian anti hipertensi menyebabkan retensi urine.
j)        Pemeriksaan diagnostik
Misal pemeriksaan IVP (Intra Venus Pyelogram) yang dapat membatasi asupan sehingga mengurangi jumlah urine.
3)      Masalah Eliminasi Urine
a)      Retensi urine
Penumpukan urine di didalam kandung kemih akibat ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih, sehingga menyebabkan distensi vesika urinaria.
b)      Inkontinensia urine
Ketidakmampuan otot spingter ekternal mengontrol ekskresi urine disebabkan oleh proses penuaan (aging proses), pembesaran kelenjar prostat, penurunan kesadaran, penggunaan obat narkotik dan sedatif.
c)      Enuresis
Tidak sanggup menahan kemih (ngompol) biasanya terjadi pada anak maupun jompo.
b.      Eliminasi Alvi (Buang Air Besar)
1)      Fisiologi Defekasi
Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi.
2)      Defekasi dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu
a)      Refleks defekasi instrinsik.
Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden, kolon sigmoid, dan didalam rektum. Gelombang ini menekan feses kearah anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus, spingter anal interna tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar.
b)      Refleks defekasi parasimpatis.
Ketika serat saraf dalam rektum dirangsang, signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 – 4) dan kemudian kembali ke kolon desenden, kolon sigmoid dan rektum. Sinyal – sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik, melemaskan spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik. Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan, spingter anus eksternal tenang dengan sendirinya.
Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan feses melalui saluran anus.
Defekasi normal dipermudah dengan refleksi paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum.
Jika refleks defekasi diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan mengkontraksikan muskulus spingter eksternal, maka rasa terdesak untuk defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk menampung kumpulan feses.
Susunan feses terdiri dari bakteri yang umumnya sudah mati, lepasan epitelium dari usus, sejumlah kecil zat nitrogen terutama musin (mucus), garam terutama kalsium fosfat, sedikit zat besi dari selulosa, sisa zat makanan yang tidak dicerna dan air (100 ml).
3)      Faktor-faktor yang mempengaruhi Eliminasi fecal.
Usia dan perkembangan, diet, pemasukan cairan, aktifitas fisik,, faktor psikologik, kebiasaan, posisi, nyeri, kehamilan, operasi & anestesi, obat-obatan, test diagnostik, kondisi patologis, iritans.
4)      Masalah eliminasi fecal.
a)      Konstipasi
Konstipasi merupakan gejala, bukan penyakit yaitu menurunnya frekuensi BAB disertai dengan pengeluaran feses yang sulit, keras, dan mengejan. BAB yang keras dapat menyebabkan nyeri rektum. Kondisi ini terjadi karena feses berada di intestinal lebih lama, sehingga banyak air diserap.
b)      Impaction
Impaction merupakan akibat konstipasi yang tidak teratur, sehingga tumpukan feses yang keras di rektum tidak bisa dikeluarkan. Impaction berat, tumpukan feses sampai pada kolon sigmoid.
c)      Diare
Diare merupakan BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk. Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat. Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan meningkatkan sekresi mukosa. Akibatnya feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan menahan BAB.
d)     Inkontinensia fecal
Yaitu suatu keadaan tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus, BAB encer dan jumlahnya banyak. Umumnya disertai dengan gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal cord dan tumor spingter anal eksternal. Pada situasi tertentu secara mental pasien sadar akan kebutuhan BAB tapi tidak sadar secara fisik.
e)      Flatulens
Yaitu menumpuknya gas pada lumen intestinal, dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram. Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus). Hal-hal yang menyebabkan peningkatan gas di usus adalah pemecahan makanan oleh bakteri yang menghasilkan gas metan, pembusukan di usus yang menghasilkan CO2.
f)       Hemoroid
Yaitu dilatasi pembengkakan vena pada dinding rektum (bisa internal atau eksternal). Hal ini terjadi pada defekasi yang keras, kehamilan, gagal jantung dan penyakit hati menahun. Perdarahan dapat terjadi dengan mudah jika dinding pembuluh darah teregang. Jika terjadi inflamasi dan pengerasan, maka pasien merasa panas dan gatal. Kadang-kadang BAB dilupakan oleh pasien, karena saat BAB menimbulkan nyeri. Akibatnya pasien mengalami konstipasi.

5.      PERSONAL HYGIENE
a.      Konsep Dasar
Asal kata dari Yunani artinya kebersihan perseorangan, tindakan menjaga kebersihan seseorang. Personal Hygiene adalah suatu tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
 b.      Tujuan Perawatan Personal Hyegine
1)      Peningkatan derajat kesehatan
2)      Pelihara kesehatan diri
3)      Perbaikan personal hyegine
4)      Mencegahan penyakit
5)      Meningkatkan percaya diri
6)      Ciptakan keindahan
c.       Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hyegine
1)      Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya karena adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli terhadap kebersihannya
2)      Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola Personal Hygiene
3)      Status sosial ekonomi
Personal Hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya
4)      Pengetahuan
Pengetahuan Personal Hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita DM ia harus menjaga kebersihan kakinya.
5)      Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan.
6)      Kebiasaan
Ada kebiasaan seseorang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan dirinya seperti penggunaan sabun, sampo, dan lain-lain.
7)      Kondisi fisik
Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya
d.      Dampak Yang Sering Timbul Pada Masalah Personal Hygiene
1)      Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga, dan gangguan fisik pada kuku.
2)      Dampak Psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan Personal Hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

6.      AKTIVITAS DAN LATIHAN
a.      Pengertian
Pengertian aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana manusia memerlukannya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Kemampuan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja merupakan salah satu dari tanda kesehatan individu tersebut dimana kemampuan aktivitas seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan muskuloskeletal. Aktivitas fisik yang kurang memadai dapat menyebabkan berbagai gangguan pada sistem musculoskeletal seperti atrofi otot, sendi menjadi kaku dan juga menyebabkan ketidakefektifan fungsi organ internal lainnya.
Latihan merupakan suatu gerakan tubuh secara aktif yang dibutuhkkan untuk menjaga kinerja otot dan mempertahankan postur tubuh. Latihan dapat memelihara pergerakan dan fungsi sendi sehingga kondisinya dapat setara dengan kekuatan dan fleksibilitas otot. Selain itu, latihan fisik  dapat membuat fungsi gastrointestinal dapat bekerja lebih optimal dengan meningkatkan selera makan orang tersebut dan melancarkan eliminasinya karena apabila seseorang tidak dapat melakukan aktifitas fisik secara adekuat maka hal tersebut dapat membuat otot abdomen menjadi lemah sehinga fungsi eliminasinya kuang efektif.
Aktivitas sehari-hari (ADL)  merupakan salah satu bentuk latihan aktif pada seseorang termasuk didalamnya adalah makan/minum, mandi, toileting, berpakaian, mobilisasi tempat tidur, berpindah dan ambulasi/ROM. Pemenuhan terhadap ADL ini dapat meningkatkan harga diri serta gambaran diri pada seseorang, selain itu ADL merupakan aktifitas dasar yang dapat mencegah individu tersebut dari suatu penyakit sehingga tindakan yang menyangkut pemenuhan dalam mendukung pemenuhan ADL pada klien dengan intoleransi aktifitas harus diprioritaskan.
Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan  guna mempertahankan kesehatannya. Kehilangan kemampuan untuk bergerak menyebabkan ketergantungan dan ini membutuhkan tindakan keperawatan. Mobilisasi diperlukan untuk meningkatkan kemandirian diri, meningkatkan kesehatan dan memperlambat proses penyakit – khusunya proses degeneratif dan untuk aktualisasi diri (harga diri dan citra tubuh). Imobilitas atau imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan misalnya mengalami trauma tulang belakang, cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas dan sebagainya.
b.      Nilai-Nilai Normal
Kategori tingkat kemampuan aktivitas adalah sebagai berikut :
Tingkat aktivitas / mobilitas
Kategori
Tingkat 0
Tingkat 1
Tingkat 2

Tingkat 3

Tingkat 4
Mampu merawat diri sendiri secara penuh
Memerlukan penggunaan alat
Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain
Memerlukan bantuan, pengawasan orang lain dan peralatan
Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan
Keadaan postur yang seimbang sesuai dengan garis sumbu dengan sentralnya adalah gravitasi. Kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan seperti kemampuan mangangkat beban, maksimal 57 %.
c.       Hal-Hal Yang Perlu Dikaji Pada Klien Yang Mengalami Gangguan Kebutuhan Aktivitas Dan Latihan
1)      Tingkat aktivitas sehari-hari
a)      Pola aktivitas sehari-hari
b)      Jenis, frekuensi dan lamanya latihan fisik
2)      Tingkat kelelahan
a)      Aktivitas yang membuat lelah
b)      Riwayat sesak napas
3)      Gangguan pergerakan
a)      Penyebab gangguan pergerakan
b)      Tanda dan gejala
c)      Efek dari gangguan pergerakan
4)      Pemeriksaan fisik
a)      Tingkat kesadaran
b)      Postur/bentuk tubuh (Skoliosis, Kiposis, Lordosis, Cara berjalan)
c)      Ekstremitas (Kelemahan, Gangguan sensorik, Tonus otot, Atropi, Tremor, Gerakan tak terkendali, Kekuatan otot, Kemampuan jalan, Kemampuan duduk, Kemampuan berdiri, Nyeri sendi, Kekakuan sendi)
d.      Diagnosa Keperawatan
1)      Gangguan mobilitas fisik b.d. immobilisasi dan gangguan neuromuscular
2)      Intoleransi aktivitas b.d nyeri dan pembatasan pergerakan
3)      Defisit perawatan diri b.d kelemahan


e.       Penatalaksanaan
1
Gangguan mobilitas fisik b.d. immobilisasi dan gangguan neuromuskular

Definisi :
Keterbatasan dalam kebebasan untuk pergerakan fisik tertentu pada bagian tubuh atau satu atau lebih ekstremitas
Batasan karakteristik :
-          Postur tubuh yang tidak stabil selama melakukan kegiatan rutin harian
-          Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar
-          Keterbatasan ROM
-          Usaha kuat untuk perubahan gerak
NOC :
Mobility Level
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 hari dapat teridentifikasi Mobility level, dengan kriteria hasil :
-          aktifitas fisik meningkat
-          Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan, kemampuan dalam bergerak
-          Klien bisa melakukan aktifitas walaupun dengan dibantu
-          Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)
NIC :
Exercise therapy : ambulation
-          Monitoring vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan
-          Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi
-          Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
-          Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
-          Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
-          Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
-          Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan
2
Intoleransi aktivitas b.d nyeri dan pembatasan pergerakan

Definisi : Ketidakcukupan energi secara fisiologis maupun psikologis untuk meneruskan atau menyelesaikan aktifitas yang diminta atau aktifitas sehari hari.


Batasan karakteristik :
-          Melaporkan secara verbal adanya kelelahan atau kelemahan.
-          Respon abnormal dari tekanan darah atau nadi terhadap aktifitas
-          Perubahan EKG yang menunjukkan aritmia atau iskemia
-          Adanya dyspneu atau ketidaknyamanan saat beraktivitas.

Faktor factor yang berhubungan :
-          Tirah Baring atau imobilisasi
-          Kelemahan menyeluruh
-          Ketidakseimbangan antara suplei oksigen dengan kebutuhan
-          Gaya hidup yang dipertahankan.
NOC :
         Energy conservation
         Self Care : ADLs
Kriteria Hasil :
         Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR
         Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
NIC :
Energy Management
-          Observasi adanya pembatasan ps dalam melakukan aktivitas
-          Dorong ps untuk mengungkapkan perasaan terhadap keterbatasan
-          Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
-          Monitor nutrisi  dan sumber energi yang adekuat
-          Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan
-          Monitor respon kardivaskuler  terhadap aktivitas
-          Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
-          Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat.
-          Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
-          Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
-          Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
-          Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek
-          Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
-          Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang
-          Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
-          Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
-          Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
-          Monitor respon fisik, emosi, social dan spiritual
3
Defisit perawatan diri b.d kelemahan

Batsan karakteristik:
Pasien tidak mampu mandi dan toileting secara mandiri
NOC :
Self Care:ADL’s
Kriteria Hasil :
-       Klien terbebas dari bau badan
-       Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan ADLs
-       Dapat melakukan ADLS dengan bantuan
NIC :
Self Care assistance : ADLs
-          Monitor kemampuan klien untuk perawatan diri yang mandiri.
-          Monitor kebutuhan klien untuk alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.
-          Sediakan bantuan sampai klien mampu secara utuh untuk melakukan self-care.
-          Dorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki.
-          Dorong untuk melakukan secara mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
-          Ajarkan klien/keluarga untuk mendorong kemandirian, untuk memberikan bantuan hanya jika pasien tidak mampu untuk melakukannya.
-          Berikan aktivitas rutin sehari-hari sesuai kemampuan.
-          Pertimbangkan usia klien jika mendorong pelaksanaan aktivitas sehari-hari.

7.      PEMBERIAN OBAT
a.      NAMA OBAT
1)      Nama KIMIA = memberi gambaran pasti komposisi obat
Contoh à asetil salisilat dikenal sebagai aspirin
2)      Nama GENERIK = diberikan oleh pabrik pertama kali diproduksi sebelum mendapat izin dari FDA
Contoh à Aspirin
3)      Nama dagang, merk, pabrik = nama yang digunakan pabrik untuk memasarkan obat. Ex aspirin dikenal dengan nama dagang Bufferin
b.   KLASIFIKASI
1)      Analgetik
2)      Anti piretik
3)      Anti inflamasi
4)      Anti biotik
Adakalanya sebuah obat dapat memiliki klasifikasi lebih dari satu, ex aspirin (analgetik, antipiretik, anti inflamasi)
Setiap golongan obat memiliki implikasi keperawatan untuk pemberian dan pemantauan yang tepat.
Ex. golongan diuretik à memberikan implikasi keperawatan :
1)      Memantau input dan output cairan
2)      Menimbang BB tiap hari
3)      Mengkaji adanya edema
4)      Memantau kadar elektrolit serum
c.    BENTUK OBAT
1)      KAPLET = dosis padat, bentuk spt kapsul dan bersalut, shg mudah ditelan
2)      KAPSUL = dosis padat, bentuk bubuk, cairan atau minyak, dibungkus selongsong gelatin
3)      ELIKSIR = cairan jernih berisi air/alkohol, ditambah pemanis
4)      EKSTRAK = bentuk pekat
5)      GLISERIT = dikombinasi dengan gliserin + 50%, untuk penggunaan luar
6)      LINIMENT = obat gosok, dioles di kulit
7)      SALEP = semisolid (Agak padat)
8)      PASTA = semisolid, lebih kental, kaku, diabsorbsi kulit lebih lambat dari pada salep
9)      LARUTAN = cairan (per oral, parenteral)
10)  SUPOSITORIA = dosis padat dicampur gelatin, bentuk peluru, meleleh saat mencapai suhu tubuh
11)  SUSPENSI = partikel obat yang dibelah sampai halus dan larut dalam media cair
12)  SYRUP = obat larut dalam gula pekat, mengandung perasa membuat terasa lebih enak
13)  TABLET = dosis bubuk dikompresi dalam cakram atau silinder yang keras
d.   SIFAT KERJA OBAT
FARMAKOKINETIK = ilmu tentang cara obat masuk ke dalam tubuh, mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar dari tubuh.
e.    RUTE PEMBERIAN OBAT
1)      RUTE ORAL
a)      Pemberian per oral = paling mudah dan paling umum digunakan. Diberikan via mulut dan ditelan.
Tujuan pemberian :
-          Untuk memudahkan dalam pemberian
-          Proses reabsorbsi lebih lambat sehingga bila timbul efek samping dari obat tersebut dapat segera diatasi
-          Menghindari pemberian obat yang menyebabkan nyeri
-          Menghindari pemberian obat yang menyebabkan kerusakan kulit dan jaringan
b)      Pemberian sub lingual = memberikan obat dengan cara meletakkan obat di bawah lidah sampai habis diabsorbsi ke dalam pembuluh darah, langsung larut (nitrogliserin)
Tujuan pemberian :
-          Mencegah efek lokal dan sistemik
-          Untuk memperoleh aksi kerja obat yang lebih cepat dibandingkan secara oral
-          Untuk menghindari kerusakan obat oleh hepar
c)      Pemberian BUKAL = menempatkan obat padat di antara gusi dengan membran mukosa pipi sampai obat larut, tidak dikunyah / ditelan
Tujuan pemberian :
-          Mencegah efek lokal dan sistemik
-          Untuk memperoleh aksi kerja obat yang lebih cepat dibandingkan secara oral
-          Untuk menghindari kerusakan obat oleh hepar
2)      RUTE PARENTERAL
Pemberian obat parenteral merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan menyuntikkan obat tersebut ke jaringan tubuh atau pembuluh darah dengan menggunakan spuit.
Tujuan :
a)      Untuk mendapatkan reaksi yang lebih cepat dibandingkan dengan cara yang lain
b)      Untuk memperoleh reaksi setempat (tes alergi)
c)      Membantu menegakkan diagnosa (penyuntikan zat kontras)
d)     Memberikan zat imunologi
Klasifikasi :
a)      SC = sub kutan = injeksi ke dalam jaringan tepat di bawah lapisan dermis kulit
Injeksi subcutaneous adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat kedalam jaringan subcutan dibawah kulit dengan menggunakan spuit
Tujuan : Memasukkan sejumlah obat kedalam jaringan subcutan dibawah kulit untuk diabsorbsi.
Tempat Injeksi
-          Lengan bagian atas luar
-          Paha depan
-          Daerah abdomen
-          Area scapula pada punggung bagian atas
-          Daerah ventrogluteal dan dorsogluteal bagian atas
b)      ID = intra dermal = injeksi ke dalam dermis tepat di bawah epidermis
Adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat kedalam jaringan dermis di bawah epidermis kulit dengan menggunakan spuit.
Tujuan
-          Memasukkan sejumlah toksin atau obat yang disimpan dibawah kulit untuk diabsorbsi
-          Metode untuk test diagnostic terhadap alergi atau adanya penyakit-penyakit tertentu
Tempat Injeksi
-          Lengan bawah bagian dalam
-          Dada bagian atas
-          Punggung di bawah skapula
c)      IM = intra muskular = injeksi ke dalam otot tubuh
Injeksi intramuskuler adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat kedalam jaringan otot dengan menggunakan spuit
Tujuan
Memasukkan sejumlah obat pada jaringan otot untuk diabsorbsi
Tempat Injeksi
-          Pada Daerah Lengan Atas (Deltoid)
-          Pada Daerah Dorsogluteal (Gluteus Maximus)
-          Pada Daerah Paha Bagian Luar (Vastus Lateralis)
-          Pada Daerah Paha Bagian Depan (Rectus Femoris)

d)     IV = intra vena = suntikan ke dalam vena
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit
Tujuan
-          Untuk memperoleh reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada dengan injeksi parenteral lain.
-          Untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan
-          Untuk memasukkan obat dalam jumlah yang lebih besar
Tempat Injeksi
-          Pada lengan (vena basalika dan vena sefalika)
-          Pada tungkai (vena saphenous)
-          Pada leher (vena jugularis)
-          Pada kepala (vena frontalis atau vena temporalis)
e)      Pemberian obat parenetral lainnya …
-          EPIDURAL
Obat diberikan dalam ruang epidural via kateter yang telah dipasang, ex jalan analgesik post operasi. Perawat yang telah mendapat pelatihan khusus dapat memberikan obat dalam bentuk bolus
-          INTRATEKAL
Diberikan melalui sebuah kateter yang telah dipasang dalam ruang subaraknoid atau ke dalam salah satu ventrikel otak. Biasanya dalam waktu jangka panjang melalui pembedahan
-          INTRASEOSA
Memasukan obat langsung ke sumsum tulang. Paling sering pada bayi, anak-anak dimana akses pembuluh darahnya buruk. Digunakan pada kondisi darurat. Dokter menginsersi jarum intraseosa ke dalam tulang, biasanya ke tibia, shg perawat dapat memberikan obat
-          INTRAPERITONEAL
Obat diberikan dalam rongga peritonium. Ex kemoterapi, antibiotik
-          INTRAPLEURA
Obat diberikan melalui dinding dada, ke ruang pleura. Ex kemoterapi, pleuradesis (memasukan obat untuk mengatasi efusif pleura)
-          INTRAARTERI
Obat dimasukkan ke dalam arteri. Ex infus arteri pada arteri yang mengalami pembekuan
3)      PEMBERIAN TOPIKAL
Pemberian obat secara topikal adalah memberikan obat secara lokal pada kulit atau pada membrane pada area mata, hidung, lubang telinga, vagina dan rectum.
Tujuan dari pemberian obat topikal secara umum adalah untuk memperoleh reaksi lokal dari obat tersebut.
4)      INHALASI
5)      INTRAOKULER
f.     PEMBERIAN OBAT
1)      BENAR OBAT
2)      BENAR DOSIS
3)      BENAR KLIEN
4)      BENAR RUTE
5)      BENAR WAKTU
g.     PEDOMAN PEMBERIAN dan KONTROL NARKOTIK YANG AMAN
1)      Simpan semua narkotik di dalam lemari atau kotak yang aman dan terkunci
2)      Perawat bertanggungjawab membawa perangkat kunci
3)      Pada pergantian jadwal dinas, cek jumlah obat bersama perawat yang akan jaga
4)      Bila perhitungan jumlah narkotik tidak sesuai, LAPORKAN !
5)      Gunakan catatan inventarisasi khusus tiap kali narkotik dikeluarkan
6)      Catatan digunakan untuk mendokumentasikan nama klien, tanggal, waktu pemberian, nama dan dosis obat serta tanda tangan perawat yang mengeluarkan obat
7)      Format menjelaskan perhitungan akurat narkotik yang digunakan dan sisanya
8)      Jika zat terkontrol yang diberikan hanya satu bagian dari dosis yang ditetapkan, perawat kedua hrs menyaksikan pembuangan bagian narkotik yang tidak digunakan dan mencatatnya dalam format pencatatan.
a)      EFEK TERAPETIK = respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul.
b)      EFEK SAMPING = sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan
c)      EFEK TOKSIK = terjadi jika klien meminum obat dosis tinggi dalam jangka waktu lama
Ex. Morfin (analgesik narkotik) meredakan nyeri dengan menekan susunan syaraf pusat. Bagaimanapun kadar toksik morfin menyebabkan depresi pernafasan yang berat dan kematian.
h.    REAKSI ALERGI = Respon lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat. Dari seluruh reaksi obat, 5% – 10% merupakan reaksi alergi. Timbul bila obat diberikan secara berulang, dapat bersifat ringan s/d berat
1)      REAKSI ALERGI RINGAN
a)      Urtikaria = Erupsi kulit yang bentuknya tidak beraturan, meninggi, ukuran dan bentuk bervariasi, erupsi memiliki batas berwarna merah dan bagian tengahnya berwarna pucat
b)      RUAM = vesikel kecil dan meninggi yang biasanya berwarna merah, seringkali tersebar di seluruh tubuh
c)      PRURITIS = gatal – gatal pada kulit, kebykn timbul bersama ruam
d)     RINITIS = inflamasi lapisan membran mukosa hidung, menimbulkan bengkak dan pengeluaran rabas encer dan berair
2)      REAKSI BERAT/ REAKSI ANAFILAKSIS
a)      Konstriksi otot bronkhiolus
b)      Edema faring dan laring
c)      Mengi berat dan sesak nafas
d)     Hipotensi berat
i.       DIAGNOSA KEPERAWATAN/KEBIDANAN UNTUK TERAPI OBAT
1)      Kurang pengetahuan tentang terapi obat b/d =
a)      Kurang informasi dan pengalaman
b)      Keterbatasan kognitif
c)      Tidak mengenal sumber informasi
2)      Ketidakpatuhan terhadap terapi obat b/d =
a)      Sumber ekonomi yang terbatas
b)      Keyakinan tentang kesehatan
c)      Pengaruh budaya
3)      Hambatan mobilitas fisik b/d =
a)      Penurunan kekuatan
b)      Nyeri dan ketidaknyamanan
4)      Perubahan sensori / persepsi b/d = Pandangan kabur
5)      Gangguan menelan b/d =
a)      Kerusakan neuromuskuler
b)      Irigasi rongga mulut
c)      Kesadaran yang terbatas
6)      Penatalaksanaan program terapetik tidak efektif b/d =
a)      Terapi obat yang kompleks
b)      Pengetahuan yang kurang
j.          SISTEM PERHITUNGAN OBAT
2)      SISTEM METRIK
a)      Paling teratur, mudah dikonversi dan dihitung (perkalian, pembagian sederhana)
10,0 mg x 10 = 100 mg
10,0 mg / 10 = 1,00 mg
b)      Pecahan selalu dalam bentuk desimal (500 mg = 0,5 g)
2)      SISTEM APOTHECARY
a)      Dikenal di As, Kanada
b)      Standar pengukuran biasanya di rumah (susu dalam botol = pint = 0,568 lt ; quarts = 0,9463 lt)
c)      Satuan berat (Inggris) = grain (turunan : dram, ons, pound)
d)     Satuan volume = minim (setara 1 grain)
e)      Sistem ini tidak akurat
3)      UKURAN RUMAH TANGGA
a)      Tetesan, sendok teh, sendok makan
b)      Keuntungan = aspek kenyamanan, mudah dikenali

Tabel EKUIVALENSI UKURAN
METRIK
APOTHECARY
RUMAH TANGGA
1 ml
fluidram
1 sendok teh (sdt)
4-5 ml
4 fluidrams
1 sendok makan (sdm)
16 ml
1 fluid ounce
2 sendok makan (sdm)
30 ml
8 fluid ounce
1 cangkir ©
240 ml
1 pint (pt)
1 pint (pt)
480 ml (Kira2 500ml)
1 quart (qt)
1 quart (qt)
960 ml (Kira2 1 Ltr)
1 galon (gal) 15 tetes (tts)
1 galon (gal)
3840 ml (Kira2 5 Ltr) 15 – 16 minim (m)
-
-

4)      LARUTAN
= Suatu massa zat padat yang larut dalam suatu volume cairan lain yang diketahui (g/mL, g/L, mg/mL)
a)      Larutan 10% = 10 g zat padat yang dilarutkan dalam 100 mL larutan.
b)      Larutan 1 : 1000 = larutan yang mengandung 1 g zat padat dalam 1000 mL cairan / 1 ml cairan dalam 1000 mL cairan lain.
k.    PENGARUH KERJA OBAT PADA LANSIA
1)      SALURAN CERNA
a)      Elastisitas hilang pada mukosa mulut, sehingga menjadi kering dan pecah-pecah
b)      Intervensi =
-          Sering kumur dengan air hangat
-          Dental fross
-          Sikat gigi dan gusi dengan lembut
2)      ESOFAGUS
a)      Bersihan esofagus lambat krn kontraksi melemah dan sfingter esogafus bawah tidak bisa relaksasi
b)      Intervensi =
-          Posisi klien tegak
-          Berikan cairan segelas bersama obat
-          Gerus tablet, campur dengan air
3)      GASTER
a)      Penurunan keasaman lambung dan peristaltik
b)      Intervensi = minta klien minum 1 gelas penuh air dan meminum obat dengan kudapan tidak berlemak untuk mengurangi ggn lambung
4)      USUS BESAR
a)      Tonus otot kolon menurun, refleks defekasi menghilang, aliran darah di usus menurun
b)      Intervensi =
-          Beri asupan cairan dalam jumlah normal
-          Anjurkan klien makan pembentuk feses
5)      INTEGUMEN dan VASKULARISASI
a)      Penurunan ketebalan lipatan kulit
b)      Elastisitas kulit dan vaskularisasi menurun
c)      Intervensi =
-          Hindari penggunaan vena di tangan sebagai tempat suntikan IV
-          Tekan tempat injeksi setelah penyuntikan
-          Observasi perdarahan di tempat injeksi
6)      HEPAR
a)      Penurunan ukuran hati
b)      Menurunnya aliran darah hati
c)      Intervensi =
-          Pantau tanda kerusakan hati (ikterus, pruritis, urine gelap)
-          Tanyakan dosis untuk klien yang menderita penyakit hati
7)      GINJAL
a)      Filtrasi glomerolus menurun, fungsi tubulus dan aliran ginjal menurun
b)      Intervensi =
-          Cegah retensi urine, pantau kateter
-          Pantau tanda kerusakan ginjal (keluaran menurun, sulit berkemih)

8.      PENCEGAHAN INFEKSI DAN KOMPLIKASI
a.        Pengertian
Pencegahan infeksi adalah Suatu usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya resiko penularan infeksi mikro organisme dari lingkungan klien dan tenaga kesehatan (Nakes). Pencegahan infeksi merupakan bagian esensial dari asuhan lengkap yang yang diberikan kepada klien untuk melindungi petugas kesehatan itu sendiri.
b.        Tujuan Pencegahan Infeksi
Tujuan pencegahan infeksi :
1)      Melindungi klein dan petugas kesehatan dari akibat tertularnya penyakit infeksi
2)      Mencegah infeksi silang dalam prosedur pelayanan.
3)      Menurunkan resiko tranmisi penyakit menular, seperti Hepatitis B dan HIV AIDS, baik bagi klien maupun bagi petugas fasilitas kesehatan.
c.         Transmisi Kuman
Transmisi kuman merupakan proses masuknya kuman ke dalam tubuh manusia yang dapat menimbulkan radang atau penyakit. Proses tersebut melibatkan beberapa unsur antara lain :
1)      Reservoir merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme (MO), dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan dan tanah.
2)      Jalan masuk merupakan jalan masuknya MO ke tempat penampungan dari berbagai kuman seperti saluran pernapasan, pencernaan , kulit, dan lain-lain.
3)      Inang (Host) tempat berkembangnya suatu MO, yang dapat didukung oleh ketahanan kuman
4)      Jalan keluar tempat keluar MO dari reservoir, seperti system respirasi, pencernaan, alat kelamin, dll.
5)      Jalur penyebaran merupakan jalur yang dapat menyebarkan berbagai kuman MO ke berbagai tempat, seperti air, makanan, udara, dll.
d.        Prinsip Dasar Pencegahan Infeksi
1)      Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi yang terjadi bersifat asimptomatik (tanpa gejala).
2)      Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi
3)      Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan  dengan kulit tak utuh / selaput mukosa atau dara, harus dianggap terkontaminasi sehingga setelah selesai digunakan harus dilakukan proses PI secara benar.
4)      Jika tidak diketahui apakah permukaan, dan benda-benda lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah terkontaminasi.
5)      Resiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan PI benar dan konsisten.


e.         Beberapa Definisi Dalam Pencegahan Infeksi
Antara lain adalah :
1)      Antisepsis
Antisepsis adalah usaha mencegah infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh lainnya.
2)      Asepsis atau Teknik Aseptik
Asepsis atau teknik aseptik adalah semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan infeksi. Caranya adalah menghilangkan dan atau menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit, jaringan dan benda - benda mati hingga tingkat aman.
3)      Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman benda-benda (peralatan medis, sarung tangan, meja pemeriksaan) yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Cara memastikannya adalah segera melakukan dekontaminasi terhadap benda - benda tersebut setelah terpapar/terkontaminasi darah atau cairan tubuh.
4)      Disinfeksi
Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir semua mikroorganisme penyebab penyakit pada benda – benda mati atau instrumen.
5)      Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)
Suatu proses yang menghilangkan mikro organisme kecuali beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus, atau penggunaan desinfektan kimia.
6)      Mencuci dan membilas
Suatu proses yang secara fisik menghilangkan semua debu, kotoran, darah, dan bagian tubuh lain yang tampak pada objek mati dan membuang sejumlah besar mikro organisme untuk mengurangi resiko bagi mereka yang menyentuh kulit atau menangani benda tersebut (proses ini terdiri dari pencucian dengan sabun atau deterjen dan air, pembilasan dengan air bersih dan pengeringan secara seksama).
7)      Sterilisasi
Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrumen.
f.         Tindakan-Tindakan Pencegahan Infeksi
Meliputi :
1)      Cuci tangan
2)      Memakai sarung tangan
3)      Memakai perlengkapan pelindung
4)      Menggunakan asepsis atau teknik aseptik
5)      Memproses alat bekas pakai
6)      Menangani peralatan tajam dengan aman
7)      Menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan serta pembuangan sampah secara benar.

9.      INTAKE DAN OUTPUT
a)      Intake Cairan
Selama aktivitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-kira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.


Tabel 1. Kebutuhan Intake Cairan Berdasarkan Umur Dan Berat Badan
NO
UMUR
BB (KG)
KEBUTUHAN CAIRAN (ML/24 JAM)
1
3 hari
3
250-300
2
1 tahun
9,5
1150-1300
3
2 tahun
11,8
1350-1500
4
6 tahun
20
1800-2000
5
10 tahun
28,7
2000-2500
6
14 tahun
45
2200-2700
7
18 tahun
54
2200-2700

Pengaturan utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di otak sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walaupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh gastrointestinal.
b)     Output Cairan
Kehilangan cairan tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
1)      Urine
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekskresi melalui traktus urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam pada orang dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh.
a)      IWL (Insesible Water Loss)
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit. Melalui kulit dengan mekanisme diffusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 ml per hari, tetapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat.
b)      Keringat
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit.
c)      Feses
Pengeluaran air melalui feses berkisar antara 100-200 ml per hari, yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).

10.  AMBULASI
Ambulasi merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien pasca operasi dimulai dari bangun, dan duduk di sisi tempat tidur hingga pasien turun dari tempat tidur, berdiri dan mulai belajar berjalan.
Manfaat ambulasi adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah flebotrombosis (thrombosis vena profunda/DVT). Mengurangi komplikasi immobilisasi pasca operasi, mempercepat pemulihan peristaltic usus, mempercepat pasien pasca operasi (Hinchliff, 1999; Craven dan Hirnle, 2009).
Ambulasi sangat penting dilakukan pada pasien pasca operasi karena jika pasien membatasi pergerakannya di tempat tidur dan sama sekali tidak melakukan ambulasi pasien akan semakin sulit untuk memulai berjalan (Kozier, 1989).
Menurut Kozier dan Erb (1987), factor yang mempengaruhi ambulasi adalah kondisi kesehatan pasien, nutrisi, emosi, situasi dan kebiasaan serta gaya hidup dan pengetahuan.
a.      Pengertian
Ambulasi adalah latihan yang paling berat dimana pasien yang di rawat di rumah sakit dapat berpartisipasi kecuali dikontraindikasikan oleh kondisi pasien. Hal ini harusnya menjadi bagian dalam perencanaan latihan untuk semua pasien (Berger dan Williams, 1992).
Ambulasi mendukung kekuatan, daya tahan dan fleksibelitas. Keuntungan dari latihan berangsur-angsur dapat di tingkatkan seiring dengan pengkajian data pasien menunjukkan tanda peningkatan toleransi aktivitas. Menurut Kozier (1995 dalam Asmandi, 2008) ambulasi adalah aktivitas berjalan. Ambulasi dini merupakan tahapan kegiatan yang dilakukan segera pada pasien paska operasi dimulai dari duduk sampai pasien turun dari tempat tidur dan mulai berjalan dengan bantuan alat sesuai dengan kondisi pasien.
b.      Tujuan
1)      Untuk memenuhi kebutuan aktivitas
2)      Memenuhi kebutuhan ambulasi
3)      Mempertahankan kenyamanan
4)      Mempertahankan toleransi terhadap aktivitas
5)      Mempertahankan control diri pasien
6)      Memindahkan pasien untuk pemeriksaan
c.       Tindakan - Tindakan Ambulasi
1)      Duduk diatas tempat tidur
2)      Turun dan berdiri dari tempat tidur
3)      Bantu berjalan
4)      Memindahkan pasien dari tempat tidu ke branchard


d.      Alat-Alat Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Ambulasi
1)      Kruk adalah alat yang terbuat dari logam atau kayu dan digunakan permanen untuk meningkatkan mobilisasi serta untuk menopang tubuh dalam keseimbangan pasien. Misalnya: Conventional, Adjustable dan lofstrand
2)      Canes (tongkat) yaitu alat yang terbuat dari kayu atau logam setinggi pinggang yang digunakan pada pasien dengan lengan yang mampu dan sehat. Meliputi tongkat berkaki panjang lurus (single stight-legged) dan tongkat berkaki segi empat (quad cane).
3)      Walkers yaitu alat yang terbuat dari logam mempunyai empat penyangga yang kokoh digunakan pada pasien yang mengalami kelemahan umum, lengan yang kuat dan mampu menopang tubuh.

11.  ISTIRAHAT DAN TIDUR
Setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar fisiologis untuk istirahat teratur. Jumlah kebutuhan istirahat bervariasi, bergantung pada kualitas tidur, status kesehatan, pola aktivitas, gaya hidup dan umur seseorang. Tekanan fisik dan emosi juga bisa meningkatkan kebutuhan istirahat klien. Istirahat dan tidur sering memberikan perasaan terlepas sementara dari tekanan.
a.      Istirahat
1)      Pengertian
Istirahat bisa didefinisikan sebagai keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional dan bukan hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga berhenti sejenak untuk mendapatkan ketenangan.
2)      Karakteristik
Menurut Perry dan Potter (1997) ada 6 karakteristik istirahat yaitu merasakan bahwa segala sesuatu bisa diatasi, merasa diterima, mengetahui apa yang sedang terjadi, bebas dari gangguan ketidaknyamanan, mempunyai sejumlah kepuasan terhadap aktivitas yang mempunyai tujuan, mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan.
b.      Tidur
1)      Pengertian
Menurut Guyton (1986), tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai, atau juga dapat dikatakan sebagai suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses fisiologis, dan terjadi penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.
Tidur bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan kesehatan. Secara umum terdapat dua efek fisiologis tidur, pertama efek terhadap sistem saraf yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf; kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi organ dalam tubuh, mengingat terjadinya penurunan aktivitas organ-organ tubuh tersebut selama tidur.
2)      Berdasarkan proses tidur terdapat dua jenis tidur yaitu :
a)      Tidur gelombang lambat (slow wave sleep)/NREM (Non Rapid Eye Movement)/tidur nyenyak
Ciri-ciri tidur nyenyak yaitu menyegarkan tanpa mimpi atau tidur dengan gelombang delta, keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, pergerakkan bola mata melambat, mimpi berkurang serta metabolisme turun.
Tahapan tidur jenis NREM :
-          Tahap I
Merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur, ciri-cirinya yaitu rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak, frekuensi nadi dan napas menurun, yang berlangsung selama 5 menit.
-          Tahap II
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun, ciri-cirinya yaitu mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi napas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung selama 10-15 menit.
-          Tahap III
Ciri-ciri tahap ini yaitu denyut nadi dan frekuensi napas dan proses tubuh lainnya lambat.
-          Tahap IV
Merupakan tahap tidur dalam, ciri-cirinya yaitu kecepatan jantung dan napas turun, jarang bergerak dan sulit dibangunkan, gerak bola mata cepat, skresi lambung dan tonus otot menurun.
b)      Tidur paradoks/tidur REM (Rapid Eye Movement)
Terjadi pada tidur malam selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi 80-100 menit. Ciri tidur REM yaitu :
-          Biasanya disertai dengan mimpi aktif
-          Lebih sulit dibangunkan
-          Tonus otot tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis
-          Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
-          Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan tidak teratur, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, skresi gaster meningkat dan metabolisme meningkat.
3)      Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor
a)      Stres psikologi
Seseorang yang memiliki masalah psikologis akan mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.
b)      Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Sebaliknya kebutuhan nutrisi yang kurang akan menyebabkan sulit tidur.
c)      Obat
Obat golongan diuretik dapat mempengaruhi proses tidur (insomnia), antidepresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur.
d)     Aktivitas
Aktivitas yang tinggi membutuhkan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan.
e)      Penyakit
Seseorang yang sedang sakit dapat menjadikan orang itu kurang tidur atau bahkan tidak bisa tidur karena penyakitnya itu.
f)       Lingkungan
Lingkungan yang nyaman dan aman dapat mempercepat proses tidur tetapi jika keadaan lingkungan tidak nyaman dapat menghilangkan keinginan untuk tidur.
g)      Motivasi
Merupakan keinginan untuk tidur, jika ada keinginan untuk tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
4)      Ada beberapa gangguan atau masalah dalam kebutuhan tidur yaitu :
a)      Insomnia
Ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas. Proses gangguan tidur ini kemungkinan disebabkan adanya rasa khawatir atau tekanan jiwa.
b)      Hipersomnia
Gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan.
c)      Parasomnia
Kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur seperti somnambulis (berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak.
d)     Enuresis
Gangguan tidur yang disebabkan oleh enuresis (mengompol), umumnya terjadi pada anak-anak.
e)      Apnea tidur dan mendengkur
Mendengkur yang disertai dengan apnea dapat menjadi masalah dalam tidur karena jika terjadinya apnea dapat mengacaukan saat bernapas dan bahkan bisa menyebabkan henti napas, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.
f)       Narcolepsi
Keadaan tidur yang tidak dapat dikendalikan (mengantuk berat). Ini merupakan suatu gangguan neurologis

12.  BODY MEKANIK
Adalah suatu mengkoordinasi sistem muskulosketel dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh dalam mengangkat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Penggunaan mekanika tubuh yang tepat akan :
a.       Mengurangi resiko cedera sistem muskuloskeletal
b.      Memfasilitasi pergerakan tubuh
c.       Mobilisasi fisik tanpa ketegangan otot & penggunaan energi otot yang berlebihan
Kesejajaran tubuh / Postur
Posisi sendi, tendon, ligamen dan otot selama berdiri, duduk dan berbaring. Kesejajaran yang benar akan :
a.       Mengurangi ketegangan pada struktur muskulosketel
b.      Mempertahankan tonus otot secara adekuat
c.       Menunjang keseimbangan
Keseimbangan Tubuh
Kesejajaran tubuh menunjang keseimbangan tubuh. Tanpa keseimbangan pusat gravitasi akan berubah à peningkatan gaya gravitasi à resiko jatuh atau cedera
Keseimbangan diperlukan :
a.       Mempertahankan posisi
b.      Memperoleh kestabilan selama bergerak dari satu posisi ke posisi yang lain-lain
c.       Melakukan aktikitas sehari-hari
d.      Bergerak bebas di komunitas
Koordinasi gerakan tubuh
Berat adalah gaya pada tubuh yang digunakan terhadap gravitasi. Ketika suatu objek diangkat, pengangkat harus menguasai berat objek dan mengetahui pusat gravitasinya. Pada manusia pusat gravitasinya berada pada 55% atau 57% tinggi badannya ketika berdiri dan berada di tengah. Klien tidak stabil karena pusat gravitasinya tidak seimbang.
Friksi
Adalah gaya yang muncul dengan arah gerakan yang berlawanan dengan arah gerakan benda. Semakin besar area permukaan suatu objek yang bergerak maka semakin besar friksi.
Prinsip dasar pengurangan friksi :
a.       Minimalisir permukaan tubuh pasien
b.      Gunakan kekuatan dan gerakan pasien saat mengangkat, menggerakkan pasien di tempat tidur
c.       Mengangkat pasien bukan mendorong pasien
d.      Gunakan sprei yang dapat ditarik
Pengaturan gerakan
Diatur oleh sistem skletal (rangka pendukung tubuh) yang terdiri dari 4 tipe tulang :
a.       Panjang : membentuk tinggi tubuh
b.      Pendek : dalam bentuk berkelompok, saat dikombinasi dengan ligamen – kartilago à akan dihasilkan gerakan pada ekstremitas.
c.       Pipih : mendukung struktur bentuk (tengkorak dan thoraks)
d.      Irreguler : membentuk kolumna vertebrata
Karakteristik tulang
a.       Kekokohan à dari garam organik (kalsium dan posfat)
b.      Kekakuan à berhubungan dengan kekokohan yang penting untuk menunjang bentuk dan tubuh
c.       Elastisitas dan fleksibilitas à tulang BBL lebih banyak kartilago, todler lebih lentur dari tulang lansia sehingga lebih mudah bertahan.
Sendi
Hubungan diantara tulang, meliputi :
a.       Sinostatik : Ikatan tulang dengan tulang, tidak ada pergerakan
Contoh : Sacrum, sendi vertebra
b.      Kartilagenous : sedikit gerakan, elastis, berfungsi saat tulang mengalami penekanan, menggunakan kartilago untuk menyatukan permukaanya
Contoh : Sendi kostosternal
c.       Fibrosa : kedua permukaan tulang disatukan dengan ligamen atau membran
Contoh : sendi tibia dan fibula
d.      Sinovial : digerakkan secara bebas, permukaan tulang yang berdekatan dilapisi kartilago artikular dan dihubingkan oleh ligamen sejajar dengan membran sinovial
Contoh : radius ulna dihubungkan oleh kartilago dan ligamen membentuk sendi putar
Ligamen
Ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat, fleksibel, mengikat sendi menjadi satu dan menghubungkan tulang dengan kartilago, bersifat elastis, mendukung sendi dan berfungsi protektif
Contoh : ligamen vertebra
Tendon
Jaringan ikat warna putih, mengkilat, menghubungkan otot dengan tulang, bersifat kuat, fleksibel, tidak elastis, mempunyai ketebalan dan panjang bervariasi
Kartilago
Jaringan penyambung yang tidak mempunyai vaskuler, terletak diantara sendi dan thoraks, trakhea, laring, hidung dan telinga
Otot Skelet
Karena kemampuannya untuk berkontraksi dan berelaksasi, merupakan elemen kerja dari pergerakan. Ada 2 tipe :
a.       Kontraksi isotonik à peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek
b.      Kontraksi isometrik à peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot
Sistem saraf
Pergerakan dan postur diatur oleh sistem saraf
Area motorik volunter utama berada di korteks serebral à gyrus pra sentralis atau jalur motorik
Propriosepsi
Sensasi yang didapat melalui stimulasi dari dalam tubuh mengenai posisi dan aktivitas otot tertentu. Dipantau oleh proprioseptor yang ada di ujung saraf otot, tendon, sendi. Contoh : proprioseptor memungkinkan seseorang berjalan tanpa harus melihat kakinya.
Keseimbangan
Kemampuan untuk mencapai dan mempertahankan postur tubuh tetap tegak melawan gravitasi (duduk atau berdiri) untuk mengatur seluruh ketrampilan aktivitas motorik. Sereblum bertanggung jawab terhadap refleks, mengatur kontrol motorik secara involunter dan mempertahankan keseimbangan serta postur. Diatur juga oleh telinga bagian dalam.


Prinsip mekanika tubuh untuk tenaga kesehatan (kegiatan dan rasional)
Kegiatan
Rasional
Ketika merencanakan untuk memindahkan klien, atur untuk bantuan yang adekuat. Gunakan alat bantu mekanik jika bantuan tidak mencukupi
Dua orang tenaga kesehatan mengangkat secara bersama-sama membagi beban kerja menjadi 50%
Dorong klien untuk membantu sebanyak mungkin
Hal ini mendukung kemampuan dan kekuatan klien dengan meminimalkan beban kerja
Jaga punggung, leher, pelvis dan kaki lurus. Cegah terpelincir
Mengurangi resiko cedera pada vertebra lumbal dan kelompok otot terpelintir meningkatkan resiko cedera
Fleksikan lutut, buat kaki tetap lebar
Dasar yang luas meningkatkan kestabilan
Dekatkan tubuh tenaga kesehatan dengan klien (atau objek yang diangkat)
Meminimalkan gaya. Pengangkatan 5 kg pada setinggi pinggang sama dengan 50 kg pada setinggi lengan
Gunakan lengan dan tungkai
Otot tungkai lebih kuat, makin besar otot maka makin besar kemampuan kerja tanpa cedera
Tarik klien ke arah penariknya menggunakan sprei yang dapat ditarik
Menarik membutuhkan lebih sedikit tenaga dari pada mengangkat. Sprei yang dapat ditarik meminimalkan gaya gesek yang dapat merusak klien
Rapatkan otot abdomen dan gluteal unttuk persiapan bergerak
Mempersiapkan otot serentak akan meminimalkan usaha mengangkat beban
Seseorang dengan beban yang sangat berat diangkat bersama dengan dipimpin seseorang dengan menghitung sampai tiga
Mengangkat secara serentak akan meminimalkan beban untuk beberapa orang pengangkat

13.  KEAMANAN LINGKUNGAN
a.        Pengertian
Secara umum keamanan (safety) adalah status seseorang dalam keadaan aman, kondisi yang terlindungi secara fisik, sosial, spiritual, finansial, politik, emosi, pekerjaan, psikologis atau berbagai akibat dari sebuah kegagalan, kerusakan, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak diinginkan. Keamanan tidak hanya mencegah rasa sakit dan cedera tetapi juga membuat individu merasa aman dalam aktifitasnya. Keamanan dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan umum.
Keamanan fisik (Biologic safety) merupakan keadaan fisik yang aman terbebas dari ancaman kecelakaan dan cedera (injury) baik secara mekanis, thermis, elektris maupun bakteriologis. Kebutuhan keamanan fisik merupakan kebutuhan untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam kesehatan fisik, yang pada pembahasan ini akan difokuskan pada providing for safety atau memberikan lingkungan yang aman.
b.        Karakteristik Keamanan
1)      Pervasiveness (Insidensi)
Keamanan bersifat pervasive artinya luas mempengaruhi semua hal. Artinya klien membutuhkan keamanan pada seluruh aktifitasnya seperti makan, bernafas, tidur, kerja, dan bermain.
2)      Perception (Persepsi)
Persepsi seseorang tentang keamanan dan bahaya mempengaruhi aplikasi keamanan dalam aktifitas sehari-harinya. Tindakan penjagaan keamanan dapat efektif jika individu mengerti dan menerima bahaya secara akurat.
3)      Management (Pengaturan)
Ketika individu mengenali bahaya pada lingkungan klien akan melakukan tindakan pencegahan agar bahaya tidak terjadi dan itulah praktek keamanan. Pencegahan adalah karakteristik mayor dari keamanan. 
c.         Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Keamanan Lingkungan
1)      Usia
Individu belajar untuk melindungi dirinya dari berbagai bahaya melalui pengetahuan dan pengkajian akurat tentang lingkungan. Perawat perlu untuk mempelajari bahaya-bahaya yang mungkin mengancam individu sesuai usia dan tahap tumbuh kembangnya sekaligus tindakan pencegahannya.
2)      Gaya Hidup
Faktor gaya hidup yang menempatkan klien dalam resiko bahaya diantaranya lingkungan kerja yang tidak aman, tinggal di daerah dengan tingkat kejahatan tinggi, ketidakcukupan dana untuk membeli perlengkapan keamanan,adanya akses dengan obat-obatan atau zat aditif berbahaya.
3)      Status mobilisasi
Klien dengan kerusakan mobilitas akibat paralisis, kelemahan otot, gangguan keseimbangan/koordinasi memiliki resiko untuk terjadinya cedera.
4)      Gangguan sensori persepsi
Sensori persepsi yang akurat terhadap stimulus lingkungan sangat penting bagi keamanan seseorang. Klien dengan gangguan persepsi rasa, dengar, raba, cium, dan lihat, memiliki resiko tinggi untuk cedera.
5)      Tingkat kesadaran
Kesadaran adalah kemampuan untuk menerima stimulus lingkungan, reaksi tubuh, dan berespon tepat melalui proses berfikir dan tindakan. Klien yang mengalami gangguan kesadaran diantaranya klien yang kurang tidur, klien tidak sadar atau setengah sadar, klien disorientasi, klien yang menerima obat-obatan tertentu seperti narkotik, sedatif, dan hipnotik.
6)      Status emosional
Status emosi yang ekstrim dapat mengganggu kemampuan klien menerima bahaya lingkungan. Contohnya situasi penuh stres dapat menurunkan konsentrasi dan menurunkan kepekaan pada simulus eksternal. Klien dengan depresi cenderung lambat berfikir dan bereaksi terhadap stimulus lingkungan.
7)      Kemampuan komunikasi
Klien dengan penurunan kemampuan untuk menerima dan mengemukakan informasi juga beresiko untuk cedera. Klien afasia, klien dengan keterbatasan bahasa, dan klien yang buta huruf, atau tidak bisa mengartikan simbol-simbol tanda bahaya.
8)      Pengetahuan pencegahan kecelakaan
Informasi adalah hal yang sangat penting dalam penjagaan keamanan. Klien yang berada dalam lingkungan asing sangat membutuhkan informasi keamanan yang khusus. Setiap individu perlu mengetahui cara-cara yang dapat mencegah terjadinya cedera.
9)      Faktor lingkungan
Lingkungan dengan perlindungan yang minimal dapat beresiko menjadi penyebab cedera baik di rumah, tempat kerja, dan jalanan
10)  Informasi / komunikasi
Gangguan komunikasi seperti afasia atau tidak dapat membaca dapat menimbulkan kecelakaan.
11)  Penggunaan antibiotik yang tidak rasional
      Antibiotik dapat menimbulkan resisten dan syok anafilaktik.
12)  Keadaan imunitas
Gangguan imunitas akan mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit.
13)  Ketidakmampuan tubuh dalam memproduksi sel darah putih
Sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap suatu penyakit.
14)  Status nutrisi
Keadaan nutrisi yang kurang dapat menimbulkan kelemahan dan mudah terserang penyakit, demikian sebaliknya kelebihan nutrisi berresiko terhadap penyakit tertentu.
15)  Tingkat pengetahuan
Kesadaran akan terjadinya gangguan keselamatan dan keamanan dapat diprediksi sebelumnya.
d.        Penatalaksanaan Untuk Pemenuhan Kebutuhan Keamanan Lingkungan :
1)      Meningkatkan keamanan sepanjang hayat manusia
Memastikan keamanan klien pada semua usia berfokus pada: obsevasi atau prediksi situasi yang mungkin membahayakan sehingga dapat dihindari dan memberikan pendidikan kesehatan yang memberikan kekuatan bagi klien untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari cedera secara mandiri.
2)      Mempertahankan kondisi aman dari api dan kebakaran
Upaya pencegahan yang bisa dilakukan perawat adalah memastikan bahwa ketiga elemen tersebut dapat dihilangkan. Jika kebakaran sudah terjadi ada dua tujuan yang harus dicapai yaitu: melindungi klien dari cedera dan membatasi serta memadakan api.
3)      Mencegah terjadinya jatuh pada klien
a)      Orientasikan klien pada saat masuk rumah sakit dan jelaskan sistem komunikasi yang ada
b)      Hati-hati saat mengkaji klien dengan keterbatasan gerak
c)      Supervisi ketat pada awal klien dirawat terutama malam hari
d)     Anjurkan klien menggunakan bel bila membutuhkan bantuan
e)      Berikan alas kaki yang tidak licin
f)       Berikan pencahayaan yang adekuat
g)      Pasang pengaman tempat tidur terutama pada klien dengan penurunan kesadaran dan gangguan mobilitas
h)      Jaga lantai kamar mandi agar tidak licin
4)      Melakukan tindakan pengamanan pada klien kejang:
a)      Pasang pengaman tempat tidur dengan dilapisi kain tebal (mencegah nyeri saat terbentur)
b)      Pasang spatel lidah untuk mencegah terhambatnya aliran udara
c)      Longgarkan baju dan ikatan leher (kerah baju)
d)     Kolaborasi pemberian obat antikonvulsi.
e)      Berikan masker oksigen jika diperlukan.
5)      Memberikan pertolongan bila terjadi keracunan
Perawat dapat memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat bila terjadi keracunan melalui identifikasi adanya zat-zat beracun dirumah yang terkonsumsi, segera laporkan ke institusi kesehatan terdekat serta menyebutkan nama dan gejala yang dialami klien, jaga klien pada posisi tenang ke satu sisi atau dengan kepala ditempatkan diantara kedua kaki untuk mencegah aspirasi.
6)      Memberikan pertolongan bagi klien yang terkena sengatan listrik
Jika seseorang terkena macroshock (sengatan listrik yang cukup besar) jangan sentuh klien tersebut sampai pusat listrik dimatikan dan klien aman dari arus listrik. Macroshock sangat berbahaya karena dapat menyebabkan luka bakar, kontraksi otot, dan henti nafas serta henti jantung. Untuk mencegah macroshock gunakan mesin/alat listrik yang berfungsi dengan baik, pakai sepatu dengan alas karet, berdirilah diatas lantai nonkonduktif, dan gunakan sarung tangan non konduktif.
7)      Melakukan penanganan bagi klien yang terpapar kebisingan
Kebisingan memiliki efek psikososial dan efek fisiologis. Efek psikososial seperti rasa jengkel, tidur dan istirahat terganggu, serta gangguan konsentrasi dan pola komunikasi. Efek fisiologis meliputi peningkatan nadi dan respirasi, peningkatan aktifitas otot, mual, dan kehilangan pendengaran jika intensitas suara tepat. Kebisingan dapat diminimalisir dengan memasang genting, dinding, dan lantai yang kedap suara; memasang gorden; memasang karpet; atau memutar background music.
8)      Melakukan Heimlich maneuver pada klien yang mengalami tersedak.
9)      Melakukan perlindungan terhadap radiasi
Tingkat bahaya radiasi tergantung dari: lamanya, kedekatan dengan sumber radioaktif, dan pelindung yang digunakan selama terpapar radiasi. Upaya yang harus dilakukan oleh perawat dalam hal ini adalah memakai baju khusus, memakai sarung tangan, mencuci tangan sebelum dan sesudah memakai sarung tangan, dan membuang semua benda yang terkontaminasi.
10)  Melakukan pemasangan restrain pada klien
Restrain adalah alat atau tindakan pelindung untuk membatasi gerakan/aktifitas fisik klien atau bagian tubuh klien. Restrain diklasifikasikan menjadi fisikal(physical) dan kemikal(chemical) restrain. Fisikal restrain adalah restrain dengan metode manual atau alat bantu mekanik, atau lat-alat yang dipasang pada tubuh klien sehingga klien tidak dapat bergerak dengan mudah dan terbatas gerakannya. Kemikal restrain adalah restrain dalam bentuk zat kimia neuroleptics, anxioulytics, sedatif, dan psikotropika yang digunakan untuk mengontrol tingkahlaku sosial yang merusak.
Restrain sebaiknya dihindari sebab berbagai komplikasi sering dikeluhkan akibat pemasangan restrain. Komplikasi fisik diantaranya luka tekan, retensi urin, inkontinensia, dan sulit BAB, bahkan kematian pun dilaporkan. Komplikasi psikologisnya adalah penurunan harga diri, bingung, pelupa, depresi, takut, dan marah. Restrain hendaknya digunakan sebagai alternatif terakhir. Bila dilakukan maka haruslah (a) dibawah pengawasan dokter dengan perintah tertulis, apa penyebabnya, dan untuk berapa lama (b) klien setuju dengan tindakan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar