Selasa, Februari 3

Deteksi Dini Kehamilan, Komplikasi dan Penyakit pada Masa Kehamilan, Persalinan dan Masa Nifas



PENDAHULUAN
Selama pemeriksaan antenatal, bidan akan membantu pasien jika ia mengalami tanda-tanda bahaya dan akan mendeteksinya. Hal ini, penting bagi bidan untuk memeriksa tanda-tanda bahaya yang mungkin akan dialami ibu dan janin.
Dalam melakukan asuhan kehamilan, terdapat Pelayanan standar minimal yang diperoleh untuk ibu hamil yang harus mencakup “ 14 T ”
-          Timbang berat badan
-          Ukur Tekanan darah
-          Ukur Tinggi Fundus Uteri
-          Pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT) lengkap
-          Pemberian Tablet zat besi, minimal 90 tablet selama kehamilan (fe 60 mg, asam folat 500 ug).
-          Tes terhadap penyakit menular seksual
-          Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
-          Nilai Status Gizi (Lila)
-          Tentukan presentasi & djj
-          Tes lab
-          Tata lakana kasus
-          P’berian terapi yodium u/endemis
-          P’berian terapi anti malaria u/ endemis
-          Pemeliharaan tk. Kebugaran
-           

A.     DETEKSI DINI KOMPLIKASI IBU DAN JANIN
Tanda bahaya kehamilan adalah suatu kehamilan yang memiliki suatu tanda bahaya atau risiko lebih besar dari biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya), akan terjadinya penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah persalinan (Tiran, 2007)
Tanda-tanda bahaya pada kehamilan adalah tanda-tanda yang terjadi pada seorang Ibu hamil yang merupakan suatu pertanda telah terjadinya suatu masalah yang serius pada Ibu atau janin yang dikandungnya, tanda-tanda bahaya ini dapat terjadi pada awal kehamilan. Sedangkan menurut Uswhaya (2009), Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah gejala yang menunjukkan bahwa ibu dan bayi dalam keadaan bahaya, meliputi :
1.      Tanda-Tanda Bahaya/ Komplikasi Pada Ibu Dan Janin Masa Kehamilan Trimester I
Trimester I adalah usia kehamilan 1- 3 bulan atau kehamilan berusia 0 - 12 minggu ,salah satu asuhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk menapis adanya risiko ini yaitu melakukan pendeteksian dini adanya komplikasi/penyakit yang mungkin terjadi selama hamil muda. Tanda Bahaya Kehamilan Trimester I meliputi:
a.       Perdarahan pervaginam / Perdarahan dari jalan lahir
Perdarahan yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 22 minggu. Perdarahan pervaginam dalam kehamilan adalah cukup normal. Pada masa awal kehamilan, ibu akan mengalami perdarahan yang sedikit (spotting) di sekitar waktu terlambat haidnya.
Perdarahan ini adalah perdarahan implantasi dan normal, perdarahan kecil dalam kehamilan adalah pertanda dari “Friabel cervik”.
Perdarahan semacam ini mungkin normal atau mungkin suatu tanda adanya infeksi. Jika terjadi perdarahan yang lebih (tidak normal) yang menimbulkan rasa sakit pada ibu.Perdarahan ini bisa berarti aborsi, kehamilan molar atau kehamilan ektopik.
Macam macam perdarahan pervaginam
1)       Abortus
Pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram. Tanda-tandanya : perdarahan dengan nyeri abdomen, rasa mulas atau rasa nyeri. Terkadang disertai syok
2)       Kehamilan ektopik
Kehamilan di mana implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium atau di luar rahim. Tanda-tandanya : perdarahan berwarna coklat tua dan umumnya sedikit, nyeri perut, uterus terasa lembek.
3)       Molahydatidosa (Hamil Anggur)
Kehamilan abnormal di mana hampir seluruh vili korialisnya mengalami perubahan hidrofik.Tanda-tandanya :perdarahan berulang, nyeri perut, tidak teraba bagian janin, tidak terdengar DJJ janin
b.      Mual Muntah Berlebihan
1)       Pengertian
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasa terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari.
Gejala - gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60-80 % primigravida dan 40-60 % multigravida. Satu diantara seribu kehamilan, gejala gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG dalam serum. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah disebut hiperemisis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringanya penyakit. (Sarwono, 2005).
2)       Penanganan Umum
Mual muntah dapat diatasi dengan:
a)      Makan sedikit tapi sering
b)      Hindari makanan yang sulit dicerna dan berlemak
c)      Jaga masukan cairan, karena cairan lebih mudah ditolelir dari pada makanan padat
d)      Selingi makanan berkuah dengan makanan kering. Makan hanya makanan kering pada satu waktu makan, kemudian makanan berkuah pada waktu berikutnya
e)      Hindari hal hal yang memicu mual, seperti bau, gerakan atau bunyi
f)       Istirahat cukup
g)      Hindari hal-hal yang membuat Anda berkeringat atau kepanasan, yang dapat memicu rasa mual (Curtis, 2000)
3)       Komplikasi
Jika muntah terus menerus bisa terjadi kerusakan hati. Komplikasi lainnya adalah perdarahan pada retina yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah ketika penderita muntah. (Rochjati, 2002)
c.       Sakit Kepala Yang Hebat
1)       Pengertian
Sakit kepala yang bisa terjadi selama kehamilan, dan sering kali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukan suatu masalah serius dalam kehamilan adalah sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. Terkadang sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayang. Hal ini merupakan gejala dari pre-eklamsia dan jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang maternal, stroke, koagulopati dan kematian. (Uswhaya, 2009)
Sakit kepala sering dirasakan pada awal kehamilan dan umumnya disebabkan oleh peregangan pembuluh darah diotak akibat hormon kehamilan, khususnya hormon progesteron. Jika ibu hamil merasa lelah, pusing atau tertekan atau pandangan mata bermasalah, sakit kepala akan lebih sering terjadi atau makin parah, jika sebelumnya menderita migrain kondisi ini dapat semakin bermasalah selama 3 sampai 4 bulan pertama kehamilan.
2)       Penanganan Umum
a)      Jika ibu tidak sadar atau kejang, segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat daruratan.
b)      Segera lakukan observasi terhadap keadaan umum termasuk tanda vital (nadi, tekanan darah, dan pernafasan) sambil mencari riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien dan keluarganya. (Saifuddin, 2002)
3)       Komplikasi
Nyeri kepala pada masa hamil dapat merupakan gejala pre-eklampsia, suatu penyakit yang terjadi hanya pada wanita hamil, dan jika tidak diatasi dapat menyebabkan kejang maternal, stroke, koagulopati dan kematian.(Irma, 2002)
d.      Nyeri Perut yang Hebat  
1)       Pengertian
Nyeri perut pada kehamilan 22 minggu atau kurang. Hal ini mungkin gejala utama pada kehamilan ektopik atau abortus (Saifuddin, 2002). Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa berarti apendisitis, kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan preterm, gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi plasenta, infeksi saluran kemih atau infeksi lain.
2)       Penanganan umum
a)      Lakukan segera pemeriksaan umum meliputi tanda vital (nadi, tensi, respirasi, suhu)
b)      Jika dicurigai syok, mulai pengobatan sekalipun gejala syok tidak jelas, waspada dan evaluasi ketat karena keadaan dapat memburuk dengan cepat.
c)      Jika ada syok segera terapi dengan baik (Saifuddin, 2002)
3)       Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul pada nyeri perut yang hebat antara lain: kehamilan ektopik, pre-eklampsia, persalinan premature, solusio plasenta, abortus, ruptur uteri imminens (Irma, 2008)
e.       Selaput Kelopak Mata Pucat/ Anemia
1)       Pengertian
Anemia adalah masalah medis yang umum terjadi pada banyak wanita hamil. Jumlah sel darah merah dalam keadaan rendah, kuantitas dari sel sel ini tidak memadai untuk memberikan oksigen yang dibutuhkan oleh bayi. Anemia sering terjadi pada kehamilan karena volume darah meningkat kira kira 50% selama kehamilan.
Darah terbuat dari cairan dan sel. Cairan tersebut biasanya meningkat lebih cepat dari pada sel- selnya. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan hematokrit (volume, jumlah atau persen sel darah merah dalam darah). Penurunan ini dapat mengakibatkan anemia.
2)       Penanganan
Anemia dapat ditangani dengan minum tablet zat besi dan istirahat cukup. (Curtis, 2000)
3)       Komplikasi
Komplikasi anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh langsung terhadap janin sedangkan komplikasi pada kehamilan trimester I yaitu anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan kongenital, abortus/keguguran (Ayurai, 2009).
4)       Pengaruh anemia terhadap kehamilan.
a)      Bahaya selama kehamilan
-          Dapat terjadi abortus
-          Persalinan prematuritas
-          Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
-          Mudah terjadi infeksiaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr%)
-          Mola hidatidosa
-          Hiperemesis gravidarum
-          Perdarahan antepertum
-          Ketuban Pecah Dini (KPD)
b)      Bahaya saat persalinan
-          Gangguan his, kekuatan mengejan 
-          Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlanta
-          Kala ke dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan. 
-          Kala uri diikuti retensio plasenta, dan perdarahan pospartum karena atonia uteri.
-          Kala empat dapat terjadi perdarahan postpartum sekunder dan atonia uteri
c)      Pada kala nifas
-          Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan postpartum
-          Memudahkan infeksi puerperium 
-          Pengeluaran ASI berkurang 
-          Terjadi dekompensasi koris mendadak setelah persalinan 
-          Anemia kala nipas 
-          Mudah terjadi infeksi mamae
d)      Bahaya terhadap janin
-          Abortus 
-          Terjadi kematian intrauteri 
-          Persalinan prematuritas tinggi
-          Berat badan lahir rendah 
-          Kelahiran dengan anemia 
-          Dapat terjadi cacat bawaan 
-          Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal 
-          Intligensia
f.       Demam Tinggi
Ibu hamil menderita deman dengan suhu tubuh lebih 38° C dalam kehamilan merupakan suatu masalah. Demam tinggi dapat merupakan gejala adanya infeksi dalam kehamilan.
1)       Penanganan Umum
Demam tinggi dapat ditangani dengan: istirahat baring, minum banyak, kompres untuk menurunkan suhu. (Saiffudin, 2002)
2)       Komplikasi
Komplikasi yang ditimbulkan akibat mengalami demam tinggi antara lain: sistitis (infeksi kandung kencing), pielonefritis Akut (infeksi saluran kemih atas). (Saifuddin, 2002)

2.      Tanda-Tanda Bahaya/ Komplikasi Pada Ibu Dan Janin Pada Masa Kehamilan Trimester II
Trimester II adalah usia kehamilan 4-6 bulan atau kehamilan berusia 13-28 minggu. Tanda Bahaya Kehamilan Trimester II meliputi:
a.       Bengkak Pada Wajah, Kaki dan Tangan
Oedema ialah penimbunan cairan yang berlebih dalam jaringan tubuh, dan dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Oedema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklampsia. Hampir separuh dari ibu-ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya hilang setelah beristirahat atau meninggikan kaki. Oedema yang mengkhawatirkan ialah oedema yang muncul mendadak dan cenderung meluas.
Hampir separuh dari ibu-ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya muncul pada sore hari dan biasanya hilang setelah beristirahat atau meletakkan kaki lebih tinggi. Bengkak bisa menunjukkan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan tangan tidak hilang setelah beristirahat dan diikuti dengan keluhan fisik yang lain. Hal ini bisa merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau pre eklamsia.Sistem kerja ginjal yang tidak optimal pada wanita hamil mempengaruhi system kerja tubuh sehingga menghasilkan kelebihan cairan. Ini dapat terlihat setelah kelahiran, ketika pergelangan kaki yang bengkak secara temporer semakin parah. Ini dikarenakan jaringan tambahan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan tidak lagi dibutuhkan dan akan dibuang setelah sebelumnya diproses oleh ginjal menjadi urin. Oleh karena ginjal belum mampu bekerja secara optimal, kelebihan cairan yang menempuk dihasilkan disekitar pembuluh darah hingga ginjal mampu memprosesnya lebih lanjut.
Terkadang bengkak membuat kulit di kaki di bagian bawah meregang, terlihat mengkilat, tegang dan sangat tidak nyaman.Kram kaki sering terjadi di malam hari ketika tidur. Kram dihubungankan dengan kadar garam dalam tubuh dan perubahan sirkulasi. Pengobatan cina menganggap kram ada hubungannya dengan kekurangan energi pada darah dan ginjal.
1)       Penanganan Umum
a)      Istirahat cukup
b)      Mengatur diet, yaitu meningkatkan konsumsi makanan yang mengandung protein dan mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat serta lemak
c)      Kalau keadaan memburuk namun memungkinkan dokter akan mempertimbangkan untuk segera melahirkan bayi demi keselamatan ibu dan bayi (Hendrayani, 2009).
2)       Komplikasi
Kondisi ibu disebabkan oleh kehamilan disebut dengan keracunan kehamilan dengan tanda tanda oedema (pembengkakan) terutama tampak pada tungkai dan muka, tekanan darah tinggi dan dalam air seni terdapat zat putih telur pada pemeriksaan urin dan laboratorium (Rochjati, 2003).
b.      Keluar Air Ketuban Sebelum Waktunya
Keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan 22 minggu, ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.
1)       Penanganan Umum
a)      Konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG
b)      Dilakukan pemeriksaan inspekulo (dengan speculum DTT) untuk menilai cairan yang keluar (jumlah, warna,bau) dan membedakan dengan urin.
c)      Jika ibu mengeluh perdarahan akhir kehamilan (setelah 22 minggu), jangan lakukan, pemeriksaan dalam secara digital.
d)      Mengobservasi tidak ada infeksi
e)      Mengobservasi tanda tanda inpartu (Saifuddin, 2002)
2)       Komplikasi
a)      Perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusio plasenta
b)      Tanda tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau)
c)      Jika terdapat his dan darah lendir, kemungkinan terjadi persalinan preterm (Saifuddin, 2002)
c.       Perdarahan hebat
Perdarahan Masif atau hebat pada kehamilan muda.
d.      Pusing Yang hebat
e.       Gerakan bayi berkurang
Ibu mulai merasakan gerakan bayinya selama bulan ke-5 atau ke-6, beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi tidur, gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik. Apabila ibu tidak merasakan gerakan bayi seperti biasa, hal ini merupakan suatu risiko tanda bahaya. Bayi kurang bergerak seperti biasa dapat dikarenakan oleh aktivitas ibu yang terlalu berlebihan, keadaan psikologis ibu maupun kecelakaan sehingga aktivitas bayi di dalam rahim tidak seperti biasanya.

3.      Tanda-Tanda Bahaya/ Komplikasi Pada Ibu Dan Janin Pada Masa Kehamilan Trimester III
Trimester III adalah usia kehamilan 7-9 bulan atau kehamilan berusia 29-42 minggu. Tanda Bahaya Kehamilan Trimester II meliputi:
a.       Penglihatan Kabur Penglihatan menjadi kabur atau berbayang
Dapat disebabkan oleh sakit kepala yang hebat, sehingga terjadi oedema pada otak dan meningkatkan resistensi otak yang mempengaruhi sistem saraf pusat, yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang), dan gangguan penglihatan. Perubahan penglihatan atau pandangan kabur, dapat menjadi tanda pre-eklampsia. Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual yang mendadak, misalnya penglihatan kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot), berkunang-kunang.
Selain itu adanya skotama, diplopia dan ambiliopia merupakan tanda-tanda yang menujukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah pada eklampsia. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks cerebri atau didalam retina (oedema retina dan spasme pembuluh darah). (Uswhaaja, 2009)
1)       Penanganan Umum
a)      Jika tidak sadar atau kejang. Segera dilakukan mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan menyiapkan fasilitas tindakan gawat darurat.
b)      Segera dilakukan penilaian terhadap keadaan umum termasuk tanda tanda vital sambil menanyakan riwayat penyakit sekarang dan terdahulu dari pasien atau keluarganya.(Saifuddin, 2002)
2)       Komplikasi
Komplikasi yang ditimbulkan antala lain:
a)      Kejang
b)      Eklamsia
b.      Gerakan Janin Berkurang
Ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah kehamilan 29 minggu atau selama persalinan.
1)       Penanganan Umum
a)      Memberikan dukungan emosional pada ibu
b)      Menilai denyut jantung janin (DJJ):
c)      Bila ibu mendapat sedative, tunggu hilangnya pengaruh obat, kemudian nilai ulang
d)      Bila DJJ tidak terdengar minta beberapa orang mendengarkan menggunakan stetoskop Doppler. (Saifuddin, 2002)
2)       Komplikasi
Komplikasi yang timbul adalah IUFD dan fetal distress.
c.       Kejang
Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya keadaan dan terjadinya gejala gejala sakit kepala, mual, nyeri ulu hati sehingga muntah. Bila semakin berat, penglihatan semakin kabur, kesadaran menurun kemudian kejang. Kejang dalam kehamilan dapat merupakan gejala dari eklamsia.
1)      Penanganan 
a)      Baringkan pada sisi kiri tempat tidur arah kepala ditinggikan sedikit untuk mengurangi kemungkinan aspirasi secret, muntahan, atau darah
b)      Bebaskan jalan nafas
c)      Hindari jatuhnya pasien dari tempat tidur
d)      Lakukan pengawasan ketat (Saifuddin, 2002)
2)      Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul antara lain: syok, eklamsia, hipertensi, proteinuria (Saifuddin, 2002)
d.      Demam Tinggi
e.       Bengkak pada wajah, kaki dan tanggan

B.     DETEKSI DINI PERSALINAN, KOMPLIKASI DAN PENYULIT MASA PERSALINAN
1.      Deteksi Dini Pada Kala I
a.       Insersia Uteri
Tanda dan gejala:
1)      His tidak adekuat
2)      < 2 kali dalam 10 menit
3)      < 20 detik
Manajemen:
1)      Memberikan nutrisi cukup pada ibu
2)      Mobilisasi/ubah posisi
3)      Upayakan kandung kemih kosong/rectum kosong
4)      Rangsang putting susu
b.      Denyut jantung janin
Tanda dan gejala:
1)      < 120 kali dalam 1 menit
2)      > 160 kali dalam 1 menit
Manajemen:
1)      Beri oksigen
2)      Baringkan ibu miring ke kiri
3)      Pantau DJJ tiap 15 menit
4)      Bila dalam 1 jam tidak normal, rujuk
c.       Dilatasi serviks
Tanda dan gejala:
1)      Fase laten > 8 jam
2)      Dilatasi serviksdi kanan garis waspada dalam partograf
Manajemen: Rujuk


d.      Cairan ketuban
Tanda dan gejala:
1)      Bercampur mekonium
2)      Air ketuban hijau kental
Manajemen : Rujuk dengan ibu miring kiri
e.       Tekanan darah
Tanda dan gejala:
1)      Bila TD naik hingga >160/110 mmHg
2)      Pusing hebat
3)      Mata berkunang-kunang
4)      Kejang
Manajemen:
1)      Infuse cairan RL
2)      Rujuk
f.        Ring bandle
Tanda dan gejala:
1)      Nyeri hebat pada bagian perut bagian bawah
2)      Kontraksi hipotinik
3)      Muncul tanda-tanda pre-syok
4)      Fetal distress
Manajemen :
1)      Infuse cairan RL
2)      Rujuk
g.       Suhu
Tanda dan gejala : Suhu > 38°C
Manajemen:
1)      Istirahat baring
2)      Minum yang banyak
3)      Kompres untuk menurunkan suhu
4)      Bila dalam 4 jam suhu tidak turun, beri antibiotic dan rujuk
h.      Nadi
Tanda dan gejala:
1)      >100 x/menit
2)      Urine pekat
3)      Suhu > 38°C
Manajemen:
1)      Beri minum banyak/cukup
2)      Pantau 2 jam
3)      Bila tidak ada perbaikan beri antibiotic, pasang infus RL
4)      Rujuk

2.      Deteksi Dini Pada Kala II
a.       Tali pusat membumbung
Tanda dan gejala : Teraba tali pusat saat pemeriksaan dalam
Manajemen :
1)      Bila DJJ ( + ), rujuk dengan posisi terlentang dan kepala janin ditahan oleh 2 jari penolong dari dalam vagina
2)      Ibu dengan posisi sujud bokong lebih tinggi dari kepala
3)      Bila DJJ( - ), beritahu ibu/keluarga tentang kondisinya dan penatalaksanaannya sesuai kala II
b.      Perubahan DJJ
Tanda dan gejala:
1)      Takikardi ( >160 dalam 10 menit)
2)      Bradikardi ( < 100 dalam 10 menit)
Manajemen:
1)      Pantau DJJ tiap 15 menit
2)      Beri
3)      Ubah posisi ibu dengan miring ke kiri
4)      Periksa adanya prolapsus tali pusat
5)      Pastikan lamanya persalinan yang diharapkan
6)      Bila tidak ada perubahan, segera rujuk
c.       Kelelahan maternal
Tanda dan gejala:
1)      Ibu tampak lemas
2)      Dehidrasi
3)      Suhu dana nadi meningkat
Manajemen:
1)      Pencegahan adalah cara yang terbaik
2)      Koreksi ketidak seimbangan cairan elektrolit
3)      Rujuk bila keadaan menurun

3.      Deteksi Dini Pada Kala III
a.       Tidak adanya tanda-tanda pelepasan plasenta
b.      Plasenta tidak lepas dalam 15 menit setelah bayi lahir dan diberi oksitosin
c.       Uterus tidak berkontraksi
d.      Perdarahan yang abnormal

C.     DETEKSI DINI KOMPLIKASI PADA MASA NIFAS
1.      Jadwal Kunjungan Di Rumah
Ibu nifas sebaiknya paling sedikit melakukan 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah–masalah yang terjadi. Dimana hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik, melaksanakan skirining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya, memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat, serta memberikan pelayanan keluarga berencana.
Namun dalam pelaksanaan kunjungan masa nifas sangat jarang terwujud dikarenakan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu faktor fisik dan lingkungan ibu yang biasanya ibu mengalami keletihan setelah proses persalinan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beristirahat, sehingga mereka enggan untuk melakukan kunjungan nifas kecuali bila tenaga kesehatan dalam hal ini bidan yang melakukan pertolongan persalinan datang melakukan kunjungan ke rumah ibu. Dilihat dari faktor lingkungan dan keluarga juga berpengaruh dimana biasanya ibu setelah melahirkan tidak dianjurkan untuk berpergian sendiri tanpa ada yang menemani sehingga ibu memiliki kesulitan untuk menyesuaikan waktu dengan anggota keluarga yang bersedia untuk mengantar ibu melakukan kunjungan nifas.
Asuhan post partum di rumah difokuskan pada pengkajian, penyuluhan dan konseling. Dalam memberikan asuhan kebidanan di rumah bidan dan keluarga diupayakan dapat berinteraksi dalam suasana yang respek dan kekeluargaan. Tantangan yang dihadapi bidan dalam melakukan pengkajian dan peningkatan perawatan pada ibu dan bayi di rumah pada pelaksanaannya bisa cukup umur, sehingga bidan akan memberi banyak kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir secara kritis untuk meningkatkan suatu pikiran kreatif perawatan bersama keluarga.
a.       Perencanaan Kunjungan Rumah
1)      Merencanakan kunjungan rumah dalam waktu tidak lebih dari 24-48 jam setelah kepulangan klien ke rumah
2)      Pastikan keluarga telah mengetahui rencana mengenai kunjungan rumah dan waktu kunjungan bidan ke rumah telah direncanakan bersama anggota keluarga.
3)      Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan.
b.      Keamanan Merupakan Hal Yang Harus Dipikirkan Oleh Bidan
Tindakan kewaspadaan ini dapat meliputi:
1)      Mengetahui dengan jelas alamat yang lengkap arah rumah klien
2)      Gambar rute alamat klien dengan peta sebelum berangkat perhatikan keadaan disekitar lingkungan rumah klien
3)      Beritahu rekan kerja anda ketika anda pergi untuk kunjungan
4)      Beri kabar kepada rekan anda segera setelah kunjungan selesai (Ambar, 2009).
Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan keluarga sehat dan bahagia.
Jadwal kunjungan rumah paling sedikit dilakukan 4 x, yaitu diantaranya :
a.       Kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan)
Kunjungan pertama dilakukan 6-8 jam setelah persalinan, jika memang ibu melahirkan dirumahnya. Kunjungan dilakukan karena untuk jam-jam pertama pasca salin keadaan ibu masih rawan dan perlu mendapatkan perawatan serta perhatian ekstra dari bidan, karena 60% ibu meninggal pada saat masa nifas dan 50% meninggal pada saat 24 jam pasca salin.
Adapun tujuan dari dilakukan kunjungan tersebut ialah :
1)     Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
2)     Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
3)     Pemberi ASI awal : bidan mendorong pasien untuk memberikan ASI secara ekslusif, cara menyusui yag baik, mencegah nyeri puting dan perawatan puting
4)     Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
5)     Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut
6)     Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil
7)     Perdarahan : bidan mengkaji warna dan banyaknya/ jumlah yang semestinya, adakah tanda-tanda perdarahan yang berlebihan, yaitu nadi cepat dan suhu naik, uterus tidak keras dan TFU menaik
8)     Involusi uterus : bidan mengkaji involusi uterus dan beri penjelasan ke pasien mengenai involusi uterus
9)     Pembahasan tentang kelahiran, kaji perasaan ibu
10) Bidan mendorong ibu untuk memperkuat ikatan batin antara ibu dan bayi (keluarga), pentingnya sentuhan fisik, komunikasi dan rangsangan
11) Bidan memberikan penyuluhan tentang tanda-tanda bahaya baik bagi ibu maupun bayi dan rencana menghadai kegawat daruratan (Meilani, 2009)
b.      Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)
Kunjungan kedua dilakukan setelah enam hari pasca salin dimana ibu sudah bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti sedia kala.
Tujuan dari dilakukannya kunjungan yang kedua yaitu :
1)      Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbikalis, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2)      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
3)      Memberikan konseling pada ibu mengenai seluruh asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari .
4)      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
5)      Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
6)      Diet : makanan seimbang, banyak mengandung protein, serat dan air sebanyak 8-10 gelas per hari untuk mencegah konstipasi kebutuhan kalori untuk laktasi, zat besi, vitamin A.
7)      Kebersihan/ perawatan diri sendiri, terutama putting susu dan perineum.
8)      Senam kegel serta senam perut yang ringan tergantung pada kondisi ibu.
9)      Kebutuhan akan istirahat : cukup tidur.
10)  Bidan mengkaji adanya tanda-tanda post partum blues.
11)  Keluarga berencana melanjutkan hubungan seksual setelah selesai masa nifas.
c.       Kunjungan 3 ( 2-4 minggu setelah persalinan)
Kunjungan ke tiga dilakukan setelah 2 minggu pasca dimana untuk teknis pemeriksaannya sama persis dengan pemeriksaan pada kunjungan yang kedua. Untuk lebih jelasnya tujuan daripada kunjungan yang ketiga yaitu :
1)      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
2)      Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
3)      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
4)      Memberikan konseling pada ibu mengenai seluruh asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari .
5)      Gizi : zat besi/ folat, makanan yang bergizi
6)      Menentukan dan menyediakan metode dan alat KB
7)      Senam : rencana senam lebih kuat dan menyeluruh setelah otot abdomen kembali normal
8)      Keterampilan membesarkan dan membina anak
9)      Rencana untuk asuhan selanjutnya bagi ibu
10)  Rencana untuk chek-up bayi serta imunisasi
d.      Kunjungan 4 (4-6 minggu setelah persalinan)
Untuk kunjungan yang ke empat lebih difokuskan pada penyulit dan juga keadaan laktasinya. Lebih jelasnya tujuan dari kunjungan ke empat yaitu :
1)      Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau ibu hadapi
2)      Tali pusat harus tetap kencang
3)      Perhatikan kondisi umum bayi
4)      Memberikan konseling mengenai imunisasi, senam nifas serta KB secara dini
Tindakan yang baik untuk asuhan masa nifas normal pada ibu di rumah yaitu:
1)      Kebersihan Diri
a)      Menganjurkan kebersihan seluruh tubuh.
b)      Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air.
Pastikan bahwa ibu mengerti untuk membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Beri nasehat pada ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil atau besar.
c)      Menyarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan di bawah matahari atau disetrika.
d)      Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
e)      Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
2)      Istirahat
a)      Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
b)      Menyarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kagiatan rumah tangga biasa secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.
c)      Menjelaskan kepada ibu bahwa kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam berbagai hal sperti;
-          Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
-          Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
-          Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri
3)     Latihan
a)      Mendiskusikan pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu akan merasakan lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.
b)      Menjelaskan bahwa latihan-latihan tertentu beberapa menit setiap hari dapat membantu mempercepat mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal, seperti:
-          Tidur telentang dengan lengan di samping, menarik otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai lima. Rileks dan ulangi 10 kali.
-          Untuk memperkuat otot vagina, berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot pantat dan dan panggul tahan sampai 5 kali hitungan. Kendurkan dan ulangi latihan sebsnyak 5 kali.
-          Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan latihan sebanyak 30 kali.
4)     Gizi
Pendidikan untuk Ibu menyusui harus:
a)      Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari
b)      Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
c)      Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui)
d)      Tablet zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.
e)      Minum kapsul vit. A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASInya.
5)     Perawatan Payudara
Perawatan payudara untuk ibu postpartum dirumah yaitu :
a)      Menjaga payudara tetap bersih dan kering.
b)      Mengenakan BH yang menyokong payudara.
c)      Apabila putting susu lecet oleskan colostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dari putting susu yang tidak lecet.
d)      Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan dengan sendok.
e)      Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukan:
-          Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hanagat selama 5 menit.
-          Urut payudara dari arah pangkal menuju putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting.
-          Keluarkan ASI sebagian dari nagian depan payudara sehingga putting susu menjadi lunak.
-          Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI keluakan dengan tangan.
-          Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.
-          Payudara dikeringkan.
6)      Hubungan Perkawinan atau Rumah Tangga
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah merah berhenti dan tidak merasakan ketidaknyamanan, aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. Banyak budaya mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Keputusan tergantung pada pasangan yang bersangkutan.

7)      Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun, petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluarganya dengan mengajarkan kepada mereka cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama menyusui. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertamakembali. Untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini adalah 2% kehamilan. Meskipun beberapa metode KB mengandung resiko, menggunakan kontrasepsi tetap lebih aman, terutama apabila ibu telah haid lagi. Sebelum menggunakan metode KB hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu:
a)      Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya
b)     Kelebihan/ keuntungan
c)      Kekurangannya
d)     Efek samping
e)      Bagaimana menggunakan metode ini.
f)      Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita pasca salin yang menyusui Jika seorang ibu telah memiliki metode KB tertentu, ada baiknya untuk bertemu dengannya lagi.


DETEKSI DINI KOMPLIKASI PADA MASA NIFAS

PENDAHULUAN
Asuhan kebidanan merupakan suatu penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kebidanan pada pasien yang mempunyai kebutuhan atau masalah dalam bidang kesehatan,  ibu pada masa hamil,  nifas dan bayi baru lahir serta keluarga berencana.  Pada periode masa nifas bidan dituntut untuk memberikan asuhan kebidanan terhadap perubahan fisik dan psikologis ibu,  dimana asuhan fisik lebih mudah diberikan karena dapat dilihat dan dinilai secara langsung,  apabia terjadi ketidaknormalan bidan langsung bisa mendeteksi dan memberikan intervensi,  sedangkan pemberian asuhan terhadap emosi dan psikologi ibu membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang lebih dari bidan. Untuk mencapai hasil yang optimal dibutuhkan kerjasama yang baik antara bidan dan keluarga.
ISI
Berikut adalah Deteksi Dini Komplikasi pada Masa Nifas:
1.      Perdarahan Pervaginam
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500ml setelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pasca persalinan,  terdapat beberapa masalah mengenai definisi ini:
a.       Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya,  kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine,  darah juga tersebar pada spon,  handuk dan kain di dalam ember dan lantai.
b.      Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.
c.       Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis perdarahan fase persalinan.
2.      Infeksi Masa Nifas
Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan,  Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi AKI. Infeksi alat genital merupakan komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluas kesaluran urinary,  payudara,  dan pasca pembedahan merupakan salah satu penyebab terjadinya AKI tinggi. Gejala umum infeksi berupa suhu badan panas,  malaise,  denyut nadi cepat. Gejala lokal dapat berupa Uterus lembek,  kemerahan dan rasa nyeri pada payudara atau adanya disuria.
3.      Sakit Kepala,  Nyeri Epigastrik,  Penglihatan Kabur
Gejala-gejala ini merupakan tanda-tanda terjadinya Eklampsia post partum,  bila disertai dengan tekanan darah yang tinggi.
4.      Pembengkakan di Wajah atau Ekstrenitas.
Ini berhubungan dengan no 3.
5.      Demam,  Muntah,  Rasa Sakit Waktu Berkemih
Pada masa nifas dini sensitifitas kandung kemih terhadap tegangan air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan serta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman,  yang ditimbulkan oleh epiosomi yang lebar,  laserasi,  hematom dinding vagina.
6.      Payudara yang Berubah Menjadi Merah,  Panas,  dan Terasa Sakit.
Disebabkan oleh payudara yang tidak disusu secara adekuat,  putting susu yang lecet,  BH yang terlalu ketat,  ibu dengan diet jelek,  kurang istirahat,  anemia.
7.      Kehilangan Nafsu Makan Dalam Waktu Yang Lama
Kelelahan yang amat berat setelah persalinan dapat mengganggu nafsu makan, sehingga ibu tidak ingin makan sampai kelelahan itu hilang. Hendaknya setelah bersalin berikan ibu minuman hangat, susu, kopi atau teh yang bergula untuk mengembalikan tenaga yang hilang. Berikanlah makanan yang sifatnya ringan, karena alat pencernaan perlu istirahat guna memulihkan keadaanya kembali.
8.      Rasa sakit,  merah, lunak dan pembengkakan di kaki
Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-vena manapun di pelvis yang mengalami dilatasi.
9.      Merasa sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya dan dirinya sendiri
Penyebabnya adalah kekecewaan emosional bercampur rasa takut yang dialami kebanyakan wanita hamil dan melahirkan,  rasa nyeri pada awal masa nifas, kelelahan akibat kurang tidur selama persalinan dan setelah melahirkan,  kecemasan akan kemampuannya untuk merawat bayinya setelah meninggalkan rumah sakit,  ketakutan akan menjadi tidak menarik lagi

PENUTUP
Kesimpulan
Peranan bidan dalam memberikan asuhan masa nifas adalah memberikan asuan yang konsisten,  ramah dan memberikan dukungan pada setiap ibu dalam proses penyembuhannya dari stress fisik akibat persalinan dan meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayinya. Dalam proses penyesuaian ini,  dituntut kontribusi bidan dalam melaksanakan kompetensi,  keterampilan dan sensitivitas terhadap ebutuhan dan harapan setiap ibu dan keluarga. Bidan harus dapat merencanakan asuhan yang akan diberikan pada ibu sesuai dengan kebutuhan ibu tersebut.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar