Selasa, Mei 29

HIV dan AIDS


2.2.  HIV dan AIDS
2.3.1. Definisi HIV dan AIDS
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini menurunkan sampai merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Setelah beberapa tahun jumlah virus semakin banyak sehingga sistem kekebalan tubuh tidak lagi melawan penyakit yang masuk. Ketika individu tidak lagi memiliki sistem kekebalan tubuh maka semua penyakit dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh. Selanjutnya AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome atau kumpulan berbagai gejala penyakit akibat turunnya kekebalan tubuh individu akibat HIV. (Muadz, 2008)
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang artinya adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia, sehingga system kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak berfungsi sama sekali. AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yang berarti sekumpulan gejala dan penyakit infeksi yang timbul karena menurunnya atau rusaknya system kekebalan tubuh seseorang. (Gunadarma, 2010)
HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang artinya adalah virus yang menyerang daya tahan tubuh manusia, sehingga sistem kekebalan tubuh manusia dapat menurun tajam bahkan hingga tidak berfungsi sama sekali. AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome yang berarti sekumpulan gejala dan penyakit infeksi yang timbul karena menurunnya atau rusaknya sistem kekebalan tubuh seseorang. (Gunadarma, 2010)
2.3.2. Sejarah HIV dan AIDS
Pada akhir 1970-an di daerah Sub Sahara Afrika, HIV sudah berkembang dan meluas. Berdasarkan kasus-kasus penyakit yang ada di rumah-rumah sakit di beberapa Negara Afrika pada saat itu. Hal ini juga diperkuat oleh beberapa contoh darah pada tahun 1950-an yang telah mengandung HIV. Tetapi kasus HIV dan AIDS pertama kali dilaporkan oleh Gottleib dan kawan-kawan di Los Angeles pada tanggal 5 Juni 1981.
HIV ditemukan oleh Dr. Luc Montaigner dan kawan-kawan dari Institute Pasteur Perancis. Mereka berhasil mengisolasi virus penyebab AIDS ini dengan mengisolasi virus dari kelenjar getah bening dalam tubuh odha (Orang dengan HIV dan AIDS) yang membengkak. Pada bulan Juli 1994 Dr. Robet Gallo dari Lembaga Kanker Nasional di Amerika Serikat menyatakan bahwa dia menemukan virus baru dari seorang penderita AIDS yang diberi nama HTLV-III.
Ilmuwan lainnya yaitu J. Levy menemukan virus penyebab AIDS yang ia namakan AIDS Related Virus yang disingkat ARV. Akhir Mei 1986 Komisi Taksonomi Internasional sepakat menyebut nama virus AIDS ini dengan HIV. Kasus AIDS pertama di Indonesia yang dilaporkan adalah pada seorang turis asing di Bali pada tahun 1987. (BKKBN, 2008)
Pada tahun 1987 kasus HIV/AIDS pertama ditemukan di Indonesia yaitu seorang laki-laki warga Negara Belanda yang meninggal di Bali karena AIDS. Tahun berikutnya warga Negara Indonesia yang pertama, seorang laki-laki yang berusia 35 tahun, juga meninggal karena AIDS, di sebuah runah sakit di Denpasar, Bali. Fakta ini menunjukkan laki-laki Indonesia tersebut sudah terinfeksi HIV antara 5 dan 10 tahun sebelumnya sehingga epidemi HIV sudah ada di Indonesia antara 1978-1983 pada saat kasus pertama diidentifikasi di amerika Serikat. (Harahap, 2000)
2.3.3. Penularan HIV dan AIDS
2.3.3.1.   Media penularan HIV
HIV terdapat pada semua cairan tubuh, tetapi yang dapat menjadi media penularan adalah: darah, sperma, cairan vagina, air susu ibu. (BKKBN, 2008)
2.3.3.2.   Cara Penularan HIV
Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV. Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI). (Netsains, 2008)
2.3.3.3.   Perilaku Beresiko yang Menularkan HIV
Menggunakan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian dan peralatan tajam lainnya yang sudah tercemar HIV. Berhubungan seks melalui dubur, oral maupun malalui vagina tanpa perlindungan bagi resiko tinggi. Memiliki banyak pasangan seksual atau mempunyai pasangan yang memiliki banyak pasangan lain. (BKKBN, 2008)
2.3.3.4.   Aktivitas yang tidak Menularkan HIV
Hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang. Selain itu penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS. (Netsains, 2008)
2.3.4. Proses terjadinya HIV dan AIDS
Virus HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan. CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol).
Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia. (www.HIV/AIDS.com, diakses Kamis, 06 Januari 2011)
2.3.5. Fase-fase HIV dan AIDS
2.3.5.1.   Fase 1
Umur infeksi 1-6 bulan (sejak terinfeksi HIV). Individu sudah terpapar dan terinfeksi. Tetapi cirri-ciri terinfeksi belum terlihat meskipun ia melakukan tes darah. Pada fase ini antibody terhadap HIV belum tampak. Sudah dapat menularkan kepada oranglain. Bisa saja terlihat/mengalami gejala-gejala ringan, seperti flu (biasanya 2-3 hari dan akan sembuh dengan sendirinya).
2.3.5.2.   Fase 2
Umur infeksi 2-10 tahun (setelah terinfeksi HIV). Pada fase kedua ini, individu sudah positif HIV dan belum menunjukkan gejala sakit. Dapat menularkan pada orang lain. Bisa saja terlihat/mengalami gejala ringan, seperti flu (biasanya 2-3 hari dan akan sembuh dengan sendirinya)
2.3.5.3.   Fase 3
Mulai muncul gejala-gejala awal penyakit. Belum disebut sebagai gejala AIDS. Gejala-gejala yang berkaitan antara lain keringat yang berlenihan pada waktu malam, diare terus-menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, flu yang tidak sembuh-sembuh, nafsu makan berkurang dan badan menjadi lemah serta berat badan terus berkurang
2.3.5.4.   Fase 4
Sudah masuk pada fase AIDS. AIDS baru dapat didiagnosa setelah kekebalan tubuh sangat berkurang dilihat dari jumlah sel-T-nya. Timbul penyakit tertentu dengan infeksi oportunistik, yaitu TBC, infeksi paru-paru yang menyebabkan radang paru-paru dan kesulitan bernafas, kanker, sariawan, kanker kulit atau sarcoma Kaposi, infeksi usus yang menyebabkan diare parah berminggu-minggu, dan infeksi otak yang menyebabkan kekacauan mental dan sakit kepala. (Muadz, 2008)


2.3.6. Gejala HIV dan AIDS
2.3.6.1.   Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguanneurologis. Dimensia/HIV ensefalopati.
2.3.6.2.   Gejala minor
Batuk menetap lebih dari 1 bulan. Dermatitis generalisata yang gatal. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita. (Netsains, 2008)
2.3.7. Pencegahan HIV dan AIDS
2.3.7.1.   Pencegahan HIV dan AIDS secara umum
Pencegahan HIV dan AIDS secara umum terdiri dari lima cara pokok untuk mencegah penularan HIV (A, B, C, D), yaitu: Abstinence (A) yaitu memilih untuk tidak melakukan hubungan seks beresiko tinggi, terutama seks pranikah. Be faithful (B) yaitu salling setia dengan pasangannya. Condom (C), menggunakan kondom secara konsisten dan benar. Drugs (D), tolak penggunaan NAPZA suntik. Equipment (E), yaitu jangan memakai jarum suntik atau peralatan tajam lainnya bersama-sama dengan orang yang terinfeksi HIV. (BKKBN, 2008)
2.3.7.2.   Pencegahan HIV dan AIDS untuk pengguna NAPZA
Pencegahan HIV dan AIDS untuk pengguna NAPZA adalah mulai berhenti menggunakan NAPZA, sebelum terinfeksi HIV atau tidak memakai jarum suntik. (Muadz, 2008)
2.3.7.3.   Pencegahan HIV dan AIDS untuk remaja
Pencegahan HIV dan AIDS untuk remaja adalah tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Mencari informasi yang lengkap dan benar yang berkaitan dengan HIV dan AIDS. Mendiskusikan secara terbuka permasalahan yang sering dialami remaja tentang masalah perilaku seksual. Kepada orang tua, guru, teman maupun orang yang mengerti tentang HIV dan AIDS. Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang dan jarum suntik, tato serta tindik. Tidak melakukan kontak langsung percampuran darah dengan orang yang sudah terpapar HIV. Kemudian menghindari perilaku yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab. (Muadz, 2008)
2.3.8. Pemeriksaan/Test HIV dan AIDS
Tes HIV adalah tes yang dilakukan untuk memastikan apakah individu yang bersangkutan telah dinyatakan terinfeksi HIV atau tidak. Tes HIV berfungsi untuk mengetahui adanya antibodi terhadap terhadap HIV atau mengetes adanya antigen HIV dalam darah. Beberapa jenis tes yang biasa dilakukan di antaranya yaitu: tes Elisa, Rapid test dan tes Western Blot. (Muadz, 2008)
Syarat dan prosedur tes darah HIV dan AIDS adalah bersifat rahasia, harus dengan konseling yang baik pada pra tes maupun pasca tes, dan tidak ada unsur paksaan (harus bersifat sukarela). (BKKBN, 2008)
Prosedur pemeriksaan darah untuk HIV dan AIDS meliputi beberapa tahapan yaitu:
2.3.8.1.   Pre tes konseling
Identifikasi risiko perilaku seksual (pengukuran tingkat risiko perilaku). Memberikan informasi HIV dan AIDS dengan jelas. Menjelaskan arti hasil tes yaitu positif dan negatif. Seseorang dapat secara bebas menentukan apakah ingin melaksanakan tes atau tidak. Tes HIV baru bisa dilakukan jika sudah ada pernyataan tertulis (Informed Consent) dari orang yang akan di tes. Pernyataan itu dibuat pada pertemuan konseling pre tes setelah dijelaskan prosedur dan dampak atau konsekuensi hasil tes. (Harahap, 2000)
2.3.8.2.   Tes darah Elisa
Jika hasil tes Elisa (-) maka kembali melakukan konseling untuk penataan perilaku seks yang lebih aman. Pemeriksaan di ulang kembali dalam waktu 3-6 bulan berikutnya. Namun jika hasil tes Elisa (+), konfirmasikan dengan cara Western Blot. (BKKBN, 2008)
2.3.8.3.   Tes Western Blot
Jika ditemukan hasil tes Western Blot (+), maka segera melaporkan ke dinas kesehatan (dalam keadaan tanpa nama). Selanjutnya melakukan konselingpasca tes dan pendampingan  (untuk menghindari emosi dari rasa putus asa dan keinginan untuk bunuh diri ). Namun jika hasil Western Blot (-) maka artinya sama dengan Elisa (-)
2.3.8.4.   Konseling pasca-test bila ternyata hasil tes positif. (BKKBN, 2008)
2.3.9. Pengobatan HIV dan AIDS
Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang memungkinkan seseorang sembuh dari infeksi virus HIV. Tetapi pengobatan ini hanya mampu untuk menghambat pertumbuhan virus HIV, yaitu dengan:
2.3.9.1.   Obat-obat anti HIV ARV, yang menghambat enzim reverse transcriptase dan tampaknya efektif untuk menurunkan jumlah infeksi yang diidap pasien AIDS
2.3.9.2.   Pendidikan untuk menghindari alkohol dan obat-obatan serta merokok
2.3.9.3.   Menghindari infeksi lain, karena infeksi tersebut dapat mengaktifkan sel T dan dapat mempercepat replikasi HIV
2.3.9.4.   Terapi untuk kanker dan infeksi spesifik apabila penyakit-penyakit tersebut muncul. (Gunadarma, 2010)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar