Selasa, Mei 29

Vitamin K


2.1.Definisi Vitamin K
Vitamin K adalah vitamin yang larut dalam lemak, merupakan suatu naftokuinon yang berperan dalam modifikasi dan aktivasi beberapa protein  yang berperan dalam pembekuan darah, seperti protrombin atau faktor II,VII,IX,X dan antikoagulan protein C dan S, serta beberapa protein lain seperti Z dan M yang belum banyak diketahui perannya dalam pembekuan darah.
Penyerapan vitamin K memerlukan penyerapan lemak yang normal. Malabsorbsi lemak merupakan penyebab paling sering timbulnya defisiensi vitamin K. derivat vitamin K dalam bentuk alami hanya diserap bila ada garam-garam empedu, seperti lipid lainnya, dan didistribusikan dalam aliran darah lewat system limfatik dalam kilomikron. Menadion, yang larut dalam air, diserap bahkan dalam keadaan tanpa adanya garam-garam empedu, dengan melintas langsung ke dalam vena porta hati.
Vitamin K ternyata terlibat dalam pemeliharaan kadar normal faktor pembekuan darah II, VII, IX dan X, yang semuanya disintesis di dalam hati mula-mula sebagai precurcor inaktif.
Vitamin K bekerja sebagai kofaktor enzim karboksilase yang membentu residu γ – karboksiglutamat dalam protein precursor. Reaksi karboksilase yang tergantung vitamin K terjadi dalam retikulum endoplasmic banyak jaringan dan memerlukan oksigen molekuler, karbondioksida serta hidrokuinon ( tereduksi ) vitamin K dan di dalam siklus ini, produk 2,3 epoksida dari reaksi karboksilase diubah oleh enzim 2,3 epoksida reduktase menjadi bentuk kuinon vitamin K dengan menggunakan zat pereduksi ditiol yang masih belum teridentifikasi. Reduksi selanjutnya bentuk kuinon menjadi hidrokuinon oleh NADH melengkapi siklus vitamin K untuk menghasilkan kembali bentuk aktif vitamin tersebut. (http://arwinlim.blogspot.com/2007/10/v-i-t-m-i-n.html).

2.2.Macam-macam Vitamin K
Ada tiga bentuk vitamin K yang diketahui :
2.2.1.      Vitamin K1 (Phytomenadione), terdapat pada sayuran hijau. Jenis vitamin ini yang dibutuhkan, bukan K2 dan K3.
2.2.2.      Vitamin K2 (Menaquinone) disintesa oleh flora usus normal seperti Bacteriodes fragilis dan beberapa Strain E. Coli.
2.2.3.      Vitamin K3 (Menadione) merupakan vitamin K sintetik yang sekarang sudah tidak boleh diberikan lagi pada bayi baru lahir karena dilaporkan bisa menyebabkan anemia hemolitik.
Secara fisiologis kadar faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin K dalam tali pusat sekitar 50 % dan akan menurun dengan cepat mencapai titik terendah dalam 48-72 jam setelah kelahiran. Kemudian kadar faktor ini akan bertambah secara perlahan selama beberapa minggu tetapi tetap berada di bawah kadar orang dewasa. Peningkatan ini disebabkan oleh absorpsi vitamin K dari makanan. Sedangkan bayi baru lahir relatif kekurangan vitamin K karena berbagai alasan, antara lain simpanan vitamin K yang rendah pada waktu lahir, sedikitnya perpindahan vitamin K melalui plasenta, rendahnya kadar vitamin K pada ASI dan sterilitas saluran cerna.

2.3.Manfaat Vitamin K
Vitamin K penting untuk mempertahankan mekanisme pembekuan darah yang normal pada bayi yang baru lahir, karena usus yang masih steril. Bayi belum mampu membentuk vitamin K-nya sendiri untuk beberapa hari pertama, begitu juga bagi bayi yang mendapatkan ASI secara ekslusif juga beresiko mengalami kekurangan vitamin K. Fakta menunjukkan cukup banyak bayi baru lahir mengalami perdarahan terutama di otak dan saluran cerna, oleh karena itu bayi perlu diberi vitamin K sebagai tindakan pencegahan terhadap perdarahan.
Pada bayi baru lahir, kadar vitamin K sedikit rendah karena pembentukan vitamin K berlangsung di dalam usus, butuh garam asam empedu atau empedunya sendiri untuk memproduksinya, sedangkan tubuh bayi masih belum dapat bekerja dengan sempurna dan maksimal, sementara vitamin K penting untuk pembekuan darah. (Steven, 2005).

2.4.Faktor-faktor yang mempengaruhi Pemberian Vitamin K
2.4.1.      Bayi Baru Lahir
Neonatus ialah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstrautern. Beralih dari ketergantungan mutlak pada ibu menuju kemandirian fisiologi.
Tiga faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi dan proses vital neonatus yaitu maturasi, adaptasi dan toleransi. Selain itu pengaruh kehamilan dan proses persalinan mempunyai peranan penting dalam morbiditas dan mortalitas bayi.
Empat aspek transisi pada bayi baru lahir yang paling dramatic dan cepat berlangsung adalah pada sistem pernapasan, sirkulasi, kemampuan menghasilkan sumber glukosa
2.4.2.      Umur Bayi
2.4.3.      Ketersediaan Vitamin K atau Sarana BPS
2.4.4.      Pengetahuan Bidan
Pengetahuan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Misalnya memberikan Vitamin K1 Pada Bayi Baru Lahir untuk mencegah terjadinya perdarahan. Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika berpendidikan tinggi. ( Sintya.Wordpress.com, 07-04-2008 ).
Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang dimana seseorang yang tergolong pendidikan tinggi lebih sedikit dibandingkan dengan seseorang yang memiliki pendidikan rendah. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya dan semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka semakin rendah pula tingkat pengetahuannya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan Bidan cukup atau kurang, tidak mempengaruhi dalam pemberian Vitamin K pada Bayi Baru Lahir. (ridwanamiruddin.wordpress.com, 07-04-2008). 

2.4.5.      Cara Pemberian Vitamin K
Ada dua cara pemberian vitamin K pada bayi baru lahir, yaitu :
2.4.5.1.      Injeksi Intramuskular
                           American Academy of Pediatricians (AAP) tahun 2003 merekomendasikan bahwa vitamin K harus diberikan pada semua bayi baru lahir secara IM dengan dosis 0,5-1 mg. Canadian Pediatric Society tahun 1997 juga merekomendasikan pemberian vitamin K secara IM. Metode ini lebih disukai di Amerika Utara karena efikasi dan tingkat kepatuhan yang tinggi.
Cara pemberian vitamin K secara IM lebih disukai dengan alasan berikut ini :
1.      Absorpsi vitamin K1 oral tidak sebaik vitamin K1 IM, terutama pada bayi yang menderita diare.
2.      Beberapa dosis vitamin K1 oral diperlukan selama beberapa minggu. Sebagai konsekuensinya, tingkat kepatuhan orangtua pasien merupakan suatu masalah sendiri.
3.      mungkin terdapat asupan vitamin K1 oral yang tidak adekuat karena absorpsinya atau adanya regurgitasi.
4.      Efektivitas vitamin K1 oral belum diakui secara penuh.
Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin K1 secara injeksi 1 mg intramuskuler di paha kiri sesegera mungkin untuk mencegah perdarahan bayi baru lahirn akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir. (APN, 2007).
2.4.5.2.      Oral
American Academy of Pediatricians (AAP) juga menyatakan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efikasi, keamanan, bioavailabilitas dan dosis optimal vitamin K oral sediaan baru (KKM) untuk mencegah Protrombin Defisiensi Vitamin K (PDVK) lambat. Cara pemberian oral merupakan alternatif pada kasus-kasus bila orangtua pasien menolak cara pemberian IM untuk melindungi bayi mereka dari nyeri karena injeksi IM. Di samping itu untuk keamanan, bayi yang ditolong oleh dukun bayi, sebaiknya diberikan secara oral.
            Untuk mencegah terjadinya perdarahan, semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K1 peroral 1 mg/hari, sedangkan bayi resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 mg. (Saifudin, 2002).
            Pemberian vitamin K1 secara oral dengan ketentuan 2 mg apabila berat badan lahir lebih dari 2500 gram segera setelah lahir dan diulangi dengan dosis yang sama (2 mg) pada hari keempat. Bila berat badan lahir kurang dari 2500 gram, dosis yang dianjurkan adalah 1 mg dengan cara pemberian yang sama, yaitu hari pertama dan hari keempat setelah lahir.
2.5.Penyebab Defisiensi Vitamin K
Kekurangan vitamin K1 bisa mengakibatkan komplikasi perdarahan dalam otak sang bayi dengan angka kejadian sekitar 63 %. Gejala yang timbul bila terjadi perdarahan dalam otak adalah sakit kepala (menangis terus-menerus), muntah, ubun-ubun membonjol, pucat hingga kejang.
Defisiensi atau kekurangan vitamin K dapat menyebabkan terjadinya penyakit hemoragik pada bayi baru lahir. Hal ini disebabkan karena plasenta tidak meneruskan vitamin K secara efisien.
Vitamin K tersebar luas dalam jaringan tanaman dan hewan yang digunakan sebagai bahan makanan dan produksi vitamin K oleh mikroflora intestinal pada hakekatnya menjamin tidak terjadinya defisiensi vitamin K.
Defisiensi vitamin K dapat terjadi oleh malabsorbsi lemak yang mungkin menyertai disfungsi pancreas, penyakit biliaris, atrofi mukosa intestinal atau penyebab steatore lainnya. Di samping itu, sterilisasi usus besar oleh antibiotik juga dapat mengakibatkan defisiensi vitamin K. (http://arwinlim.blogspot.com/2007/10/v-i-t-m-i-n.html).
Ternyata menurut penelitian Protrombin Defisiensi Vitamin K (PDVK) bisa diakibatkan antara lain :
2.5.1.      Ibu yang selama kehamilannya mengkonsumsi obat-obatan /jamu/ produk herbal yang bisa mengganggu metabolisme vitamin K, seperti obat antikoagulan oral (warfarin). Obat-obat anti kejang (fenobarbital, fenitoin, karbamazepin). Obat-obat anti tuberkulosis (INH, Rifampicin). Untuk herbal/jamu belum diperoleh datanya, tetapi hal tersebut bukan berarti tidak ada.
2.5.2.      Tidak bisa dilupakan juga adalah sintesa vitamin K yang kurang oleh bakteri usus, misalnya pada bayi-bayi yang sering menggunakan antibotik, khususnya pada bayi lahir prematur, bayi yang mengalami gangguan fungsi hati dan bayi yang kurang asupan vitamin K. Begitu juga dengan bayi-bayi yang menderita sindrom malabsorpsi dan diare kronik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar