Rabu, Mei 16

PEMBERIAN OBAT


PEMBERIAN OBAT

NAMA OBAT
·         Nama KIMIA = memberi gambaran pasti komposisi obat
Contoh à asetil salisilat dikenal sebagai aspirin
·         Nama GENERIK = diberikan oleh pabrik pertama kali diproduksi sebelum mendapat izin dari FDA
Contoh à Aspirin
·         Nama dagang, merk, pabrik = nama yang digunakan pabrik untuk memasarkan obat. Ex aspirin dikenal dengan nama dagang Bufferin
KLASIFIKASI
·         Analgetik
·         Anti piretik
·         Anti inflamasi
·         Anti biotik
Adakalanya sebuah obat dapat memiliki klasifikasi lebih dari satu, ex aspirin (analgetik, antipiretik, anti inflamasi)
Setiap golongan obat memiliki implikasi keperawatan untuk pemberian dan pemantauan yang tepat.
Ex. golongan diuretik à memberikan implikasi keperawatan :
1.       Memantau input dan output cairan
2.       Menimbang BB tiap hari
3.       Mengkaji adanya edema
4.       Memantau kadar elektrolit serum
BENTUK OBAT
          KAPLET = dosis padat, bentuk spt kapsul dan bersalut, shg mudah ditelan
          KAPSUL = dosis padat, bentuk bubuk, cairan atau minyak, dibungkus selongsong gelatin
          ELIKSIR = cairan jernih berisi air/alkohol, ditambah pemanis
          EKSTRAK = bentuk pekat
          GLISERIT = dikombinasi dengan gliserin + 50%, untuk penggunaan luar
          LINIMENT = obat gosok, dioles di kulit
          SALEP = semisolid (Agak padat)
          PASTA = semisolid, lebih kental, kaku, diabsorbsi kulit lebih lambat dari pada salep
          LARUTAN = cairan (per oral, parenteral)
          SUPOSITORIA = dosis padat dicampur gelatin, bentuk peluru, meleleh saat mencapai suhu tubuh
          SUSPENSI = partikel obat yang dibelah sampai halus dan larut dalam media cair
          SYRUP = obat larut dalam gula pekat, mengandung perasa membuat terasa lebih enak
          TABLET = dosis bubuk dikompresi dalam cakram atau silinder yang keras
SIFAT KERJA OBAT
FARMAKOKINETIK = ilmu tentang cara obat masuk ke dalam tubuh, mencapai tempat kerjanya, dimetabolisme, dan keluar dari tubuh.
          RUTE ORAL
-         Pemberian per oral = paling mudah dan paling umum digunakan. Diberikan via mulut dan ditelan.
-         Pemberian sub lingual = di bawah lidah, langsung larut (nitrogliserin)
-         Pemberian BUKAL = menempatkan obat padat di memban mukosa pipi sampai obat larut, tidak dikunyah / ditelan
          RUTE PARENTERAL
-         SC = sub kutan = injeksi ke dalam jaringan tepat di bawah lapisan dermis kulit
-         ID = intra dermal = injeksi ke dalam dermis tepat di bawah eidermis
-         IM = intra muskular = injeksi ke dalam otot tubuh
-         IV = intra vena = suntikan ke dalam vena
-         Pemberian obat parenetral lainnya …
§  EPIDURAL
Ø  Obat diberikan dalam ruang epidural via kateter yang telah dipasang, ex jalan analgesik post operasi.
Ø  Perawat yang telah mendapat pelatihan khusus dapat memberikan obat dalam bentuk bolus
§  INTRATEKAL
Ø  Diberikan melalui sebuah kateter yang telah dipasang dalam ruang subaraknoid atau ke dalam salah satu ventrikel otak
Ø  Biasanya dalam waktu jangka panjang melalui pembedahan
§  INTRASEOSA
Ø  Memasukan obat langsung ke sumsum tulang
Ø  Paling sering pada bayi, anak – anak dimana akses pembuluh darahnya buruk
Ø  Digunakan pada kondisi darurat
Ø  Dokter menginsersi jarum intraseosa ke dalam tulang, biasanya ke tibia, shg perawat dapat memberikan obat
§  INTRAPERITONEAL
Ø  Obat diberikan dalam rongga peritonium
Ø  Ex kemoterapi, antibiotik
§  INTRAPLEURA
Ø  Obat diberikan melalui dinding dada, ke ruang pleura
§  Ex kemoterapi, pleuradesis (memasukan obat untuk mengatasi efusif pleura)
INTRAARTERI
Ø  Obat dimasukkan ke dalam arteri
Ø  Ex infus arteri pada arteri yang mengalami pembekuan
          PEMBERIAN TOPIKAL
          INHALASI
          INTRAOKULER
PEMBERIAN OBAT
·         BENAR OBAT
·         BENAR DOSIS
·         BENAR KLIEN
·         BENAR RUTE
·         BENAR WAKTU
PEDOMAN PEMBERIAN dan KONTROL NARKOTIK YANG AMAN
1.       Simpan semua narkotik di dalam lemari atau kotak yang aman dan terkunci
2.       Perawat bertanggungjawab membawa perangkat kunci
3.       Pada pergantian jadwal dinas, cek jumlah obat bersama perawat yang akan jaga
4.       Bila perhitungan jumlah narkotik tidak sesuai, LAPORKAN !
5.       Gunakan catatan inventarisasi khusus tiap kali narkotik dikeluarkan
6.       Catatan digunakan untuk mendokumentasikan nama klien, tanggal, waktu pemberian, nama dan dosis obat serta tanda tangan perawat yang mengeluarkan obat
7.       Format menjelaskan perhitungan akurat narkotik yang digunakan dan sisanya
8.       Jika zat terkontrol yang diberikan hanya satu bagian dari dosis yang ditetapkan, perawat kedua hrs menyaksikan pembuangan bagian narkotik yang tidak digunakan dan mencatatnya dalam format pencatatan.
a.        EFEK TERAPETIK = respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul.
b.       EFEK SAMPING = sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan
c.        EFEK TOKSIK = terjadi jika klien meminum obat dosis tinggi dalam jangka waktu lama
Ex. Morfin (analgesik narkotik) meredakan nyeri dengan menekan susunan syaraf pusat. Bagaimanapun kadar toksik morfin menyebabkan depresi pernafasan yang berat dan kematian.
REAKSI ALERGI
= Respon lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat. Dari seluruh reaksi obat, 5% – 10% merupakan reaksi alergi. Timbul bila obat diberikan secara berulang, dapat bersifat ringan s/d berat
REAKSI ALERGI RINGAN
·         Urtikaria = Erupsi kulit yang bentuknya tidak beraturan, meninggi, ukuran dan bentuk bervariasi, erupsi memiliki batas berwarna merah dan bagian tengahnya berwarna pucat
·         RUAM = vesikel kecil dan meninggi yang biasanya berwarna merah, seringkali tersebar di seluruh tubuh
·         PRURITIS = gatal – gatal pada kulit, kebykn timbul bersama ruam
·         RINITIS = inflamasi lapisan membran mukosa hidung, menimbulkan bengkak dan pengeluaran rabas encer dan berair
REAKSI BERAT/ REAKSI ANAFILAKSIS
·         Konstriksi otot bronkhiolus
·         Edema faring dan laring
·         Mengi berat dan sesak nafas
·         Hipotensi berat
Diagnosa keperawatan/kebidanan untuk Terapi Obat
1.       Kurang pengetahuan tentang terapi obat b/d =
a.        Kurang informasi dan pengalaman
b.       Keterbatasan kognitif
c.        Tidak mengenal sumber informasi
2.       Ketidakpatuhan terhadap terapi obat b/d =
a.        Sumber ekonomi yang terbatas
b.       Keyakinan tentang kesehatan
c.        Pengaruh budaya
3.       Hambatan mobilitas fisik b/d =
a.        Penurunan kekuatan
b.       Nyeri dan ketidaknyamanan
4.       Perubahan sensori / persepsi b/d = Pandangan kabur
5.       Gangguan menelan b/d =
a.        Kerusakan neuromuskuler
b.       Irigasi rongga mulut
c.        Kesadaran yang terbatas
6.       Penatalaksanaan program terapetik tidak efektif b/d =
a.        Terapi obat yang kompleks
b.       Pengetahuan yang kurang
SISTEM PERHITUNGAN OBAT
          SISTEM METRIK
-         Paling teratur, mudah dikonversi dan dihitung (perkalian, pembagian sederhana)
-         10,0 mg x 10 = 100 mg
-         10,0 mg / 10 = 1,00 mg
-         Pecahan selalu dalam bentuk desimal (500 mg = 0,5 g)
          SISTEM APOTHECARY
-         Dikenal di As, Kanada
-         Standar pengukuran biasanya di rumah (susu dalam botol = pint = 0,568 lt ; quarts = 0,9463 lt)
-         Satuan berat (Inggris) = grain (turunan : dram, ons, pound)
-         Satuan volume = minim (setara 1 grain)
-         Sistem ini tidak akurat
          UKURAN RUMAH TANGGA
-         Tetesan, sendok teh, sendok makan
-         Keuntungan = aspek kenyamanan, mudah dikenali

Tabel EKUIVALENSI UKURAN

METRIK
APOTHECARY
RUMAH TANGGA
1 ml
fluidram
1 sendok teh (sdt)
4-5 ml
4 fluidrams
1 sendok makan (sdm)
16 ml
1 fluid ounce
2 sendok makan (sdm)
30 ml
8 fluid ounce
1 cangkir ©
240 ml
1 pint (pt)
1 pint (pt)
480 ml (Kira2 500ml)
1 quart (qt)
1 quart (qt)
960 ml (Kira2 1 Ltr)
1 galon (gal) 15 tetes (tts)
1 galon (gal)
3840 ml (Kira2 5 Ltr) 15 – 16 minim (m)
-
-

          LARUTAN
-         = Suatu massa zat padat yang larut dalam suatu volume cairan lain yang diketahui (g/mL, g/L, mg/mL)
-         Larutan 10% = 10 g zat padat yang dilarutkan dalam 100 mL larutan.
-         Larutan 1 : 1000 = larutan yang mengandung 1 g zat padat dalam 1000 mL cairan / 1 ml cairan dalam 1000 mL cairan lain.
-         SOAL
Betadine 10% diencerkan menjadi 0,5%.
Berapa perbandingan betadine : aquadest yang dibutuhkan ?
Jawab …



PENGARUH KERJA OBAT PADA LANSIA
          SALURAN CERNA
-         Elastisitas hilang pada mukosa mulut, sehingga menjadi kering dan pecah-pecah
-         Intervensi =
a.        Sering kumur dengan air hangat
b.       Dental fross
c.        Sikat gigi dan gusi dengan lembut
          ESOFAGUS
-         Bersihan esofagus lambat krn kontraksi melemah dan sfingter esogafus bawah tidak bisa relaksasi
-         Intervensi =
a.        Posisi klien tegak
b.       Berikan cairan segelas bersama obat
c.        Gerus tablet, campur dengan air
          GASTER
-         Penurunan keasaman lambung dan peristaltik
-         Intervensi = minta klien minum 1 gelas penuh air dan meminum obat dengan kudapan tidak berlemak untuk mengurangi ggn lambung
          USUS BESAR
-         Tonus otot kolon menurun, refleks defekasi menghilang, aliran darah di usus menurun
-         Intervensi =
a.        Beri asupan cairan dalam jumlah normal
b.       Anjurkan klien makan pembentuk feses
          INTEGUMEN dan VASKULARISASI
-         Penurunan ketebalan lipatan kulit
-         Elastisitas kulit dan vaskularisasi menurun
-         Intervensi =
a.        Hindari penggunaan vena di tangan sebagai tempat suntikan IV
b.       Tekan tempat injeksi setelah penyuntikan
c.        Observasi perdarahan di tempat injeksi
          HEPAR
-         Penurunan ukuran hati
-         Menurunnya aliran darah hati
-         Intervensi =
a.        Pantau tanda kerusakan hati (ikterus, pruritis, urine gelap)
b.       Tanyakan dosis untuk klien yang menderita penyakit hati
          GINJAL
-         Filtrasi glomerolus menurun, fungsi tubulus dan aliran ginjal menurun
-         Intervensi =
a.        Cegah retensi urine, pantau kateter
b.       Pantau tanda kerusakan ginjal (keluaran menurun, sulit berkemih)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar