Selasa, Mei 29

BAYI BARU LAHIR ATAU NEONATUS DENGAN OBS. FEBRIS DAN SUSP. ASPIRASI


BAYI BARU LAHIR / NEONATUS
DENGAN OBS. FEBRIS DAN SUSP. ASPIRASI


I.         PENDAHULUAN
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di dalam rahim menjadi di luar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan di dalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan di luar rahim yang serba mandiri. Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama. Transisi ini hampir meliputi semua sistem organ tapi yang terpenting adalah sistem pernafasan (sirkulasi), ginjal dan hepar.
Gangguan pernapasan sampai saat ini masih merupakan salah satu faktor penting sebagai penyebab tingginya angka kesakitan dan angka kematian pada masa neonatus. Di luar negri kurang lebih 50 % kematian neonatus disebabkan oleh kelainan saluran pernapasan. Di Indonesia berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1992, sebesar 2 % disebabkan oleh gangguan saluran pernapasan. Hal ini terutama disebabkan kompleksnya faktor etiologi pada beberapa penyakit tertentu terhadap keterbatasan dalam penatalaksanaan dari permasalahan yang ada.
Neonatus dianggap menderita gangguan pernapasan apabila ditemukan gejala meningkatnya frekuensi napas (lebih dari 60 x/menit). Penyakit gangguan pernapasan pada neonatus perlu ditanggulangi secara cepat dan tepat karena keadaan neonatus dapat memburuk dengan sangat cepat. Penatalaksanaan penderita gangguan pernapasan sangat bergantung dari penyebabnya.

II.                GANGGUAN PERNAPASAN
A.    MEKANISME PERNAPASAN NORMAL
Udara akan bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ketempat yang bertekanan rendah, karena itu untuk memindahkan udara keluar dan kedalam paru-paru dibutuhkan perbedaan tekanan atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi tekanan alveoli akan jatuh dibawah tekanan atmosfir sehingga udara mengalir masuk. Jika alveoli sudah terisi penuh, maka tekanannya akan menjadi lebih tinggi dari tekanan atmosfir dan elastisisitas dinding alveoli yang telah teregang tadi akan menyebabkan mengalirnya udara keluar paru-paru (ekspirasi). Jika terdapat gangguan pernapasan, otot-otot pernapasan akan ikut aktif bekerja yang kita lihat sebagai retraksi.
B.  PATOGENESIS
Tersedak atau aspirasi ini pun bisa menyebabkan sesak napas. Bisa karena tersedak susu atau makanan lain, semisal pisang atau yang lain. Kadang juga disebabkan mereka menangis kala mulutnya sedang penuh makanan, atau ibu yang tidak berhati-hati kala menyusui, sehingga tiba-tiba bayinya muntah. Mungkin saja sisa muntahnya ada yang masih tertinggal di hidung atau tenggorokan. Biasanya setelah muntah, anak tersebut akan menangis. Saat menarik napas itulah, sisa makanan masuk ke paru-paru.
Akibatnya, setelah tersedak anak batuk-batuk. Mungkin setelah batuk ia akan tenang, tapi setelah 1-2 hari napasnya mulai bunyi. Bahkan bisa juga kemudian terjadi peradangan dalam paru-paru. Anak bisa panas karena terjadi infeksi. Yang sering adalah napas berbunyi seperti asma dan banyak lendir.
Biasanya setelah dilakukan rontgen akan diketahui adanya penyumbatan/atelektasis. Pengobatan dapat dilakukan dengan bronkoskopi, yaitu dengan mengambil cairan atau makanan yang menyumbatnya.
Aspirasi terjadi apabila bayi atau neonatus tersedak dari pemberian ASI ataupun susu botol dan muntahnya masuk ke saluran pernapasan (paru-paru). Aspirasi akan lebih bahaya lagi jika bayi yang tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan akan merusak paru-paru. Jika ini yang terjadi, tak ada pilihan lain kecuali membawanya ke dokter.
Untuk mencegah kemungkinan tersedak dianjurkan agar setiap kali bayi muntah selalu dimiringkan badannya. Akan lebih baik jika sebelum si bayi muntah (saat menunjukkan tanda-tanda akan muntah) segera dimiringkan atau ditengkurapkan atau didirikan sambil ditepuk-tepuk punggungnya.

C.  BATASAN
§  Frekuensi pernapasan yaitu lebih dari 60 x/menit
§  Terisapnya cairan kedalam paru-paru pada bayi, yang dapat terjadi pada saat pemberian susu atau ASI.

D.    KRITERIA DIAGNOSIS DAN GEJALA GANGGUAN PERNAPASAN
Pada neonatus dengan gangguan pernapasan dapat disertai dengan gejala seperti:
§  Frekuensi pernapasan lebih dari 60 x/menit
§  Dispnea (sesak napas)
§  Sianosis
§  Pada neonatus dapat pula memperlihatkan kesulitan melakukan pertukaran udara pernapasan berupa adanya retraksi otot-otot pernapasan pada saat inspirasi dan suara merintih.

Sesudah aspirasi isi lambung biasanya sering ada periode laten yang relatif singkat sebelum mulainya tanda-tanda dan gejala-gejala dari gangguan pernapasan itu sendiri. Lebih dari 90 % penderita bergejala dalam 1 jam dan hampir semua penderita bergejala dalam 2 jam, seperti: demam, takipnea dan batuk lazim juga terdapat. Selanjutnya apnea dan syok dapat juga terjadi.

E.     PERAWATAN
1.      Pertahankan suhu tubuh bayi 36,5-37,5 0C
2.      Berikan oksigen lembab melalui headbox atau oksibox. Monitoring oksigen
3.      Terapi cairan dengan pemasangan cairan infus Dekstrose 10%
4.      Posisikan bayi telungkup untuk memperbaiki oksigenasi, mengurangi kerja pernapasan dan kehilangan panas.
5.      Foto thoraks
6.      Pemberian antibiotik
7.      Monitoring keadaan umum dan tanda-tanda vital serta gula darah pada neonatus

  1. TUGAS BIDAN
Bidan yang merawat bayi baru lahir atau neonatus dengan tanda-tanda gangguan pernapasan bertugas menyediakan perawatan suportif sambil menunggu datangnya tim medis atau merujuknya ke tempat yang mempunyai fasilitas yang lebih lengkap. Perawatan meliputi:
1.      Pemberian oksigen menggunakan sungkup muka (mulai dengan kadar 40 %) untuk meringankan dispnea dalam upaya untuk memperoleh oksigen.
2.      Bayi baru lahir atau neonatus harus terus menerus dipantau laju jantung dan laju napasnya.
3.      Selain itu bayi baru lahir atau neonatus juga harus dipantau suhu tubuhnya dan pemberian ASI melalui mulut harus dihentikan karena adanya resiko aspirasi dan kebutuhan tambahan akan oksigen.
4.      Bidan harus secara hati-hati mengkaji ulang riwayat kehamilan, persalinan dan pasca persalinan untuk mencari tanda-tanda infeksi.

III.             DEMAM
Febris (demam) adalah suhu tubuh yang lebih tinggi dari pada normal. Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan non infeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahanan hospes (organisme hidup). Pada kebanyakan anak demam disebabkan oleh agen mikrobiologi yang dapat dikenali dan demam menghilang sesudah masa yang pendek.
Demam adalah kenaikan suhu yang ditengahi oleh kenaikan titik-ambang regulasi panas hipotalamus. Pusat regulasi/pengatur panas hipotalamus mengendalikan suhu tubuh dengan menyeimbangkan sinyal dari reseptor-reseptor neuronal perifer dingin dan panas dan faktor pengatur lainnya adalah suhu darah yang bersirkulasi dalam hipotalamus.
A.    KLASIFIKASI
Demam pada anak dapat digolongkan sebagai berikut :
§  Demam yang singkat dengan tanda-tanda yang mengumpul pada satu tempat sehingga diagnosis dapat ditegakkan melalui riwayat klinis dan pemeriksaan fisik, dengan atau tanpa uji laboratorium.
§  Demam tanpa tanda-tanda yang mengumpul pada satu tempat, sehingga riwayat dan pemeriksaan fisik tidak memberi kesan diagnosis tetapi uji laboratorium dapat menegakkan etiologi.
§  Demam yang tidak diketahui sebabnya (fever of unknowm origin = FUO)

B.     POLA DEMAM
Variasi suhu biasanya dipertahankan pada penderita penyakit demam. Apabila irama sirkadian ini maka harus dicurigai bahwa hal itu adalah demam yang sebenarnya bukan buatan. Pola demam dapat remitens (setiap hari, suhu yang naik kembali ke garis dasar tetapi di atas normal), intermitens (demam kembali normal setiap hari), hektik (intermitens atau remitens dengan variasi suhu > 1,4 0C [2,5 0F]), atau menetap atau terus-menerus (fluktasi kenaikan suhu < 0,3 0C [0,5 0F]). Pada sebagian besar proses infeksi atau radang sifat-sifat pola demam tidak begitu penting secara diagnosatik. Demam akibat malaria, penyakit Hodgkin (demam yang Ebstein), dan neutropenia siklik dapat menunjukkan keadaan yang mendasari.

C.     PENGOBATAN
1.      Pertahankan suhu  tubuh bayi 36,5-37,5 0C
2.      Terapi cairan dengan pemasangan cairan infus Dekstrose 10%
3.      Periksa tanda-tanda vital termasuk suhu tubuh bayi atau neonatus setiap jam sampai batas normal
4.      Periksa kadar glukose darah
5.      Pemberian antibiotik dan obat penurun panas

D.    TUGAS BIDAN
Tugas bidan dalam menghadapi bayi baru lahir atau neonatus yang mengalami demam yaitu dengan menjaga suhu tubuh neonatus agar tetap hangat dengan memindahkan ke ruangan yang lebih hangat. Lakukan pengkompresan dengan menggunakan air hangat, jangan menggunakan air es. Konsultasikan ke dokter anak atau ke tempat yang mempunyai fasilitas yang lebih lengkap.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar