Selasa, Februari 3

Prinsip Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi dan Penyakit pada Masa Kehamilan, Persalinan dan Nifas



MATERI

1.      Deteksi Dini Terhadap Kelainan, Komplikasi Dan Penyakit Pada Ibu Hamil
Yang dimaksud dengan deteksi dini merupakan upaya pemberian informasi kepada klien yang berpotensi terhadap suatu masalah (penyakit/komplikasi) untuk menyiagakan dalam mengambil tindakan antisipasi atau mengurangi resiko dalam kondisi dan situasi tersebut.
Prinsip deteksi dini terhadap kelainan, komplikasi dan penyakit pada masa kehamilan, persalinan dan nifas adalah suatu kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dan bertindak seorang bidan dalam memberikan informasi terkait dengan resiko ataupun masalah (penyakit, kelainan ataupun komplikasi).
Pemeriksaan dan pengawasan terhadap ibu hamil sangat perlu dilakukan secara teratur. Hal ini bertujuan untuk menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat. Selain itu juga untuk mendeteksi dini adanya kelainan, komplikasi dan penyakit yang biasanya dialami oleh ibu hamil sehingga hal tersebut dapat dicegah ataupun diobati. Dengan demikian maka angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi dapat berkurang.
a.      Pemeriksaan Kehamilan Dini (Early ANC Detection)
Idealnya wanita yang merasa hamil bersedia untuk memeriksakan diri ketika haidnya terlambat sekurang-kurangnya 1 bulan. Dengan demikian, jika terdapat kelainan pada kehamilannya tersebut akan lekas diketahui dan segera dapat diatasi. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sebaiknya melakukan kunjungan antenatal sedikitnya 1 kali pada trimester 1 (sebelum minggu ke 14).
Tujuan pemeriksaan dini pada awal kehamilan adalah :
1)      Kemungkinan hamil
2)      Menetukan usia kehamilan
3)      Melakukan deteksi adanya faktor resiko dan komplikasi pada kehamilan
4)      Perencanaan penyuluhan dan pengobatan yang diperlukan
5)      Melakukan rujukan dan kolaborasi bila kehamilan mengalami komplikasi dan faktor resiko yang memungkinakan komplikasi terjadi
Faktor resiko yang berhubungan dengan kehamilan, yaitu :
1)      Perdarahan pervaginam
2)      Hipertensi (kenaiakan sistole 30 mmHg & diastole 15 mmHg)
3)      Kenaikan atau penurunan BB > 13 kg atau < 9 kg selama kehamilan atau kenaikan < ½ kg/minggu pada triwulan akhir kehamilan
4)      Oedema (terutama pada wajah dan kelopak mata)
5)      Pusing dan pandangan berkunang-kunang
6)      Kehamilan ganda (kembar)
7)      IUFD
8)      Usia kehamilan < 37 minggu atau > 42 minggu
9)      Ibu hamil dengan penyakit menahun
10)  Primigravida dengan penurunan kepala belum masuk PAP pada akhir kehamilan
11)  Proteinuria (++)
12)  Muntah berlebihan
13)  Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu banyak penyulit
Faktor resiko lain yang berada di luar kehamilan, meliputi ;
1)      Usia ibu < 20 tahun atau > 35 tahun
2)      Pendidikan ibu rendah
3)      Paritas > 5
4)      Mempunyai riwayat penyakit menahun /  infeksi
5)      Jarak antara 2 kehamilan < 2 tahun
6)      Riwayat kematian janin/bayi/anak > 1
7)      Persalinan preterm
b.      Kontak Dini Kehamilan Trimester I
Deteksi dini terhadap tanda bahaya kehamilan dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan, dengan penilaian sebagai berikut :
1)      Pada trimester pertama 1x dengan kriteria tanda bahaya yaitu :adanya anemia, penyakit keturunan, infeksi dan degeneratif, perdarahan (abortus, KET, mola hidatidosa), HEG, kelainan genetik janin (jika memiliki riwayat atau resiko)
2)      Pada trimester kedua 1x dengan kriteria tanda bahaya yaitu : perdarahan, pre eklampsia dan eklampsia, gangguan pertumbuhan janin.
3)      Pada trimester ketiga 2 x dengan kriteria tanda bahaya yaitu : adanya kehamilan ganda, perdarahan prvaginam (plasenta previa, solusio plasenta)
c.       Pelayanan ANC berdasarkan kebutuhan individu.
Pelayanan ANC yang diberikan petugas kesehatan kepada setiap ibu hamil berbeda-beda tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari setiap individunya. Misalnya persetujuan ANC yang diberikan terhadap ibu hamil dengan hipertensi tentunya akan berbeda dengan pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil dengan varises.
Pada ibu hamil dengan hipertensi sebaiknya dilakukan pemantauan tekanan darah, urin, dan kondisi janin setiap minggunya. Anjurkan kepada ibu untuk mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu dikonsultasikan kepada ahli. Selain itu anjurkan ibu pula untuk cukup istirahat menjauhi emosi dan jangan bekerja terlalu berat. Pada pola nutrisi sebaiknya ibu dianjurkan untuk diet tinggi protein rendah hidrat arang, rendah lemak, dan rendah garam. Hal ini bertujuan untuk mencegah pertambahan berat badan yang agresif.
Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti, di samping pemeriksaan biasa, dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal, ukuran biparietal (USG), Penentuan kadar estriol, amnioskopi, pH darah janin, dan sebagainya.
Pengakhiran kehamilan baik yang muda maupun yang sudah cukup bulan harus dipikirkan bila ada tanda-tanda hipertensi ganas (tekanan darah 200/120 atau pre-eklamsi berat). Apalagi bila janin telah meninggal dalam kandungan pengakhiran kehamilan ini sebaikanya dirundingkan antar disiplin : dengan ahli penyakit dalam ; apakah ada ancaman terhadap jiwa ibu.
Sedangkan pada ibu hamil dengan varises pelayanan ANC yang diberikan antara lain :
1)      Anjuran ibu untuk jangan berdiri atau duduk terlalu lama dan jangan memakai ikat pinggang terlalu kencang.
2)      Anjurkan kepada ibu supaya jalan-jalan dan senam hamil untuk memperlancar peredaran darah.
3)      Anjurkan ibu untuk memakai kaos kaki atau pembalut tungkai elastis.
4)      Dapat diberikan obat-obatan : Venosan, Glyvenol, Venoruton, dan Varemoid.

d.      Skrining untuk deteksi dini.
Skrining untuk deteksi dini meliputi :
1)      Pemeriksaan yang dilakukan pada kehamilan dini, yaitu :
a)      Anamnesa
Anamnesa adalah tanya jawab antara penderita dan pemeriksa. Dari anamnesa ini banyak keterangan yang diperoleh guna membantu menegakkan diagnosa dan prognosa kehamilan, antara lain :
-        Anamnesa Sosial (biodata dan latar belakang sosial)
-        Anamnesa Keluarga
-        Anamnesa Medik
-        Anamnesa Haid
-        Anamnesa Kebidanan
b)      Pemeriksaan Umum
-        Tinggi badan
Pada wanita hamil yang pertama kali memeriksakan perlu diukur tinggi badannya. Seorang wanita hamil yang terlalu pendek, yang tinggi badannya kurang dari 145 cm tergolong resiko tinggi karena kemungkinan besar persalinan berlangsung kurang lancar. Perbandingan tinggi dan berat badan memberi gambaran mengenai keadaan gizi dan balita.
-        Berat badan
Pada tiap pemeriksaan wanita hamil baik yang pertama kali atau ulangan, berat badan perlu ditimbang. Kenaikan berat badan yang mendadak dapat merupakan tanda bahaya komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi. Dalam trimester I berat badan wanita hamil biasanya belum naik bahkan biasanya menurunkarena kekurangan nafsu makan. Dalam trimester terakhit terutama karena pertumbuhan janin dan uri berat badan naik sehingga pada akhir kehamilan berat badan wanita hamil bertambah kurang lebih 11 kg dibanding sebelum hamil. Pada trimester terakhir berat badan kurang lebih 0.5 kg seminggu, bila penambahan berat badan tiap minggu lebih dari 0.5 kg harus diperhatikan kemungkinan preeklampsi.

-        Tanda-tanda vital
Dalam keadaan normal tekanan darah daloam kehamilan trimester terakhir sistolik tidak melebihi 140 mmHg, dan diastolik tidak melebihi 90 mmHg. Bila terdapat tekanan darah melebihi diatas maka kemungkinan adanya preeklampsi.
-        Pemeriksaan kepala dan leher
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan inspeksi. Pemeriksaan ini meliputi seluruh bagian kepala dan leher. Jika pada pemeriiksaan mata sklera ikterik dan konjungtiva anemis maka kemungkinan anemia.
-        Pemeriksaan payudara
Pada wanita hamil payudara terlihat besar dan tegang serta sedikit nyeri. Hal ini karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktus dan alveoli payudara. Pemeriksan payudara dengan cara palpasi meliputi bentuk dan ukuran payudara, putting susu menonjol atau tidak, adanya retraksi, masa dan pembesaran pembuluh limfe.
-        Pemeriksaan jantung, paru dan organ dalam tubuh lainnya
-        Pemeriksaan abdominal
Pemeriksaan abdominal dilakukan dengan palpasi. Dari pemeriksaan ini diperoleh mengenai ukuran dan bentuk uterus.
-        Pemeriksan genetalia
Untuk memeriksa genetalia biasanya dengan pemeriksaan ginekologi. Pada pemeriksaan ini vulva, vagina dan porsio diperiksa dan dilihat inspekulo.
-        Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui adanya varises dan oedema.
c)      Pemeriksaan laboratorium
Test laboratorium perlu dilakukan pada ibu hamil. Pemeriksan ini ditujukan untuk memeriksa golongan darah, Hb, protein urine, dan glukosa urine. Pemeriksaan urine pada awal kehamilan bertujuan untuk mengetahui adanya kehamilan. Selain itu pemeriksaan urin juga bertujuan untuk mengetahui adanya protein urine dan glukosa urine. Protein dalam urine merupakan hasil kontaminasi dair vagina atau dari infeksi saluran kencing atau penyakit ginjal. Pada saat hamil jika dihubungkan dengan hipertensi dan oedem, hal ini akan menjadi tanda serius dari preeklampsi. Untuk glukosa urin berhubungan dengan diabetes.
2)      Pemeriksaan Penunjang  - USG
USG merupakan suatu media diagnostik dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari struktur jaringan berdasarkan gambaran ecko dari gelombang ultrasonik. Pemeriksaaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemeriksaan yang aman.
Pemeriksaan USG pada kehamilan normal usia 5 minggu struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. Jika dihubungkan dengan kadar HCG pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mlU/ ml. Dari kenyataan ini bisa juga diartikan bahwa kadar HCG yang lebih dari 6500 mlU/ ml tidak dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin, maka kemungkinan kehamilan ektopik.
Gambaran USG kehamilan ektopik sangat bervariasi, tergantung pada usia kehamilan, ada tidaknya gangguan kehamiulan (ruptura, abortus) serta banyak dan lamanya perdarahan intra abdomen. Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan jika terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya di luar kavum uteri.
Pada kehamilan 7 minggu diameter kantong gestasi telah mencapai 25 mm. Panjang embrio mencapai 10 mm dan menjadi lebih mudah dilihat. Struiuktur kepala sudah dapat dibedakan dari badan. Selain denyut jantuing mungkin juga dapat dideteksi adanya gerakan embrio yang dapat dirangsang dengan melakukan perkusi pada dinding perut. Jika tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang telah disebutkkan maka kemungkinan terjadi miss abortion. Jika dijumpai lebih dari 1 embrioyang menunjukkan tanda-tanda kehidupan maka kemungkinan kehamilan multipel.
Pada kehamilan 8 minggu kantong gestasi telah berdiameter 30 mm. Struktur embrio dapat dilihat lebih jelas lagi. Sering kali terlihat kuning telur dalam (yolk salk) berupa struktur vasikuler berdiameter kira-kira 5 mm yang letaknya diluar selaput amnion. Jika tidak dijumpai adanya struktur embrio dan kantong kuning telur maka kemungkinan kehamilan anembrionik.

2.      Deteksi Dini Penyulit Persalinan
Pemanfaatan Partograf  Pada Setiap Persalinan Kala I Aktif
Partograf merupakan alat untuk mencatat informasi berdasarkan observasi, anamnesa dan pemeriksaan fisik ibu dalam persalinan dan sangat penting khususnya untuk membuat keputusan klinik selama kala I persalinan.
Kegunaan utama dari partograf adalah :
a.       Mengamati dan mencatat informasi kemajuan persalinan dengan memeriksa dilatasi serviks saat pemeriksaan dalam.
b.      Menentukan apakah persalinan berjalan normal dan mendeteksi dini persalinan lama.
Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Partograf harus digunakan :
a.       Untuk semua ibu dalam fase aktif kala I persalinan sebagai elemen penting asuhan persalinan. Partograf harus digunakan tanpa ataupun adanya penyulit.
b.      Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat (rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah sakit, dll)
c.       Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran (spesialis obgin, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteran)
Bagian-bagian dari partograf :
Partograf berisi ruang untuk pencatatan hasil pemeriksaan yang dilakukan selama kala I persalinan termasuk :
a.       Kemajuan Persalinan
1)      Pembukaan serviks (setiap 4 jam)
2)      Penurunan kepala janin (setiap 4 jam)
3)      Kontraksi uterus (setiap 30 menit)
b.      Keadaan Janin
1)      DJJ (setiap 30 menit)
2)      Warna dan jumlah air ketuban (setiap PD)
3)      Molase tulang kepala janin (setiap PD)
c.       Keadaan Ibu
1)      Nadi (setiap 30 menit)
2)      Tekanan darah, suhu (setiap 4 jam)
3)      Urin : volume dan protein (setiap 2-4 jam)
4)      Obat-obatan dan cairan IV
Tabel 1.
Penilaian pada partograf yang menggunakan tanda/simbol khusus.
Temuan
Penilaian
Tanda
DJJ
x/menit

Ketuban
Selaput Utuh
Selaput pecah, air ketuban Jernih
Selaput pecah, air ketuban bercampur Mekoneum
Selaput pecah, air ketuban bercampur Darah
Selaput pecah, dan tidak ada air ketuban (Kering)
U
J
M
D
K
Molase
Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura mudah dipalpasi.
Tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
Tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih bisa dipisahkan
Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan.
0
1
2
3
Pembukaan serviks
4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
X
Penurunan kepala janin
0/5 = jika kepala janin tidak teraba dari luar atau seluruhnya sudah melalui simfisis pubis.
1/5 = jika hanya sebagian kecil kepala dapat diraba di atas simfisis pubis.
2/5 = jika hanya 2 dari 5 jari bagian kepala janin teraba di atas simfisis pubis. Berarti hampir seluruh kepala telah turun ke dalam saluran panggul (bulatnya kepala tidak dapat diraba dan kepala janin tidak dapat digerakkan).
3/5 = jika hanya 3 dari 5 jari bagian kepala janin teraba diatas simfisi pubis.
4/5 = jika sebagian besar kepala janin berada di atas simfisis pubis.
5/5 = jika keseluruhan kepala janin dapat diraba di atas simfisis pubis.
O
Kontraksi uterus
(dalam 10 menit)
Kurang dari 20 detik
Antara 20 – 40 detik
Lebih dari 40 detik

Nadi


Tekanan darah
mmHg
ô

Tabel 2.
Masalah dan Penyulit pada Kala I persalinan
No
Temuan-temuan Anamnesis dan/atau Pemeriksaan
1
Perdarahan pervaginam selain dari lendir bercampur darah (“show”)
2
Kurang dari 37 minggu (persalinan kurang bulan)
3
Ketuban pecah disertai dengan keluarnya mekonium kental
4
Ketuban pecah bercampur dengan sedikit mekonium disertai tanda-tanda gawat janin
5
Ketuban telah pecah (lebih dari 24 jam) atau ketuban pecah pada kehamilan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
6
Tanda-tanda atau gejala-gejala infeksi: temperatur tinggi > 38oC, menggigil, nyeri abdomen, cairan ketuban yang berbau
7
Tekanan darah > 160/100 dan/atau terdapat protein dalam urin
8
Tinggi fundus 40 cm atau lebih
9
DJJ < 100 atau > 180 x/menit pada dua kali penilaian dengan jarak 5 menit.
10
Primipara dalam persalinan fase aktif dengan palpasi kepala janin masih 5/5
11
Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang, dll)
12
Presentasi ganda/majemuk (adanya bagian janin, seperti lengan atau tangan, bersamaan dengan presentasi belakang kepala)
13
Tali pusat menumbung (jika tali pusat masih berdenyut)
14
Tanda dan gejala syok:
-        Nadi cepat, lemah (lebih dari 110 x/menit)
-        Tekanan darahnya rendah (sistolik kurang dari 90 mmhg)
-        Pucat
-        Berkeringat atau kulit lembab, dingin
-        Napas cepat (lebih dari 30 x/menit
-        Cemas, bingung atau tidak sadar
-        Produksi urin sedikit (kurang dari 30 ml/jam)
15
Tanda dan gejala persalinan dengan fase laten yang memanjang:
-        Pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam
-        Kontraksi teratur (lebih dari 2 dalam 10 menit)
16
Tanda dan gejala belum inpartu:
-        < 2 x kontraksi dalam 10 menit, berlangsung kurang dari 20 detik
-        Tidak ada perubahan serviks dalam waktu 1 sampai 2 jam
17
Tanda dan gejala partus lama:
-        Pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada
-        Pembukaan serviks kurang dari 1 cm per jam
-        < 2 x kontraksi dalam waktu 10 menit, masing-masing berlangsung kurang dari 40 detik


Tabel 3.
Parameter Monitoring Persalinan (Partograf)
Parameter
Temuan abnormal
Tekanan darah
> 140/90 dengan sedikitnya satu tanda/gejala pre-eklampsia
Temperatur
> 38oC
Nadi
> 100 x/menit
DJJ
< 100 atau > 180 x/menit
Kontraksi
< 3 dalam 10 menit, berlangsung < 40 detik, ketukan di palpasi lemah
Serviks
Partograf melewati garis waspada pada fase aktif
Cairan amnion
Mekonium, darah, bau
Urin
Volume sedikit dan pekat

3.      Deteksi Dini Komplikasi Masa Nifas
a.      Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan.
b.      Tujuan Asuhan Masa Nifas
Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :
1)      Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
2)      Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.
3)      Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari
4)      Memberikan pelayanan keluarga berencana.
5)      Mendapatkan kesehatan emosi.
c.       Tahapan Masa Nifas
Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
1)      Puerperium dini
Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
2)      Puerperium intermedial
Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu.

3)      Remote puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.
d.      Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :
1)      Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.
2)      Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.
3)      Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.
4)      Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.
e.       Asuhan Yang Diberikan Sewaktu Melakukan Kunjungan Masa Nifas :
1)      Asuhan 6-8 jam post partum
a)      Mencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri
b)      Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut
c)      Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri
d)     Pemberian ASI awal
e)      Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
f)       Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi
g)      Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
2)      Asuhan 6 hari post partum
a)      Memastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal
b)      Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan
c)      Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup
d)     Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan
e)      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui
f)       Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir sehari-hari, pemberian ASI ekslusif, imunisasi.
3)      Asuhan 2 minggu post partum
Asuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
4)      Asuhan 6 minggu post partum
a)      Menanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas
b)      Memberikan konseling KB secara dini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar